
Sampainya ibu di rumah ia segera menemui Nadia yang sedang menunggu di ruang tamu lalu segera memberikan uangnya kepada Nadia dan mem iarkannya untuk berabgkat.
"Assalamualaikum," salam ibu masuk rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Nadia.
"Ini nak uangnya, sekarang kamu bisa sekolah," kata ibu memberikan uang sepuluh ribuan ke Nadia.
"Lama banget sih bu! hampir aja tadi aku mau ganti baju gak jadi kesekolah, yaudah kalo gitu aku berangkat dulu, assalamualaikum," pamit Nadia hanya memberi salam engan mencium tangan ibunya.
"Maafin ibu karena lama tadi harus nunggu dulu, yaudah kamu hati-hati ya, waalaikumsalam," jawab ibu sedih karena Nadia tak lagi mau mencium tanggannya.
Ibu memandangi pungung Nadia dari belakang nampak secerca harapan dalam hati ibu kalo suatu saat Nadia bisa kembali seperti dulu lagi Nadia yang penuh kasih dan sayang Nadia yang pengertian, Nadia yang penurut dan baik hati.
"Semoga kamu menjadi anak yang pintar nak, lulus sekolah dengan nilai yang terbaik dan kanu bisa bikin ibu dan almarhum ayahmu bangga di alam sana, doa ibu selalu menyertaimu nak, semoga engkau jadi anak yang sukses," doa ibu mengiringi kepergian Nadia yang hendak menuntut ilmu.
Saat bayangan Nadia tak lagi terlihat oleh mata, ibu segera masuk ke dalam melanjutkan tugasnya yang tadi sempat tertunda karena harus mencari pinjaman dulu, setelah ibu selesai beberes ibu segera berangkat jualan mumpung masih pagi ibu tidak lupa mengunci pintu rumahnya karena tidak ada orang.
"Bismilahirromannirrohim, saya mau berangkat jualan mudah-mudah rejeki saya lancar hari ini,,,aminnn,,,," doa ibu sebelum berangkat jualan.
Dari rumah ibu menuntun sepedanya menunu jalan besae, karena rumah ibu masih masuk gang butuh sekitar 3 meter untuk sampai ke jalan besar.
"Pecelll,,, pecelll, pecelnya bu!" suara ibu menjajakan dagangannya.
__ADS_1
Saat ibu sedang lewat depan rumah kakak ipar kebetulan ibu bertemu dengan kakak iparnya yang sedang menjemuri pakaian, lalu dengan pandangan sinis ia menyapa ibu sambil menyindir.
"Ehh, Ningsih kamu udah mulai jualan lagi emang uang warisan dari suamimu udah habis ya?" tanya Sari.
"Iya nih mba udah sepuluh hari juga saya libur udah saatnya jualan lagi, warisan apa ya maksudnya mba?" jawab ibu balik tanya lagi.
"Ya warisan jangan pura-pura tidak tahu, kan suami kamu orang kaya banyak duitnya, dia udah gak ada ya otomatis kan semua jadi milik kamu, enak dong bisa poya poya dengan harta peninggalan suami," ejek Sari.
"Astagfirilloh, ya ampun mba kalo pun benar suami saya ninggalin harta untuk saya ya itu wajar lah kan saya istrinta saya punya anak dari dia, yah paling harta itu untuk masa depan putri saya, lalu kenapa mba yang repot ngurusin semua itu! atau jangan-jangan mba berharap kalo saya membagi hartanya sama mba?" hardik ibu mulai tersinggung.
Semenjak suaminya ibu meninggal dan tak seorangpun dari keluarga iparnya yang datang membantu sejak saat itulah ibu mulai berani dengan siapa saja yang mengusik hidupnya prinsip ibu, selama ibu tidak salah untuk apa ibu takut lagipula ibu sedang tidak numpang makan atay tinggal dengan iparnya atau siapapun, ibu tinggal dan makan bersama suaminya itu udah hak ibu, dan kini rumah peninggalan ayah di tempati ibu pun itu hak kedua putrinya sebagai keturunan dari suaminya.
