
Sepuluh Hari kemudian pagi hari di kediaman ibu, hari ini ibu baru mau mulai berjualan lagi seperti biasanya mengais rejeki untuk menyambut hidup untuk masa depan putrinya,i u yang kini menjadi orangtua tunggal harus bisa menafkahi dirinya dan juga untuk putrinya sekolah hingga lulus dan mendapat nilai yang terbaik.
Segala rintangan ibu tempuh tak perduli apa kata orang yang selalu iri dan tidak suka padanya di tambah kini ibu juga di jauhin oleh putrinya tapi ibu tak berkecil hati baginya senyum Nadia adalah yang terpenting dari segala-galanya.
"Nadia, bangun Nak udah pagi sini sarapan dulu sebelum kesekolah!" panggil ibu sambil menyiapkan sarapan.
Nadia yang di panggil menghampiri meja makan tanpa menjawab panggilan dari ibu, di hatinya masih ada kebencian yang sangat mendalam, tapi biarpun begitu ibu tidak masalah yang penting Nadia tetap tinggal bersamanya tidak pergi meninggalkan rumah.
"Ini susunya ya di minum mumpung masih hangat ibu, mau makan di belakang takut ganggu kamu disini, makan yang banyak ya nak, supaya kamu sehat selalu," kata ibu menyerahkan susuhnya Nadia lalu pergi lagi ke dapur.
Sejak Nadia bilang kalo dirinya tidak ingin makan semeja lagi dengan ibunya, sejak saat itu juga ibu mencoba jaga jarak dengan putrinya sebisa mungkin ingin membuat putrinya nyaman, dengan tidak terus memaksanya untuk memaafkan ibu.
"Ibu hanya berharap suatu saat nanti akan ada masanya kamu kembali menerima ibu, dan bisa memaafkan semua kehilafan ibu karena telah melukai hatimu," doa ibu dalam hatinya.
Ibu pergi dan duduk di meja dapur Nadia yang melihat itu hanya diem saja, ada perasaan tidak tega dalam hatinya tapi rasa benci dan sakit hatinya begitu besar mengalahkan rasa sayangnya pada ibunya, ia pun hanya melihat ibu dari kejauhan.
"Seandainya ibu tidak membiarkan ayah pergi meninggalkan kita! mungkin saat ini kita bisa makan semeja lagi kaya dulu bu, terlalu berat aku melepaskan kepergian ayah, apa lagi kepergian ayah di sebabkan karena ibu tidak mau memgajak ayah berobat," gumam Nadia.
Setelah sarapan selesai ibu merapikan meja makan dulu,dan mencuci piring kotor sebelum ibu berangkat keliling jualan pecel dan juga kue kue basah.
"Bu mana uang jajanku, aku mau berangkat sekolah!" pinta Nadia.
"Oh iya sebentar nak ibu ambilin uangnya," kata ibu masuk kedalam kamar.
"Ini nak uang kamu," kata ibu menyerahkan uang tiga lembar lima ribuan.
__ADS_1
"Loh kok segini sih bu? kurang nih tambahin lah! ini cuma cukup untuk ongkos saja lalu aki gak jajan disana?" tanya Nadia meminta kurangannya.
Memang biasanya ibu selalu memberikan uang sanggu sejumlah dua puluh lima ribu, tapi karena hari ini ibu baru berjualan dan kemarin uangnya yang ada udah buat modal jadi ibu terpaksa memberi uang kurang.
"Iya nak maaf ibu ngasihnya, segitu dulu soalnya kemarin uangnya udah buat modal ibu jualan, dan ibu juga kan belum berangkat dagangannya masih utuh kalo besok ibu bisa tambahin lagi," jawab ibu menjelaskan.
"Yaudah kalo gitu aku juga, sekolahnya besok ngapain sekarang uang segini mana cukup! lagian ngapain sih ibu pakai jualan segala cuma buang-buang uang saja," kata Nadia mengancam ibu.
