
Sampainya ibu dirumah sekitar pukul 10.55 wib, ibu segera masuk ke rumah begitu oun dengan sepedanya agar tidak merepotkan nanti ketika cuaca tiba-tiba betubah hujan, saat ibu sedang memarkir sepedanya ibu yang mendengar suarw batuk ayah segera berlali menghampirinya.
"Uhukk,,, uhukk,,, uhukk!" ayah batuk berkali-kali.
"Assalamualaikum, ayah, ibu pulang," salam ibu langsung menuju kamar saat mendengar suara ayah yang sedang batuk.
"Ayahh!! ayah tidak apa-apa kan, ini minuk dulu air hanggatnya," kata ibu menyuguhkan air yang kebetulan termos memang ibu sediakan dikamar.
Glug... glugg! glug.
Suara tenggorokan ayah yang sedang minum air di bantu oleh ibu, tenggorokan ayah sedikit agak lega setelah ia pun kembali bersandar di tembok untuk istirahat lagi karena penyakit batuk sanggat menguras tenaga.
"Ibu sudah pulang! makasih ya bu sudah bantuin ayah minum, ayah sakit banget tenggorokannya, mau ambil minum gak bisa karena batuk terus aja," tanya ayah menyapa ibu sambil bercerita kondisinya.
"Maafin ibu ya, ayah karena ibu belum bisa jadi istri yang baik, gak bisa ngerawat suaminya sendiri yang sedang sakit ehh malah di tinggal jualan," suara ibu pelan sambil menahan air matanya.
"Ga apa-apa ayah ngerti kok keadaan ibu, justru ayah yang minta maaf seharusnya ayah yang cari nafkah buat keluarga bukan malah tidur-tiduran nyata begini, dan ibu sudah jadi istri yang baik banget kok buat ayah," kata ayah menyemagati ibu.
"Ini sudah jadi kewajiban ibu untuk bantu ayah, dulu waktu ayah sehat kan ayah yang selalu cari uang untuk keluarga sekarang gantian biar ibu yang cari uang, biar ibu bisa rasain sulitnya beban ayah saat bettanggung jawab untuk kami, uncap ibu lagi memijit kakek ayah.
"Terimakasih bu, emang ibu orang yang paling sabar yang ayah miliki pasti saat ini ipar ayah sedang mengejek dan menertawakan kondisi kita ya bu! pokoknya ayah pesan sama ibu jika ada omongan yang tidak enak di dengar jangan di urusin bu," pesan ayah mengingatkan.
__ADS_1
"Iya ayah, insya Allah ibu akan lebih kuat lagi mentalnta dan tidak akan urusin mereka yang sanggat iri sama kita, oh iya ayah ada yang mau ibu ceritain nih dan ingin minta persetujuan ayah!" uncap ibu akhirnya teringgat.
"Cerita?? masalah apa? kok ayah jadi deg-degan gini?" tanya ayah penasaran.
Ibu yang di tanya ayah bukannya jawab malah pergi keluar kamar meninggalkan ayah yang masih bersandar tidak mengerti tinggkah ibu.
Tak berapa lama kemudian ibu telah kembali kekamar lagi dengan membawa sekembar jertas di tangannya ayah yang melihat itu jadi bingung tak mengerti menanti apa yang ia bawa.
"Nah ini ayah, baca dulu deh buar ayah tahu isinya dan nanti ibu mau jelasin niatnya ibu mau ikutan untuk nama Nadia dan Kasih," uncap ibu senang.
"Asuransi Jiwa?! maksudya gimana ini, ibu? kok ayah belum paham sih?" tanya ayah masih belum tahu.
"Iya ayah, itu lembaran itu temui di rumah bu Rt tadi pas ibu sedang keliling kampung buat jualan, nah tadi sama ibu juga ngak ngerti maksudnya gimana, tapi ibu tanya bu RT kok, dan beliau menjelaskannya dengan detail, akhirnya ibu ngeti deh," jawab ibu.
"Semacam tabungan untuk masa depan gitu, Yah! jadi uang yang kita tabungin nanti akan di pinjem-pinjemin ke orang-orang nah nanti hasilnya di bagi dua," ibu menceritakan dengan perlahan hingga ayah kini mulai ngerti.
"Ohh gituu iya, iya ayah udah ngerti sekarang terus gimana rencana ibu? apa ibu ingin ikut gabung dalam inves itu?" tanya ayah.
"Rencananya sih iya itu juga kalo ayah ngijinin ibu untuk ikutan ya, untuk masa depan kedua putri kita yah! saat nanti kita tidak ada di samping mereka lagi," jawab ibu.
