Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 73


__ADS_3

Setelah semua meja dan piring kotor telah di rapikan ibu dengan cepat, karena mendapat bantuan dari Dimas juga ibu segera membuat persiapan untuk jualan besok, pertama-tama ibu mengambil sayiran dulu yang tadi ibu beli lalu ibu petikin semua sayuran itu.


"Ibu mau apa?" tanya Dimas yang masih saja terus mengekor sama ibu.


"Oh ini ibu mau menyiapkan untuk jualan besok nak!" jawab ibu.


"Ibu jualan? jualan apa bu?" tanya Dimas lagi ingin tahu.


"Ibu Jualan pecel, dan juga kue kue basah untuk teman minum kopi atau sekedar cemilan saja," jawab ibu menjelaskan lagi.


"Oh gitu boleh Dimas bantuin ibu? supaya ibu kerjaannya cepet selesai," tawar Dimas.


Ibu jadi teringat Kasih biasanya Kasih yang selalu ingin membantu Ibu setiap kali ibu hendak melakukan pekerjaan apa saja, selalu tidak mau diam dan ingin terlibat dengan semua kegiatan ibu, katanya supaya nanti besar bisa seperti ibu bisa bikin kue, tak terasa air mata ibu pun mengalir setiap kali ibu teringat Kasih.


"Bu! boleh kan aku bantuin ibu?" tanya Dimas sekali lagi karena ibu tidak menjawab pertanyaan yang pertama.


"Oh, ehh iya,,, iya boleh saya ibu malah seneng kok karena pekerjaan ibu akan cepat selesai nantinya, tapi apa kamu tidak capet? kalo cape istirahat aja duduk di depan sana sambil nonton tivi?" jawab ibu bertanya.


"Engga cape kok bu! malah Dimas bosen kalo harus duduk diam saja seorang diri, tanpa berbuat apa-apa," jawab Dimas yakin.


Ibu pun tak bertanya lagi ia langsung saja memulai kegiatanya memetikin sayurannya dulu, lalu mencucinya kemudian menaruhnya kembali dalam kulkas karena sayuran ini baru ajan di rebus besok subuh, sedangkan sekarang ibu hanya membuat kue kue saja untuk jualan besok.


Saat ibu sedang menyiapkan alat dan bahannya untuk bikin kue, ibu di kejutkan suara ketukan pintu dari luar segera yang membuka pintunya Dimas karena ibu sedang menyiapkan kesibukannya.


Tok! tok! tok!


"Assalamualaikum," suara ketukan pintu di barengin dengan suara salam dari si tamu.

__ADS_1


"Waakaikumsalam, iya sebentar!" sahut ibu dari dapur berharap si tamu mendengarnya.


"Biar Dimas aja bu ya bukain pintunya, ibu lanjut saja bikin kuenya," tawar Dimas lalu menuju pintu depan.


Cekrek..


Suara pintu di buka Dimas pun langsung keluar dan di depan bu Puji dan suaminya sedang berdiri sambil membawa kardus di tangannya.


"Waalaikumsalam, silakan masuk," sapa Dimas sopan.


"Ehh, Dimas! ibunya ada? ibu puji mau bertemu sebentar bilang ada yang mau di omongin," tanya bu puji sambil masuk kedalam.


"Ibu ada lagi bikin kue untuk besok, sebentar Dimas pangilin ibunya, ibu sama sama duduk saja dulu," jawab Dimas mempersilakan.


Ibu puji pun menuruti uncapan Dimas ia duduk di sofa, lalu menyuruh suaminya juga duduk di sebelahnya dan kardusnya di letakkan di dalam di samping ia duduk.


"Iya ayah, itu anaknya namanya Dimas! katanya sih bu Ningsih bertemu di pasar siang tadi dan memutuskan untuk mengadopsinya," jawab bu puji.


"Oh gitu baik banget hatinya bu Ningsih, dia aja masih kekurangan ngurusin satu anak, apa lagi semenjak di tinggal suaminya harus berkerja susah payah dulu baru bisa dapat uang, ehh dia malah mutusin nambah pengeluaran dengan adanya Dimas," ujar suaminya bu puji merasa kagum sekaligus iba.


Saat mereka sedang asyik berbicara ibu pun segera datang dari dapur bersama dengan Dimas yang membawa dua gelas air putih di atas nampan, kayanya itu inisiatifnya sendiri memberikan minum kepada tamu.


"Ehh, bu puji dan pak Yoga maaf ya udah nunggu lama saya lagi di dapur siapin untuk jualan besok," sapa ibu lalu menyalami keduanya dan duduk bersama.


