
Siang harinya saat jam pulang sekolah Dimas menuju kantin terlebih dulu untuk mengambil tempat kuenya agar besok bisa di isi kembali untuk jualan lagi.
"Assalamualaikum," sapa Dimas saat di kantin.
"Waalaikumsalam Dimas sudah pulang ya mau ambil kuenya ya ini, kuenya baru laku sedikit dan ini nuga uang penjualannya ini sudah ibu potong hasilnya," kata bu kantin mengulurkan uang juga toples tempat kuenya.
Dimas nampak sedih karena kuenya hari ini hanya terjual separoh saja, sedangkan ia sudah janji pada Nadia untuk memberikan uang yang Nadia butuhkan hari ini, kalo tidak Nadia akan benar benar menjual rumahnya.
"Iya bu terimakasih untuk hari ini besok saya titip lagi ya bu, jangan kapok ya?" tanya Dimas minta ijin.
"Iya Dimas tidak apa apa kalo kamu mau nitip lagi ibu terima kok, yang penting kamu harus sabar namanya juga orang jualan kadang ada kalanya ramai dan juga sepi jadi cuma sabar kuncinya," jawab bu kantin menasehati Dimas agar tidak putus asa.
"Iya bu terimakasih untuk nasehatnya saya akan selalu ingat dan dengar, kalo gitu saya permisi dulu pamit pulang, assalamualaikum," salam Dimas pulang.
"Waalaikumsalam, hati hati di jalan," kata bu Kantin.
__ADS_1
Dimas bingung harus kemana lagi ia akan mencari uang tambahan untuk memenuhi kemauannya Nadia agar Nadia tidak menjual rumahnya dan mengusir ibu keluar dari rumah itu, dan telantar hidup di jalan di masa tua ibunya.
"Kemana lagi harus aku cari uang tambahan untuk kak Nadia, atau ibu akan kehilangan tempat tinggalnya," gumam Dimas bingung.
Saat Dimas melewati lapangan tidak terlalu jauh dari sekolahnya disana sedang ramai orang entah ada acara apa Dimas tidak tahu, tapi saat itu Dimas memiliki ide untuk menjual kue kuenya disana, agar mendapat uang tambahan, untuk memenuhi keinginan Nadia.
"Nah! ini kesempatan untuk mendapatkan tambahan uang untuk Kak Nadia semoga saja kue kue sisanya ini habis terjual di sini," harap Dimas.
Dimas pun segera masuk ke lapangan tersebut dan menjajakan jualannya menawarkan dari satu orang ke orang lain, berharap ada yang minat untuk membelinya.
Setengah jam Dimas sudah berada di lapangan itu baru lima kue yang berhasil Dimas jual, itu artinya Dimas baru mendapat uang tambahan lima ribu rupiah.
"Hmm... aku baru menjual lima dan sisanya masih banyak aku harus lebih berusaha lebih keras lagi," ujar Dimas menyemangati dirinya sendiri.
*****
__ADS_1
Sementara Itu Nadia di Rumah sedang menunggu Dimas dengan tidak sabaran sambil duduk di bangku ruang tamu, mendengar ibunya batuk pun Nadia tak perduli seakan rasa cinta untuk ibunya sudah hilang selamanya dari hati Nadia.
"Uhuk... uhuk... !!" suara batuk ibu.
"Duh mana sih tuh Dimas! kok belum pulang juga bukannya ini sudah waktunya pulang sekolah ya? tapi dimana Dia kok belum kelihatan juga batang hidungnya?" Nadia gelisah menunggu Dimas.
Sebenarnya bukan Dimasnya yang ia nantikan melainkan uang yang sudah di janjikan oleh Dimas tadi pagi untuk dirinya, sementara Nadia tidak perduli dengan apa apa lagi selain bersenang senang dengan teman temannya.
"Nadia kamu sedang apa? kamu udah makan siang belum? ibu panasin lauknya dulu ya kalo kamu mau makan?" tanya ibu keluar dari kamar.
"Tidak perlu bu, aku sedang menunggu anak punggut itu kenapa dia belum pulang juga padahal sudah siang dan aku sedang menunggu Kue yang sudah di janjikan olehnya.," jawab Nadia.
"Dimas nak, anak punggut itu namanya Dimas, kamu jangan sembarangan memanggilnya nanti kalo Dimas dengar ia akan sedih nantinya," kata ibu mengingatkan Nadia.
"Siapa yang perduli dengan namanya, yang aku tahu dia adalah anak punggut dan akan tetap begitu," ucap Nadia tak menghiraukan peringatan ibunya.
__ADS_1
Ibu cuma geleng geleng kepala saja melihat tingkah Nadia yang semakin hari semakin arogan dan tidak terkendali lebih lebih saat ia sudah lulus sekolahnya dan sering bergaul dengan teman temannya.