Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 63


__ADS_3

Seperginya Nadia kesekolah kini rumah benar-benar sepi hanya tinggal ibu seorang diri tanpa adanya ada, setelah ibu merapikan ruangan depan kini ibu beralih ke kamar pertama ibu merapikan Kamar ayah terlebih dulu, mengeluarkan baju-baju ayah dari dalam lemari dan berniat untuk menyumbangkannya kepada orang yang membutuhkan.


"Hhmm baju-baju ayah banyak sekali masih layak pakai juga, kalo di buang sayang di luar sana ada banyak yang mungkin membutuhkan pakaian ini, apa sebaiknya aku sumbangkan saja ke orang? tapi butuh bilang juga ke Nadia takutnya dia tidak terima dan tambah marah sama aku," gumam ibu sendirian sambil memandang baju ayah.


Ibu pun perlahan mengeluarkan pakaian-pakaian itu dari dalam lemari lalu menatanya di atas kasur terlebih dulu, lalu ibu mencari sebuah kardus untuk menatanya pakaian itu didalamnya agar terlihat rapih.


Sambil menata baju ibu sambil menitikan air matanya sungguh ibu tidak pernah menyangka akan tiba dimana masanya ia sendirian tanpa ada ayah di sisinya, akan kah ibu sanggup menjalani hidup ini tanpa ayah, lagi lagi ibu menanggis.


Tok!tok!tok!


Suara ketukan pintu dari luar menyadarkan lamunan ibu, segera ibu menghapus air matanya lalu pergi keluar untuk membukakan pintu untuk tamunya, entah siapa yang datang kali ini.


"Assalamualaikum, bu Ningsih ini saya!" suara dari luar memberi salam, suara yang tidak asing dan sepertinya ibu mengenalnya.


"Waalaikumsalam, iya tunggu sebentar saya sedang menuju kesana," sahut ibu mempercepat langkahnya.


Cekrek!!


Pintu pun telah di buka dan ternyata yang datang bu Puji dan bu Rt, dua orang yang selalu perduli pada ibu dan selalu ada di belakang ibu untuk memberikan semanggat serta dorongan untuk terus maju, tanpa,perduli dengan yang mereka bicarakan tentang ibu.


"Ehh bu Rt, dan bu Puji! pantes saya seperti kenal dengan suaranya mari silakan masuk!" sapa ibu ketika melihat siapa yang datang bertamu.


"Iya nih bu Ningsih maaf ya kalo saya pagi-pagi datang bertamu," kata bu Puji masuk ke dalam.


"Tidak apa-apa bu, silakam duduk! kebetulan saya juga sedang senggang hanya merapikan sedikit pakaian suami saya," ujar ibu menyuruh mereka duduk.


Ibu RT dan ibu Puji pun duduk di bangku tempat meja makan karena tadi saat ibu masuk ke dalam kedua orang tersebut mengikutinya dan akhirnya duduk di bangku itu, ibu menyiapkan teh hanggat untuk tamunya pagi ini.

__ADS_1


"Silakan diminum mumpung masih hanggat!" kata ibu menawarkan.


"Iya makasih bu,"


"Tapi ngomong-ngomong ada apa ya bu Rt, bu Puji pagi-pagi begini udah kerumah saya kok jadi khawatir?" tanya ibu takut.


"Hmm iya sampai lupa kan tujuan kita datang kesini, jadi gini bu Ningsih kita ada yang mau di sampaikan amanah dari para warga juga pengurus RT dan untuk lebih jelasnya lagi biar, ibu rt saja deh yang jelasin," jawab bu Puji.


Sluuurpp


Bu Rt menyeruput tehnya yang hangat sebelum membicarakan maksud kedatangannya, ibu menunggu sampai beliau selesai minum.


"Hmm tehnya enak hangat jadi seger deh, sebenarnya udah minum di rumah ehh masih kurang,makasih ya bu Ningsih suguhannya" uncap bu Rt senang.


Ibu hanya menjawab dengan sedikit anggukan kepalanya sambil tersenyum dan menpersilakan bu rt untuk melanjutkan uncapannya.


"Ini apa ya bu? kok saya jadi ngerepotin kalian semua ya jadinya?" tanya ibu bingung.


"Gak ada yang ngerepotin kok bu, semua itu pemberian warga yang iklas membantu ibu, ya jumlahnya memang tidak sama tapi insya Allah cukup untuk ibu dan Nadia beberapa hari kedepan," jawab bu rt lagi.


"Oh iya bu Ning, ngomong-ngomong Nadia kemana? aps masih mengurung diri di kamarnya?" tanya bu Puji.


