Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 38.


__ADS_3

Keesokan harinya pagi-pagi sekali Arya pulang kerumah untuk melihat keadaan Kasih dulu, atas permintaan dari Ridwan yang sudah siuman saat tadi habis subuh tepatnya saat azdan subuh betkumandang.


Flash back on.


"K-Kasih!!" suara Ridwan serak.


"Ridwan kamu sudah sadar, Nak? gimana keadaan kamu?" tanya Arya yang sedang menunggu Ridwan di ruangan.


"*Aku baik om! Kasih! dimana Kasih," jawab Ridwan menanyakan Kasih.


"Kasih baik-baik saja di rumah bersama mba Dewi, kamu gak usah khawatirin keaadaan Kasih dulu pulihkan dulu keadaan kamu," jawab Arya.


"Aku udah baikan kok om! gak usah khwatir terus teman-teman yang lain gimana? apakah rencana kita berhasil?" tanya Ridwan lagi.


"Berkat kamu, semuanya rencana kita berhasil semua anak-anak yang di sekap udah berhasil di selamatkan dan para penjahat juga sudah berhasil di tangka semua berkat perjuangan kamu, nak!" uncap Arya bangga.


"Alhamdulilah kalo begitu mah, semua bukan karena saya tapi karena pertolongan dari Allah yang memang mengijinkan mereka untuk selamat," Ridwan merendah.


Arya hanya tersenyum mendengar uncapan dari Ridwan yang walaupun usianya masih sangat muda tapi sudah sanggat dewasa pemikirannya dan rasa jiwa penolongnya, Arya memanggil Dokter untuk melihat keadaan Ridwan.


Dokter mengatakan semalam saat Arya sedang berada di musolah ada seoran wanita kaya yang bersedia mendonorkan darahnya untuk Ridwan, karena kebetulan stok rumah sakit habis sebelum ada Ridwan sudah terlebih dulu ada pasien masuk yang juga membutuhkan donor dara dengan tipe darah yang sama.


Dan kebetulan saat pihak rumah sakit mengumumkan tetang kabar ini ada seorang ibu yang datang betkunjung dan memiliki golongan darah yang sama lalu dengan duka rela mau mendonorkannya untuk Ridwan, dan masih tertidur di ruang rawat inap.


Arya belum bertemu dengan sosok wanita penolong itu yang sudah membantu kesembuhan Ridwan rencana baru mau nanti siang dia bettemu dan menguncapkan terima kasih secara pribadi.


"Gimana, Dok keadaan Adik saya?" tanya Arya saat dokter selesai memeriksa.

__ADS_1


"Hmm adik, anda sudah baik-baik saja kok hanya tinggal istirahat dulu yang banyak untuk pemulihan tenaganya," jawab Dokter.


"Oh syukurlah kalo begitu, oh iya dokter apakah seorang ibu yang mendonorkan darah untuk adik saya masih disini?" tanya Arya lagi.


"Iya beliau masih istirahat di ruang pasien karena darahnya, cukup banyak juga kemarin yang di donorkannya, kalo tidak ada yang di perlukan lagi atau di tanyakan saya mau permisi dulu karena masih banyak pasien yang berdatangan," jawab dokter pamit untuk pergi.


"Oh baik dokter terimakasih, nanti saya akan menemui pendonor itu untuk berterimakasih langsung, oh iya silakan kalo dokter masih banyak tugas sekali lagi terimakasih," uncap Arya senang.


"Itu sudah jadi kewajiban saya untuk menyelamatkan nyawa pasien saya," kata dokter berlalu pergi.


Kini cuma ada Arya dan Ridwan yang ada dalam ruangannya sekitar lima belas menit dokter pergi, petugas dapur datang membawa sarapan untuk Ridwan, lebih tepatnya lagi membagikan jatah sarapan untuk setiap pasien rawat inap, Arya membantu Ridwan untuk sarapan dulu.


"Om, maukan setelah ini om pulang dulu ke rumah, lihat keadaan Kasih! aku takut kalo dia akan khawatir nanti," pibta Ridwan.


"Ohh iya! om akan pulan tapi setelah menyuapi kamu makan ya, lalu kamu juga harus minum obat dulu!" Arya menyetujui permintaan Ridwan*.


