
"Emangnya apa yang terjadi sama kalian, terus kenapa kalian bisa menjadi pengemis yang meminta-minta di lampu merah?" tanya Arya penasaran.
"Kami terpaksa om melakukan itu, kami juga tidak mau kok menjadi pengemis, semua terjadi karena kami korban penculikan, mereka menculik kami dan memaksa kami untuk menjadi pengemis dan menyetorkan uangnya kepada mereka," jawab Ridwan menjelaskan
"Apaa!! jadi kabar tentang di lampu merah itu tempat para penculik anak beraksi, itu benar? tapi kenapa saya tidak bisa melihat para pengawas itu?!" tanya Arya lagi tak percaya.
"Tentu saja om tidak melihat mereka karena Bosnya sedang tidak ada di tempat, bosnya sedang pulang kampung jadi anak buahnya yang pengawasin bermalas-malasan dan ini suatu keuntungan sendiri buat kami, dengan begitu kami bisa kabur dari mereka," jawab Ridwan lagi menjelaskan.
"Ada berapa jumlah anak yang mereka sekap?" tanya Arya lagi.
"Untuk saat ini masih ada sekitar sebelas anak, di kurangin kami yang berhasil lolos jadi tinggal sembilan anak lagi yang ada di markas saat ini," jawab Ridwa.
"Apa maksudnya dengan saat ini! memang kemana yang lain?" Arya penasaran.
"Ya,, karena setiap kali bang barong pulang kampung, pasti saat dia kembali akan ada anak baru ikut datang bersamanya, contohnya tahun lalu dia datang membawa Kasih! iya kan Kasih?" tanya Ridwan minta pendapat.
"I-iya b-benar," jawab Kasih gugup takut.
"Jadi kalian ini bukan adik kakak kandung? tadi saya pikir kalian itu saudara, ya ampun terkecoh saya," Arya tertawa kecil karena mengetahui kalo dugaannya salah tentang hubungan Ridwan dan Kasih.
Ridwan menceritakan semua kejadiannya saat pertama kali ia di culik dulu sampai di kurung selama setahun dan akhirnya temannya Ciko punya rencana untuk melarikan diri dari markas tapi gagal malah di tangkap dan akhirnya kehilangan nyawa, ini membuat Ridwan terpukul di tambah ia juga kehilangan teman wanitanya yang hilng tak di ketahui penyebabnya.
Flasback on dua tahun yang lalu.
__ADS_1
Suatu pagi di rumah Ridwan.
"Ridwan ayo bangun, Nak udah waktunya untuk sarapan udah hampir siang nih kamu bisa telat masuk sekolah nanti, ini kan hari pertama!" panggil mamanya Ridwan.
Ridwan adalah putra tunggal dari pasangan suami istri yang kaya raya, usahanya di bidang mebel sangatlah sukses hingga mempunyai beberapa cabang di jakarta, dan ayahnya sendiri yang me gawasin mebel yang ada di jakarta sedangkan mamahnya megang yang ada di kampung.
Setiap tahun saat libur lebaran ayah Ridwan selalu kembali ke kampung untuk kumpul bersama keluarganya dan setelah liburan usai ia kembali lagi ke jakarta untuk melanjutkan bisnisnya.
Hari ini kebetulan sekali tepat ayahnya Ridwan kembali kejakata saat pertama Ridwan masuk sekolah setelah liburan kenaikan kelas setiap tahunntnya, sebelum berangkat, ayahnya Ridwan ingin menyempatkan waktu untuk mengantar putranya kesekolah tapi di tolak oleh Ridwan karena ia ingin betangkat sendiri dengan temannya.
Setelah mendengar suara mamahnya memanggil Ridwan segera keluar dari kamarnya sudah rapih dengan seragam barunya, begitu juga dengan ayahnya Ridwa yang sudah siap dengan koper besarnya, siap untuk berangkat ke jakarta untuk urasan mebelnya.
"Ridwan pagi ini, ayah antar kamu dulu ya kesekolah sebelum ayah berangkat ke jakata!" kata ayahnya saat di meja makan.