"Ohh Nadia sudah berangkat sekolah tadi katanya kalo di rumah ia takut kalo teringgat ayahnya mulu dan malah tambah sedih nantinya," jawab ibu.


"Ohh gitu emangnya sudah baikan kondisinya! kemarin kan sanggat terpukul sekali !" tanya ibu Puji lagi.


"Insya Allah tidak, mudah-mudahhan Nadia kuat kok lagian itu juga kemauan Nadia sendiri bukan dari saya," jawab ibu.

__ADS_1


Setelah sekitar satu jam berbicara mereka para tamu ibu pamit pulang karena ada urusan lain yang belum di selesaikan yaitu beberes rumah masing-masing, karena amanat yang di titipkan bu Rt lebih penting akhitnya ia memutuskan untuk menyerahkannya dulu.


"Yasudah kalo gitu kita permisi dulu ya bu Ningsih, semoga bu Ningsih tetap di berikan kesehatan, dan semoga berkah titipan dari warga," pesan bu rt menasehati.


"Aminn makasih bu rt atas doa dan dukungannya," sahut ibu gembira.


Setelah menguncap salam mereka pun pergi meninggalkan ibu yang masih berdiri menatap punggung mereka dari belakang sungguh rejeki yabg tidak pernah terduga, di saat semua orang yang ada di sekitar ibu berusaha untuk menjatuhkan dan menjauhinya, masih beberapa yang masih sanggat perduli dan pethatian dengan keadaan ibu.


Setelah semua sudah jauh ibu kembali masuk dan tak lupa menutup pintunya, ibu kemudian lanjut lagi membereskan pakaian ayah, saat ibu sedang memilih pakaian yang masih layak pakai ibu merasa ngantuk karena semalam juga ia tidak tidur, ibu pun terlelap dalam tidurnya yang dengan posisi setengah duduk bersandar.


Dalam Mimpi ibu.


"*Ayah! ayahh tunggu ibu jangan pergi, kenapa ayah ninggalin ibu sendirian dan meninggalkan kebencian dalam hati Nadia untuk ibu, apa sayah ibu tolong jelaskan! ibu hanya ingin hidup bahagia bersama dengan ayah dan juga Nadia apa itu terlalu berat, ayahh,,, ayah,,,!!" ibu memangil manggil ayah dala mimpinya.


Sementara ayah hanya tersenyum sambil meneteskan air mata, dia melambai ke arah ibu tanpa mau bicara sepata katanya, semakin lama semakin jauh meninggalkan ibu seorang diri tanpa tujuan sama sekali.


"Ayahhhh,,,, jangannn pergiii ibu mohonnnn,,,, ayahhh!" teriak ibu terkejut lalu bangun dari tidurnya*.


"Astagfirllohalazim,,, rupanya aku bermimpi tadi ya Allah udah jam berapa ini, aku barus masak sebentar lagi Nadia pulang," gumam ibu melirik ke arah jam dinding.


Jam sudah menunjukan pukul 11.30 wib itu artinya sebentar lagi Nadia akan segera pulang dan ibu bergegas menuju dapur untuk memasak lauk seadanya sedang nasi sudah sedari tadi matang karena masaknya di majigcom, ibu mencari sayuran di kulkas hanya ada terong dan tahu akhirnya ibu pun memutuskan untuk memasak sambel goreng terong balado serta tahunya di goreng biasa saja.


"Hmm cuma ada terong dan tahu, Nadia kan suka bangey sama terong balado aku masakin itu aja deh sama ku gorengkan tahu saja, mudah-mudahan Nadia suka," ibu bermonolog sendiri.


Tanpa membuang waktu pun ibu segera masak semua bahan makanan yang ada di depannya untuk menyulapnya menjadi makanan yang siap di santap, pertama-tama ibu potongin terongnya lalu ibu goreng terongnya dan setelah itu ibu membuat bumbu baladonya setelah matang terongnya ibu menumis sambel baladonya hingga harum, lalu terongnya ibu masukan ke dalam bumbu di aduk sebentar biar rata tidak lupa di berikan bumbu pelengkap supaya ensk setelah menungu sesaat terong sambal baladonya pun matang dan siap untuk di sajikan.


Selanjutnya ibu mengoreng tahunya biasa saja hanya di beri bumbu penyedap saja supaya ada rasa asinnya, setelah srmuanya mateng ibu menaruhnya di atas meja, lalu ibu pun merapikan dapur yang berantakan setelsh ibu masak tadi, sambil menunggu Nadia pulang.

__ADS_1


__ADS_2