Memang ibu paling tidak ingin jika anaknya putus sekolah karena cita-cita ibu ingin anaknya lulus dan berhasil dengan nilai tinggi jadi dengan atau bagaimana pun caranya ibu akan selalu berusaha untuk yang terbaik buat anaknya.
"Yadudah kamu tunggu dulu sebentar ibu akan cari pinjaman dulu siapa tahu ada yang mau minjamin," kata ibu.
"Ya sudah cepet sedikit, jangan lama-lama aku bisa telat nanti," ujar Nadia Ketus.
"*Semoga saja ibu puji bisa membantu saya memberikan pinjaman uang untuk ongkos Nadia, nanti setelah aku pulang jualan aku ganti uangnya," kata ibu berharap banyak.
Tok!tok!tok.
Sesampainya ibu di rumah bu Puji ibu langsung mengetuk pintunya yang masih tertutup, ibu menunggu cukup lama satu ketukan tak ada respon ibu kembali mengetuk pintunya sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, bu puji!" panggil ibu memberi salam dati luar.
"Waalaikumsalam, tunggu sebentar," sahut bu Puji menjawab salam ibu.
Cekrek...
__ADS_1
Pintu di buka dan sungguh beruntungnya ibu karena yang keluat ibu Pujinya langsung jadi ibu tidak perlu menunggu lama lagi untuk menyampaikan maksudnya.
"Ehh bu Ningsih, silakan masuk bu! kirain siapa maaf ya bukanya agak lama tadi habis nyiapin sarapan dulu, ada apa yang bu?" tanya bu puji ramah.
"Maaf ya bu puji saya ganggu ibu pagi-pagi gini, saya mau minta tolong sama ibu," jawab ibu tidak bercerita langsung.
"Oh iya tidak apa-apa bu Ningsih santai aja, emangnya butuh bantuan apa?" tanya bu puji lagi.
"Gini bu, Nadia mau kesekolah cuma ongkosnya kurang padahal udah saya kasih lima belas ribu emang sih biasa saya dua puluh lima ribu, tapi kerena uangnya udah saya pakai dulu buat modal, dan belum berangkat jualan," jawab ibu sambil bercerita.
"Ohh gitu, boleh emang mau pinjam uang berapa?" tanya bu Puji untuk yang kesekian kali.
"Saya mau pinjam dua puluh ribu saja, yang sepuluhnya untuk ongkos Nadia dan yang sepuluhnya lagi buat pegangannsaya,keliling takut di tengah-tengah jalan haus," jawab ibu panjang lebar.
"Oh yaudah sebentar saya ambilin dulu uangnya," uncap bu Puji lalu masuk ke kamar.
Bu puji merasa kasihan sama ibu yang hidup sebatang kara tanpa ada keluarganya, dan selama beberapa tahun lalu hanya hidup dengan keluarga kecilnya saja, cuma ayah yang mau menerima ibu apa adanya.
Kini ayah sudah tiada dan tak akan pernah kembali lagi kehidupan ibu akan sanggat menyedihkan lagi kedepannya karena ibu selain harus berperan sebagai ibu ia huja harus menjadi ayah bagi putrinya.
"Ibi bu Ningsih uangnya maaf ya nunggu lama tadi putri saya minta di ambilin sendok*," kata bu puji menyerahkan uang satu lembar seratus ribuan.
"Terimakasih bu atas bantuannya, nanti saya pulang jualan langsung mampir sini untuk menganti uang ibu Puji," uncap ibu. "Ehh kok uangnya banyak banget saya cuma butuh sepuluh ribu aja kok," sambung ibu baru sadar dengan yang yang dia terima.
Setelah menguncapkan salam ibu segera pamit karena takut Nadia menunggu lama dan khawatir kalo Nadia malah betubah pikiran tidak jadi sekolah.
__ADS_1