
"Bu Marni apa yang terjadi sama Ciko? dia seperti sedang kesakitan banget, bu gimana tolong ciko bu Ku mohon!" Mira panik dengan kondisi ciko saat ini.
"Iya iya Mira tenang dulu jangan panik sebentar ibu akan psnggil dokter yang bertugas," kata bu Marni menenangkan.
"Iya bu cepat panggil Ciko pasti akan sangat kesakitan disana," pinta Mira.
Bu Marni menekan tombol darurat yang ada di sekitar ruangan IGD, dan saat menekannya terdengar suara seperti lonceng yang mengema di seluruh ruangan rumah sakit dengan segera para petugas medis pun datang menghampiri bu marni dan mira.
"Ada apa bu? apa yang tarjadi?" tanya dokter yang datang betsama beberapa perawat.
"Itu dokter pasien mengalami kejang kejang sedari tadi bagaimana ini?" jawab bu marni panik.
"Oh ya ibu tenang saja saya akan atasi semuanya, ayo suster kita masuk," dokter dan para perawatpun masuk kedalam untuk melihat kondisi Ciko disana.
Mira menunggu dengan sangat cemas di luar ruangan sungguh pemandangan yang sangat menakutkan baginya saat melihat Ciko seperti tadi.
"Bu... bagaimana ini kalo terjadi sesuatu sama ciko apa yang harus aku lakukan, huhuhu!" isak tangis Mira bingung.
"Udah Mira sabar saja dulu, kita serahin semuanya kepada dokter ya, dan jangan lupa untuk selalu mendoakan untuk keselamatan Ciko," nasehat bu Marni.
Sekita tiga puluh menit dokter pun keluar dari ruangan bersama para perawat yang terus siaga di belakang dokter, mira dan bu marni yang melihat dokter segera menghampirinya untuk mengetahui keadaan dari Ciko sahabatnya.
"Dokter, bagaimana keadaa teman saya apa iya baik baik saja?" tanya mira saat dokter keluar.
__ADS_1
"Hmm iya dia baik baik saja kok kamu tidak perlu khawatir teman kamu pasti akan sembuh kok, yasudah kalo gitu saya permisi dulu ya biarkan pasien istirahat dulu jangan di ganggu!" pesan dokter berlalu.
Sebenarnya ada satu hal yang sedang di sembunyikan oleh dokter yang tidak ingin di ketahui oleh Mira, jadi dia memutuskan untuk bicara dengan dokter Ryan, yang sudah menyerahkan tanggung jawab Ciko pada dirinya sepenuhnya.
"Suster, sebenarnya siapa orang yang sudah mengobati Anak tadi, dan bertanggung jawab untuk segala urusannya?" tanya dokter Toni.
"Yang merawatnya semalam adalah dokter Ryan, Dok! karena anak itu datangnya saat malam hari di antar oleh ketua RT dan kebetulan sedang ada dokter Ryan yang jaga jadi semua tanggung jawabnya di serahkan kepada dokter Ryan," jawab Suster menjelaskan.
"Oh jadi begitu dokter muda itu masih menerima shift malam ya, padahal siang harinya dia juga bekerja dan kapan waktunya untuk beristirahat," puji dokter Toni kagum,"Baiklah kalo begitu biar aku hubungi Ryan sebab ada hal serius yang harus di bicarakan mengenai anak tadi," sambung dokter Toni.
Dokter Toni pun langsung mengambil hapenya dan segera menelpon Dokter Ryan, sekitar lima menit menunggu panggilannya pun tersambung.
Titt... tiittt...
"Hallo Assalamuakaikum," salam dokter Toni.
"Iya dokter Ryan maaf kalo saya ganggu waktu istirahatnya ini ada hal penting yang bawa saya bicarakan mengenai anak kecil yang dokter Ryan tangani semalam," jawab Dokter Toni.
"Oh! iya ada apa dengan anak itu? semua baik baik saja kan?" Dokter Ryan mulai terdengar panik suaranya*.
"Tidak sampai saat ini, tadi anak itu sempat kejang dan saya sudah bethasil untuk menenangkannyq, cuma saya menemukan ada hal penting, lukanya cukup serius dan itu tidak bisa terus di biarkan di sini karena akan berakibat fatal nantinya," Kata dokter Toni menjelaskan.
"Iya memang lukanya sungguh sangat serius dan mungkin butuh waktu lama untuk menyembuhkannya hingga pulih, lalu solusi apa yang dokter Toni punya untuk keselamatan anak itu?" tanya Ryan.
__ADS_1
"Saya dengar Dokter Ryan punya kakak yang seorang akhil dalam mengatasi luka bakar dan juga luka dalam di luar negeri, saran saya sebaiknya anak itu di bawa kesana untuk di tangani supaya bisa di rawat dengan baik," jawab dokter Toni memberi saran.
Setelah Dokter Ryan dan Dokter Toni saling bertuker pendapat lewat hape, keputusan pun sudah di buat dan Dokter Ryan setuju untuk membawanya ke luar negeri untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik lagi, hari ini pun Ryan langsung mengurua keberangkatannya untuk segera pergi keluar negeri dan ia pun menyerahkan semua urusan kantornya ke Roy teman sekaligus asistennya.
Ryan adalah seorang pewaris tunggal seorang pengusaha sukses, ia di takdirkan untuk meneruskan usaha orang tuanya yang kini tinggal di kampung untuk menikmati masa tuanya, sebenarnya Ryan lebih ingin menjadi Dokter sedari kecil tapi ia juga tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, akhirnya Ryan pun memilih kedua jalan itu dengan mengatur waktu sebisanya.
"Hallo Roy bisa datang keruanganku!" pinta Ryan lewat telepon.
"Oke tunggu sebentar segera menuju lokasi," jawab Roy di seberang.
Roy pun segera menuju ruangan Ryan yang tidak terlaku jauh dari ruangan miliknya bekerja.
Tok! tok tok.
Suara pinti di ketuk Ryan sudah tahu jika itu adalah Roy, dan Ryan pun segera menyuruhnya untuk masuk karena ada hal penting yang ingin di bicarakan.
"Roy, aku butuh kamu untuk membelikan tiket untuk keluar negeri untuk Tiga orang ya, kalo bisa secepatnya dan untuk urusan kantor tolong di urus dulu untuk beberapa saat selama aku di luar negeri," perintah Ryan sebagai atasan di kantor.
"Oke siap laksanakaj, tapi ngomong ngomong kenapa mendadak ingin keluar negeri ada apa emangnya?" tanya Roy kepo.
"Ada tugas penting dari rumah sakit dan ini menyangkut nyawa orang dan tidak bisa di tunda lagi, jadi harus segera dan kebetulan yang bertanggung jawab untuk tugas ini dan keselamataj pasien ini adalah aku," jawab Ryan menjelaskan.
"Oh gitu oke siap saya akan atur jam keberangkatan untuk nanti sore dan untuk urusan kantor tidak uaah khawatir, saya akan handel semuanya," uncap Roy setuju.
__ADS_1
Setelah Roy setuju dan mengerti dengan apa yang di bilang oleh Ryan, dengan segera Ryan pun pulang kerumah untuk bersiap berangkat ke rumah sakit, rencananya dari situ Ryan akan menuju ke luar negeri membawa ciko untuk di obati di sana.
...