Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 91


__ADS_3

"Bu Dimas boleh ikut sama ibu khan jualan keliling?" tanya Dimas.


"Hmm nanti kamu cape bagaimana? ibu gak mau ngerepotin kamu?" jawab ibu balik tanya.


"Gak kok, Dimas pasti kuat temenin ibu jualan dari pada ibu sendirian pasti bosen," jawab Dimas membujuk.


"Hmm oke deh tapi kalo kamu cape atau kelelahan bilang ibu ya biar kita bisa istirahat!" pinta ibu.


"Siap bu, pasti Dimas bilang kok, yuk kita berangkat!" ajak Dimas seneng.


"Yaudah yuk, kita berangkat kebenaren deh kita mampir ke rumah bu Rt dulu sebelum jualan!" kata ibu.


"Loh kok ke rumah bu RT emang mau ngapain bu? apa bu Rt ada pesan kue sama ibu?" tanya Dimas berjalan di belakang ibu.


"Bukan, cuma ibu ada perlu, kan kamu sekarang tinggal sama ibu, nah ibu harus lapor biar nanti saat ada apa apa bu RT tahu kalo kamu tuh tinggal sama ibu," kata ibu menjelaskan.


"Ohh gitu, yaudah yuk bu," Dimas pun akhirnya mengerti maksud ibu.


Saat ibu dan Dimas lewat depan rumah kakak iparnya lagi lagi ibu di cegat oleh sari iparnya yang paling usil dan kepo dengan setiap apapun urusan ibu.


"Ehh, Ningsih tunggu dulu! siapa tuh bocah yang ada di sebelah kamu?" panggil sari bertanya.


Ibu dan juga Dimas berhenti sejenak karena biarpun ibu tahu jika iparnya memanggil pasti itu artinya masalah tapi ibu juga harus tetap berhenti tidak boleh seenaknya aja main pergi.


"Oh ini Dimas mba, anak angkat aku," jawab ibu singkat.


"Hah!! apa? anak angkat? gak salah tuh hidup udah susah masih aja belagu sampe masih mau ngerawat anak orang yang gak jelas gitu," ejek iparnya ibu sinis.


"Gak masalah kalo aku susah mba, rejeki udah ada yang ngatur kok, sudah ada rejekinya Dimas di dalam rejekiku jadi udah kewajiban aku buat bantu dia," ujar ibu halus.


"Alah belagu banget sih kamu, dulu ia kamu sukses bisa punya ini dan itu, tapi itu kan dulu waktu Herman masih ada, sekarang buat bertahan hidup aja kamu kudu jualan keliling dulu," ejek iparnya lagi.

__ADS_1


"Iya makasih mba udah ingetin aku, soal masa laluku kalo emang mba manggil aku cuma untuk menghina aku nanti ya mba siang kalo aku udah pulang jualan, kalo sekarang aku harus keliling dulu mumpung masih pagi, assalamualaikum," salam ibu pergi meninggalkan iparnya karena kalo di ladeni gak akan kelar kelar urusannya.


"Waalaikumsalam, Dih orang di kasih tahu malah belagu liat aja nanti, bakalan nyesel kamu ngasuh anak orang," Kata Sari kesal karena ingin membuat ibu emosi tapi tidak bisa malah dia yang emosi.


Ibu dan Dimas melanjutkan perjalanannya tapi menghiraukan iparnya yang sedanh ngedumel karena di tinggal pergi ibu, tidak di perdulikan.


"Bu, itu tadi siapa sih emangnya? kok jahat sama ibu bukannya beli jualannya ibu ehh malah ngehina ibu?" tanya Dimas.


"Itu tadi kakak iparnya ibu, uwanya Nadia biarin aja dia gak beli jualannya ibu emang begitu dia orangnya, nanti kamu harus jaga jarak ya sama dia, jangan terlalu ikut campur atay ganggu dia deh," jawab ibu menasehati.


"Oke bu, sama kaya kak Nadia ya tidak boleh di ganggu?" tanya Dimas lagi.


"Iya kelak kamu juga gak boleh ganggu Nadia, kalo kamu lihat kak Nadia tidak bantu ibu biarkan saja mungkin kak Nadia sedang lelah dan ingin istirahat," jawab ibu masih menasehati Dimas.


"Oke deh bu di mengerti," sahut Dimas.


Mereka pun akhirnya sampai juga di rumah bu Rt setelah berjalan lumayan jauh, ibu segera menuju pintu gerbangnya rumah bu Rt dan segera menekan bel yang ada.


Suara bel di tekan ibu di luar pagar tak berapa lama kemudian seseorang keluar dari dalam rumah, yaitu pembantunya bu Rt.


"Assalamualaikum mba, bu Rtnya ada?" tanya ibu saat melihat pembantu keluar.


