Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 78.


__ADS_3

Sesampainya pak Surya di tempat tujuan ia memarkirkan mobionya ke tepi jalan sebelum masuk ke arena hiburan piknik, pak Surya mengambil handponenya dan memanggil seseorang, semua yang ada di mobil hanya diem menyaksikan pak Surya sedang menelpon seseorang di seberang sana.


"Hallo! assalamualaikum, gimana kamu udah sampai tempat tujuan belum?" tanya pak Surya saat nomernya tersambung.


"...."


"Ohh yasudah ini saya juga baru sampai kok, sedang di luar kirain kamu belum sampai kalo gitu saya langsung masuk aja ya kedalam!" uncap pak Surya.


"...."


"Oke, tunggu sebentar ya saya akan segera sampai di tempat, sebentar lagi saya tutup dulu teleponnya ya, assalamualaikum," salam pak Surya mengakhiri panggilannya.


"Telepon siapa! ayah?" tanya Ridwan penasaran.


"Om kamu, tadi ayah kirain dia belum sampai ternyata sudah ada di dalam sejak lima menit yang lalu, yaudah yuk sekarang kita masuk kedalam!" jawab ayah kembali menyalakan mobilnya.


"Ohh kirain siapa!" ujar Ridwan membulatkan bibirnya.


Dewi yang juga duduk di sebelah, Ridwan dan Kasih di bangku belakang merasa kepo sekali sebenarnya siapa yang barusan di hubungi Pak Surya lewat teleponnya dan janjian disana, tadi sekilas terdengar suara laki-laki, dan setahu Dewi pak Surya itu anak tunggal tidak punya adik ataupun kakak! atau sedangkan bu Deswinta semua keluarganya ada di kampung itu yang Dewi ketahui sejauh ini.


Mobil yang di kendarai pak Surya masuk ke dalam setelah mengambil karcis untuk parkir pak Surya pun mencari tempat parkit yang aman, dan tidak terlalu jauh saat nanti mereka kembali, setelah memarkir mobilnya pak Surya pun kembali mematikan mesin mobilnya.


"Yukk, semua kita turun sudah sampai!" ajak pak Surya."Barang bawaan kita ya jangan ada yang ketinggalan semua harus di bawa, baju baju salinnya juga jangan lupa!" pesan pak Surya lagi.

__ADS_1


"Baik.ayah yuk Ridwan Kasih kita turun, mba Dewi tolong keluarin semua yang ada di dalam mobil ya bekal kita, nanti saya bantu bawa yang lain juga harus bantu bawa, kasihan Dewi kalo harus bawa sendirian!" kata bu Deswinta.


"Baikk mahh!!" Seru ketiga orang kesayangan Bu Deswinra bareng.


Dewi yang melihat tingkah keluarga majikannya cuma bisa menahan senyum malu, semua anggota keluarga pun turun Dewi mengeluarkan barang bawaannya dan menaruhnya dulu di bawah untuk tikarnya sedangkan yang isinya makanan susah di bawa oleh bu Deswinta dan pak Surya sedangkan Ridwan dan Kasih membawa tas miliknya dan juga beberapa alat untuk renang.


Saat Dewi hendak membawa sisa barang bawaan yang lumayan masih agak banyak entah apa isinya karena itu ayah yang membawanya dari rumah Dewi hampir saja menjatuhkan barang tersebut tapi ada tangan seseorang yang dengan sigap langsung menangkapnya dan benda itu pun berhasil selamat.


"Ahhh!!" jerit Dewi kaget.


Happ.


"Hati-hati jatuh, ini bisa bahaya kalo kena kaki cukup berat juga loh!" suara seseorang yang membantu Dewi menahan beban.


Suara pria itu begitu familiar bagi Dewi sepertinya pernah bertemu atau dengar suara orang itu di suatu tempat? entah dimana Dewi tidak mau salah mengira akhirnya niat untuk memanggilnya pun ia urungkan.


"Hai lama tidak jumpa, kebetulan sekali bisa ketemu disini kamu sedang apa?" tanya Arya yang langsung mengenali Dewi dari jauh.