"Ayah mah bu setuju aja uhukk,,, asalkan semua jelas dan aman jangan sampe niat kita mau nabung malah jadi masalah, ibu maksudkan apa yang ayah bilang?" tanya ayah ingin memastikan keselamatan.
__ADS_1
"Hmm entah ayah, ibu juga belum tanya-tanya lagi ke bu rt bener atau tidaknya kantor ansuransi ini, nanti deh kalo ada kesempatan lagi ibu mau tanya lagi," jawab ibu sedikit ragu.
"Uhuk,,, uhukk ibu uhukk apakah ibu masih percaya jika Kasih masih ada? dan akan kembali lagi sama kita bu?" suara ayah sedih seakan penuh harapan yang sangat dalam tapi takut untuk bermimpi.
"Ibu akan selalu yakin, karena perasaan ibu bilang begitu kalo Kasih ada di suatu tempat entah dimana itu dan ibu juga yakin jika suatu saat Kasih akan kembali entah itubkapan tapi ibu berharap, ibu masih bisa bertemu dengan Kasih," jawab ibu penuh dengan keyakinan dari instingnya sebagai seorang ibu.
"Aminn, ayah juga berharap masih punya banyak waktu uhukk,,, untuk bisa bertemu lagi dengan Kasih, tapi,,, uhukkk seandainya itu tidak kesampean tolong ibu sampaikan rasa rindu dan sayang ayah ke Kasih dan satu lagi uhukkk,,, tolong ibu berikan kotak yang ada di dalam lemari ayah untuk Kasih," ujar ayah putus asa.
"Huss ayah gak boleh bicara begitu ibu jadi sedih dengernta, ayah harus kuat ayah harus yakin kalo ayah bisa bertemu dengan Kasih, maka dari itu mau ya kita periksa biar dokter yang merawat dan mengobati sakit ayah, ibu merasa kalo dokter mungkin salah periksa masa mereka bilang tidak ada penyakit tapi kok kondisi ayah tambah buruk," pinta ibu membujuk ayah.
"Tidak usah bu, ayah tidak ingin periksa karena ayah cuma butuh istirahat saja nanti juga sembuh kok, lagian kako priksa biayanya mahal bu, gunakan uang yang ada untuk kebutuhan dan keperluan Nadia dan ibu, lihat semua yang kita punya sudah habis hanya untuk priksa ayah," ayah lagi-lagi menolak ajakan ibu untuk berobat.
Ibu hanya bisa diem kecewa karena ayah selalu saja menolak untuk berobat semenjak kali tetakhir ayah di rawat di rumah sakit yang mengakibatkan mereka kehilangan banyak barang berharga yang mereka jual untuk biaya rumah sakit dan juga menebus obat, ibu hanya penasaran penyakit apa yang sedang di derita ayah kenapa kian hari kian tambah parah.
"Yasudah jika itu keputusan ayah, ibu bisa apa! kalo gitu ibu mau bikin lauk dulu untuk menu makan siang sebentar lagi Nadia pulang belum ada lauk untuk makan!" kata ibu sambil menyelimuti kaki ayah agar tetap hanggat.
"Iya bu, tinggal aja ayah ga apa-apa kok," sahut ayah.
Ibu pun pergi keluar kamar menuju dapur untuk masak sebelum Nadia pulang sekolah, hari sudah siang sekitar pukul 11.30 wib, jadi ibu hanya memasak sayuran yang mudah untuk di masak agar tidak terlalu banyak butuh waktu untuk masak, ibu masak sayur sop dan bikin perkedel juga mengoreng tempe, ibu harus sering masak sayuran yang banyak kuahnya agar mudah di makan ayah.
Sementara ayah hanya duduk bersandar di kamarnya sambil menunggu waktu solat duhur tiba sebelumnya akhirnya ibu memanggil untuk makan siang, tak terasa air mata ayah mengalir saat menginggat betapa dirinya sangat tidak berguna bagi ibu dan juga putrinya, yang selalu butuh bantuannya untuk beraktifitas karena kakinya ayah tidak bisa untuk berjalan satu akibat struk ringan yang di derita.
__ADS_1
"Sungguh aku sanggat menyusahkan ibu dan Nadia aku malu jika harus begini terus, Ya Allah jika memang engkau ingin mengangkat penyakitku angkatlah ya Allah aku tidak tega jika harus terus menyusahkan kedua orang yang hamba sayangin dengan penyakit ini, hamba ingin kembali berguna lagi seperti dulu menjadi pegangan untuk keluarga hamba," doa ayah dalam hati sambil menanggis.