"Iya enak dong, seharusnya tinggal di habisin aja, ngapain repot-repot jualan lagi," umpat Sari lagi.
"Bu Ningsih sini, saya mau beli pecelnya!" panggil bu Puji yang sedari tadi udah memperhatikan keributan itu.
"Eh iya bu Puji sebentar saya kesitu," sahut ibu. "Yasudah mba terserah mba deh mau bilang apa dan gimana saya gak akan menyerahkan rumah peninggalan suami saya walaupun mba menginginankannya dari dulu juga!" sambung ibu lalu meninggalkan Sari yang sedang terbakar emosi karena tidak menyangka jika ibu berani melawannya.
Ibu pergi meninggalkan Sari yang sedang emosi tidak terima karena di gituin sama ibu, ibu pun tidak oerduli dengan perasaannya iparnya yang memang sejak dulu mengincar rumah ayah yang ibu tempati, ibu berjanji akan selalu menjaga dan mempertahankan rumah itu untuk masa depan kedua putrinya, ibu menghampiri bu Puji yang sedang menunggunya.
"Bu Ningsih sini," panggil bu Puji menyuruh ibu masuk kerumahnya.
"Iya bu Puji," sahut ibu masuk kerumah.
__ADS_1
"Tunggu sebentar saya mau ambil piring dulu," kata bu puji begitu ibu di halaman rumahnya.
Ibu hanya menganguk mengiyakan bu Puji, ibu memarkir sepedanya tepat di depan rumah bu Puji, sambil menunggu bu Puji ibu duduk di bangku teras rumah bu Puji, tak berapa lama kemudian ibu puji sudah keluar sambil membawa dua piring dan satu mangkok kecil.
"Ini bu Ningsih saya beli dua porsi ya sepuluh ribuan tapi bumbunya di pisah soalnya nanti saudara saudara saya mau dateng dari kota," kata bu Puji memberikan piringnya.
"Iya bu tunggu saya buatin, campur semua kan," ibu segera menyiapkan pesanan ibu puji.
"Tadi mba Sari ngomongin apa bu Ning? kayanya serius banget sih, saya yang tadinya mau kerumah ibu Ning mau pesan pecel langsung jadi ga jadi karena lihat bu Ning dan mba Sari lagi ngobrol?" tanya bu Puji pesanaran.
"Ohh itu yah biasa bu Puji masalah rumah, bu Puji kan tahu sendiri sikap dia dari dulu," jawab ibu singkat.
"Ohh masih aja ngincer toh dia, kirain udah nyerah dan gak mau lagi ehh gak tahunya masih sama toh," ujar bu Puji tak menyangka.
Ibu cuma tersenyum ibu juga tidak pernah menduga kalo rumah ayah masih saja menjadi inceran ke tiga kakak iparnya, padahal dulu almarhum mertuanya bilang kalo semua sudah dapet rumah sama ukuran rumahnya dengan milik ayah, tapi tetap saja rumah itu di incer mereka.
Setelah selesai melayani bu Puji dan menerima bayarannya ibu segera berangkat keliling lagi, tadinya ibu menolsk untuk menerima bayaran dari bu puji karena ibu tadi meminjam uang dari bu puji, tapi bu puji bilang kalo baru berangkat jualan itu ora ilok kalo di utangin apa lagi baru penglaris, nanti kedepannya jualan ibu bakalan seret.
"Yasudah makasih bu Puji karena udah ngelarisin jualan saya kalo gitu saya pamit dulu mau keliling lagi," pamit ibu mendorong sepedanya lagi, karena masih dalam gang kecil.
Saat ibu sudah sampai jalan besar ibu langsung menaiki sepedanya dan mengayuhnya sepanjang jalan dari satu rumah kerumah lagi dan berhenti jika ada yang memanggil lalu lanjut lagi untuk menjadi pembeli lainnya.
Bersambung.
__ADS_1