Flash back off.


Tok! Tok! tok.


Suara pintu di ketuk, menunggu sebentar saat Arya hendak mengulangi ketukannya lagi tiba-tiba.


Cekrek!!


Suara pintu di buka dan muncullah Kasih dengan wajah yang sanggat lesuh dengan air mata dan mata sedikit sembab, seperti tidak tidur semalam.


"Om!! di mana kak Ridwan? kenapa om pulang sendirian kak Ridwan baik-baik saja kan?" tanya Kasih langsung betjekiling matanya mencari sosok Ridwan, bahkan tak memberi kesempatan Arya untuk menguncap salam.

__ADS_1


"Kasih, tenang dulu ya kak Ridwan baik-baik saja, sekarang kita masuk dulu sarapan pasti Kasih belum sarapan kan dan juga pasti belum mandi?!" tanya Arya membujuk Kasih masuk sambil mengendongnya.


"Gak mau! Kasih maunya kak Ridwan, Kasih gak mau makan maunya kak Ridwan!!" Kasih terus berontak dari pelukan Arya.


"Mas dari semalam Kasih terus manggil-manggil kakaknya dan tidak mau tidur cuma duduk di sofa dan terus menunggu kalian pulang," ujar Dewi menjelaskan.


"Ohh gitu, yaudah kalo Kasih mau bertemu kak Ridwan sekarang Kasih harus makan dulu lalu mandi dan kita siap-siap bertemu kakak deh!" bujuk Arya.


"Wah beneran om, mau ajak Kasih ketemu kakak, asyikkk!!" seru Kasih girang.


Setelah bethasil membujuk Kasih Arya menyuapi Kasih terlebih dulu, ia menyerahkan bungkusan sarapan yang ia beli tadi di jalan untuk mba Dewi dan menyuruhnya untuk sarapan dulu sebelum pulang kerumah kerana hari ini sudah habis masa kontraknya Mba Dewi di rumah Arya.


Kasih makan Dengan lahapnya betusaha sanggat untuk segera menghabiskan sarapannya dan segera menemui Ridwan yang masih terbaring di rumah sakit, sesekali Kasih ingin menyudahi sarapannya tidak mau di habiskan tapu Arya selalu punya cara untuk membuat Kasih makan lebih banyak lagi hingga akhirnya sarapannya pun habis tak tersisah.


"Nah horee, sudah habis makanannya kan enak kalo kita makan yang banyak, tubuh akan terasa sehat dan kuat," kata Arya bangga.


"Ayo om! kita ke tempat kakak! aku udah gak sabar ingin lihat kakak!" ajak Kasih lagi tidak sabaran.


"Iya sabar sebentar lagi, om mau mandi dulu dan ganti pakaian begitu pun dengan Kasih mandi dulu biar wangi baru kita pergi ke tempat kakak bersama-sama oke!" bujuk Arya lagi.


"Hmm baik deh aku mandi dulu, biar wanggi dan saat ketemu kak Ridwan tidak bau!" seru Kasih semanggat.


"Nah gitu dong! Mba Dewi! tolong mandiin Kasih dulu sebentar ya sebelum kamu pulang, saya belum bisa soalnya mandiin Kasih!" pinta Arya.


"Baik Mas, yuk Kasih ikut mba kita mandi dulu!" suara Dewi lembut membuat Kasih merasa nyaman bersamanya.


Setelah setahun lamanya Kasih hidup dalam kekerasan di bawah pengawasan barong yang memperlakukannya seperti tawanan, kini berkat keberanian dari Ridwan, Kasih bisa merasakan kebebasan, dan harapan untuk bisa bertemu dengan keluarga kandungnya hadir kembali walau sempat hilang sebelumnya.

__ADS_1


Kasih mandi bersama Dewi dengan kecerian karena ingin bertemu dengan Ridwan kakak yang ia temukan dimasa ia sulit seorang pria asing yang menolongnya dan kini sudah seperti keluarga baginya begitu sanggat berharga.


Sehingga membuat Kasih takut kalo sampai kehilangan Ridwan, karena ia tak mau sampai terluka untuk yang kefua kalinya.


__ADS_2