"Ma-Mas A-Arya, kok bisa ada disini juga,!" seru Dewi terkejut tak menjawab pertanyaan Arya yang pertama.


"Iya, aku sedang ada janji dengan seseorang tapi kayanya belum sampai sini deh, jadi perasaan dia telpon katanya sudah ada di sekitar sini, tapi saya belum bertemu dengannya udah nyari-nyari sepanjang jalan juga," jawab Arya mengawasi sekeliling tempat.


"Ohh gitu, emang udah lama mas Arya nunggunya ya?" tanya Dewi lagi kepo.

__ADS_1


"Iya lumayan udah sepuluh menit juga aku nunggu, oh iya kamu pasti kaget nanti saat tahu siapa orang yang aku tunggu,!" jawab Arya membuat Dewi penasaran.


"Emang siapa sih mas, apa aku kenal sama orang itu?" tanya Dewi lagi karena masih kepo.


"Iya kamu kenal kok sama diq, oh iya ngomong-ngomong kamu sedang apa disini? dan ini barang bawaan banyak banget mau piknik ya? sama siapa?" gantian kini Arya yang kepo dengan keberadaan Dewi di situ.


"Ohh iya mas, aku di ajak piknik sama majikan dan keluarganya, dan mas tahu siapa majikan aku? mas juga pasti kaget kalo tahu majikan aku siapa? oh sambil nunggu teman mas itu bagaimana kalo mas ikut aku dulu nanti aku kenali sama majikan aku, dan aku yakin mas pasti akan sangat terkejut!" jawab Dewi menawarkan ikut bersama.


"Oh ya, benarkah itu? oke deh aku ikut kamu dulu ke majikanmu sekalian aku bantuin bawa ya barang bawaannya ini berat juga loh kalo di bawa oleh wanita," tawar Arya setuju ikut Dewi ke tempatnya dulu.


Arya dan Dewi belum saling tahu kalo orang yang di tu ggu Arya dan majikan yang akan di kenalkan Dewi adalah orang yang sama, karena terakhirnya mereka pisah sejak dua tahun yang lalu dan saat itu Ridwan sedang koma di rumah sakit, sejak saat itu tidak ada kontekan lagi antara Arya dan Dewi, padahal saat Dewi kerja sehari di rumah Arya ada sedikit perasaan yang Arya miliki untuk Dewi tanpa Dewi sadari.


"Masih jauh gak Dew! tempatnya?" tanya Arya masih membawa tas yang entah isinya apa.


"Sebentar lagi sampai kok mas, tapi kalo misalnya mas Arya udah gak kuat bawanya udah turunin aja disini biar aku yang bawa!" jawan Dewi tidak enak merasa telah merepotkan Arya.


"Gak apa! bukan itu maksudku aku tidak keberatan kok bawa barangnya cuma aku hanya tidak tega melihat kamu kecapean bawa tikar itu," ujar Arya perhatian tapi sedikit gombal.


Dewi langsung memerah wajah tak kalah merasa di perhatikan oleh Arya, membuat jantungnya yang tadi normal jadi berdegub kencang.


Dag, Dig, Dug.


Dewi pun berhasil di buat senyum senyum sendiri oleh Arya dalam hatinya berharap jika hayalannya tentang Arya tidak cuma hanya mimpi atau hayalan belaka, karena diam diam Dewi juga menendam rasa yang sama saat pertama kali ia bertemu dengan Arya dua tahun silam, karena tak mau terbuai dalam harapan palsu Dewi pun menvgabaikan perasaannya saat itu, dia hanya menduga jika perasaannya hanya rasa suka sesaat yang akan hilang seiring berjalannya waktu.

__ADS_1


Tapi kenyataannya berbanding terbalik dengan yang di harapkan Dewi, ia selalu setiap malam memikirkan Arya, terlebih lagi saat ia tahu anak yang dulu dia asuh atas perintah Arya adalah anak majikannya yang sesungguhnya, membuat Dewi berharap jika suatu saat Arya bisa hadir dengan alasan ingin mwngunjungi Ridwan dan Kasih, dua orang anak yang dulu pernah Arya sayangin.


Bersambung.


__ADS_2