"Iya tuh Ridwan, mumpung ayah belum berangkat nanti kalo ayah udah berangkat paling, mamah lagi kan yang antar jemput," kata mamah mendukung niat ayahnya.
Ayah dan mamahnya Ridwan saling pandang ada perasaan berat dalam benak mereka untuk melepaskan putra semata wayangnya itu untuk berangkat sekolah tanpa pengawasan orang tua.
"Tapi, Nak kamu kan tetap masih harus di dampingin mamah belum berani ngijinin kamu berangkat sendiri, mamah khawatir, sayang!" uncap mamahnya Ridwan penuh kecemasan.
Ridwan merasa kecewa dengan keputusan kekeh manahnya yang tidak mau mengijinkan putranya berangkat sendiri bersama teman-teman sebayanya.
Pembicaraan terhenti sejenak karena sudah mulai siang mereka lanjut sarapan dulu sebelum akhirnya memutuskab kembali boleh atau tidaknya Ridwan berangkat sendiri, sedangkan Ridwan hanya diam membisu dalam hatinya begitu sedih dan kecewa ia sungguh berharap kalo kedua orang tuanya memberi ijin.
__ADS_1
"Ridwan kenapa makanannyq belum juga di sentuh? sudah mulai siang lohh, kamu tidak takut telat ini kan hari pertama kamu sekolah, ayo cepat habiskan biar ayah yang akan mengantar kamu!" perintah mamahnya melihat piring nasi Ridwan masih utuh belum tersentuh.
Ridwan diam tak berkata sepata kata pun ia hanya makan sedikit nasinya, ayah yang memperhatikannya merasa iba dengan sikap putra yang begitu amat sangat berangkat sendiri.
"Biarin mah! ijinkan Ridwan berangkat sendiri kesekolah ya, kita percayakan semuanya kepada putra kita kalo ia bisa jaga diri!" nasihat ayah meyakinkan istrinya.
"Tapi Yah!!" mamahnya Ridwan ragu.
"Mah percaya sama ayah semua akan baik-baik saja," tegas ayah sekali lagi.
"Hufft!! ya sudah lah jika memang ayah sudah berkata demikian mamah bisa bicara apa lagi, oke Ridwan kamu boleh betangkat dengan teman-teman kamu tapi ingget pesan mamah ya, begitu jam pulang sekolah kamu harus segera kembali ke kerumah tidak boleh main atau mampir kemana-mana!" pesan mamah Ridwan menasehati.
"Asyiikkk, baik mah Ridwan akan selalu inggat pesan mamah dan Ridwan juga janji akan segera pulang kerumah kalo sudah waktunya," seru Ridwan senang.
Simpul senyum di bibirnya begitu lebar setelah tadi ia menekuk bibirnya karena kecewa dengan dengan sikap mamahnya yang selalu mengawasinnya.
Ridwa bersiap akan berangkat sekolah sebelum itu ia psmit sambil mencium tangan kedua orang tuanya, saat Ridwan akan mrncium tangan mamahnya, ia kembali di nasehati.
"Mah! Ridwan pamit dulu ya, berangkat sekolah assalamualaikum!" salam Ridwan pamit.
"Waalaikumsalam, iya hati-hati kalo berangkat sekolah ya, inget pesan mamah, dan satu lagi mamah pesan jangan pernah mau di ajak bicara sama orang asing yang tidak di kenal, karena kita tidak tahu kan dia orang baik atau jahat dan...," uncapan mamahnya terhenti saat terdengar suara ayah yang memotong.
"Mah, udah siang kalo begini bisa-bisa Ridwan telat kesekolahnya, masa di hari pertama sekolah udah telat kan gak lucu," uncap ayah menyelah omongan mamah.
__ADS_1
"Iihh!! apa sihh ayah ini kan mamah bener mau menasehati dulu agar putra kita lebih hati-hati lagi," kata mamah kesal.
Ayah mengeleng-geleng kepala dengan sifat istrinya yang super pisesif itu, sambil tertawa ringan ayah mengandeng tangan Ridwan keluar mengantarnya untuk segera berangkat sebelum terlambat.