"Waalaikumsalam, ada kebetulan sedang sarapan! dengan ibu siapa ya biar saya panggilin nanti?" jawab pembantu itu balik tanya.


"Saya Ningsih, bu Rt kenal saya kok, mbanya kayanya baru ya di sini saya baru lihat soalnya?" jawab ibu ingin tahu.


"Iya saya baru tiga hari kerja disini, yasudah tunggu sebentar ya bu Ningsih saya akan panggilkan nyonya dulu," jawab Pembantu lalu masuk ke dalam.


Di dalam rumah bu Rt dan keluarganya sedang duduk di meja makan menikmati sarapan pagi yaitu nasi goreng special buatan bu rt sendiri, menu kesukaan suami dan anaknya, Dika dan Damar dua kakak adik yang selalu akur, Dika sekelas dan seumuran dengan Nadia sedangkan Danar hanya berbeda satu tahun.


"Permisi nyonya maaf saya ganggu di depan ada tamu yang nyari nyonya katanya penting," kata pembantu.

__ADS_1


"Siapa bi, yang datang?" tanya bu rt sudah selesai sarapan.


"Itu ada bu Ningsih, ada yang ingin di sampaikan katanta," jawab pembantu.


"Ohh, yasudah suruh masuk aja, suruh tunggu sebentar saya mau cuci tangan dulu," kata bu rt bangun dari tempat duduknya.


"Ada apa sih mah, dengan bu Ningsih? semua baik baik saja kan?" tanya pa Rt penasaran.


"Mamah juga gak tahu pah, sebentar mamah cuci tangan dulu nanti baru tanyain deh ke bu Ningsihnya," jawab bu rt lanjut ke kamar mandi.


Lima menit kemudian bu Rt yang dari kamar mandi sudah keluar, ibu juga sedang menunggu di teras tadi di suruh masuk ke dalam tidak mau katanya menunggu di luar sambil nungguin jualannya saja siapa tahu ada rejeki.


Di luar rumah bu Rt langsung menemui ibu sambil membawa lembaran kertas yang pernah di baca oleh ibu tempo hari, dan ingin menunjukannya lagi siapa tahu ibu masih berminat untuk nabung buat celengan masa depannya.


"Assalamualaikum, maaf ya bu Ningsih nunggu lama tadi saya habis cuci tangan dulu habis selesai sarapan," sapa bu rt saat di luar tidak enak.


"Waalaikumsalam, oh bu rt iya tidak apa apa justru saya yang merasa tidak enak karena sudah menganggu waktu bu rt dan keluarga," kata ibu merasa tidak sopan.


"Enggak apa apa kok, oh ngomong ngomong tadi katanya ada yang mau di omongin, terus ini anak siapa?" tanya bu Rt duduk di bangku sebelah ibu.


"Iya bu rt saya kesini mau laporan, ini menyangkut masalah Dimas, jadi anak ini namanya Dimas dia anak yatim piatu tidak ada keluarga dan saya ketemu dengannya kemarin di pasar, nah rencananya saya ingin mengadopsi Dimas mengajaknya tinggal rumah bersama saya," jawab ibu menperkenalkan Dimas dan menyampaikan maksudnya.


"Ohh begitu jadi ibu Ningsih mau nambah anggota keluarga baru di rumah? itu seriusan bu Ning apa nanti bu Ning tidak keberatan ya! bukan apa apa sekarang kan bu Ning harus usaha sendiri untuk nagkahin kebutuhan sehari hari, jangan sampai nanti Nadia tambah ngambek," tanta bu rt lagi meyakinkan ibu kalo niatnya sudah benar benar di pikirkan dulu.


"Insya Allah saya sudah siap bu rt, dan untuk masalah rejeki dan yang lainnya udah ada yang ngatur bu rt, saya serahkan semuanya kepada yang maha kuasa saja, saya yakin Allah memilih saya untuk merawat Dimas dan mengantikannya peran orang tua untuknya dan Allah juga sudah siapkan jalannya pasti saya yakin itu," jawab ibu penuh percaya diri.


Dimas yang duduk di sebelah ibu cuma diam sambil duduk tertunduk malu, dengan apa yang baru saja di dengar ibu, karena baru kali ini dia bertemu seorang yang mau metawatnya biasanya orang yang di temui Dimas cuma mengusir dan menghardiknya tanpa rasa iba dan perasaan berbeda dengan ibu yang rela mengajak Dimas pulang.


Padahal ibu dan Dimas baru saja bertemu dan ibu langsunh mengajaknya pulang untuk tinggal bersamanya di rumah.


"Yasudah kalo emang itu sudah jadi tanggung jawab ibu dan keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat, saya terima Dimas jadi warga Sini," kata bu rt.

__ADS_1


__ADS_2