"Ibu, bapak silakan di minum airnya! maaf cuma air putih Dimas belum bisa bikin teh atau kopi," tawar Dimas meletakan gelasnya di meja.


"Hehehe, Dimas, Dimas ibu sampai kaget kenapa tadi tidak bilang sama ibu mau nyiapin minum, ibu juga lupa main keluar aja, maaf ya bu puji," ujar ibu merasa bangga dan malu kepada tamunya sore ini.

__ADS_1


"Tidak apa-apa bu Ning! ini aja udah cukup kok terimakasih ya Dimas sudah di ambilin minum kebetulan nih ibu haus banget boleh kan kalo ibu langsung minum airnya," kata bu puji menghibur Dimas agar merasa senang usahanya di hargai.


Ya itu sifat normal seorang anak saat usahanya di hargai walau hanya dengan sebuah pujian yang sangat sederhana tapi akan sangat menyenangkan baginya jadi ia akan mencoba untuk bisa menjadi yang terbaik lagi, sebaliknya jika kita tak menghargai usaha si kecil dan malah memarahinya maka hatinya bukan hanya sakit tapi akan kecewa dan engan untuk melakukan lagi yang terbaik ia malah akan mundur.


"Iya bu, pak silakan di minum," uncap Dimas tersenyum senang.


"Ngomong-ngomong ada apa bu puji saya sampai kaget sore-sore bu puji datang nyariin saya, sama pak Yoga lagi?" tanya ibu masih belum tahu maksud kedatangan bu puji dan suaminya.


"Oh iya, saya kesini mau nganterin baju-bajunya Hendra yang tadi saya janjiin itu, ini bajunya sekaligus saya mau pamut saya mau pulang kampung dulu untuk waktu yang lama ada acara keluarga disana," bu puji berhenti sejenak.


"Oh bu puji mau pulang kampung semua sama pak Yoga juga?" tanya ibu lagi.


"Enggak saya aja sendirian suami saya masih ada urusan dulu di kantornya nanti baru nyusul, nah justru itu saya mau minta bantuan sama bu Ningsih," jawab ibu puji.


"Bantuan apa? kalo emang saya bisa bantu insya Allah pasti akan saya bantu," tawar ibu semanggat.


"Iya jadi selama saya pergi tolong ibu kerja di rumah saya rapiin rumah nyapu dan ngepel juga masak untuk suami saya, ya beres-beresnya sora juga tidak apa-apa kalo bu Ningsih sudah pulang jualan, ya ini cuma untuk samlingan saja lumayan nanti ada tambahan dari saya untuk beli garam," kata bu puji menjelaskan.


"Oh iya bu puji, insya Allah saya akan laksanakan sebisa saya, sepulang saya jualan ibu puji gak usah khawatir," ibu setuju membantu bu puji iklas tidak mengharapkan bayaran karena selama ini bu puji selalu membantu ibu, hanya sejedar bantuan ini pun tak cukup untuk membalas kebaiksn bu puji.


Sebenarnya bu puji bukan mau pulang kampung tapi lebih tepatnya pulang kota, ya bu puji emang berasal dari kota sama seperti ibu dan yang asli orang Desa babakannya adalah Suaminya bu puji, ibu puji sendiri asli dari jakarta, memang biasanya setiap tahun ibu puji selalu pulang kejakarta untuk menengok keluarganya di sana, berbeda dengan ibu jangankan satu tahun lima tahun pun tidak karena selain butuh ongkos yang gede, ibu juga sudah tidak ada siapa-siapa lagi disana yang harud di jengkuk.


Setelah bu puji memberikan kunci cadangan ke ibu, dan memberikan beberapa uang untuk ibu dengan alasan untuk belanja jika ingin masak di rumahnya, bu puji lalu pamit pulang padahal uang itu untuk ibu tapi karena bu puji tahu ibu akan menolaknya jadi bu puji beralasan berbohong kepada.


"Yaudah kalo gitu saya pamit dulu ya bu Ning udah takut yang nunguin kelamaa, ini yang untuk belanja selama saya tidak ada untuk suami saya makan dan bu Ning juga kalo butuh apa-apa pakai saja uangnya tidak apa, oh iya satu lagi suami saya kalo makan gampang kok enggak sulit, lauk apa aja doyan selagi itu mssakan mateng," pesan bu puji sebelum pergi.


"Bail bu puji saya akan ingat, hati-hati di jalan salam juga untuk keluarga di sana, semoga selamat sampai tujuan," kata ibu mendoakan.

__ADS_1


"Aminnn, makasih yasudah saya pamit assalamualaikum," salam bu puji lalu pergi keluar bersama suaminya.


__ADS_2