
Minggu pagi di kediaman ibu, karena ini hari minggu Nadia libur sekolah jadi ia hanya duduk duduk saja di rumah, sedangkan ibu tetap harus berjualan berkeliling mengumpulkan uang untuk masa depan putrinya, pagi ini saat ibu sedang bersiap untuk merapikan dagangannya.
"Bu, biar Dimas bantu ya merapikan dagangannya," tawar Dimas setelah selesai mencuci piring.
"Ohh iya boleh kok, sini bantu ibu," sahut ibu senang.
"Iya ini aku taruh disini ya, dan yang ini juga," Dimas membawakan kue kue yang ada di dalam.
Saat Dimas melihat Nadia cuma duduk saja tidak membantu ia pun bertanya, karena ia pikir seharusnya Nadia membantu ibu bukan malah duduk santai sementara ibunya sibuk sorang diri.
"Kakak Kok malah duduk disini? bukannya membantu ibu merapikan dagangannya?" tanya Dimas.
"Bukan urusanmu," jawab Nadia singkat.
"Tapi kak! harusnya kakak bantu ibu! kan itu udah kewajiban kakak sebagai seorang anak membantu orang tua?" tanya Dimas lagi.
"Aku bilang ini buka urusanmu, urus saja urusanmu sendiri tanpa memperdulikanku," Nadia mulai emosi karena netasa terganggu.
"Tapi...?"
"Pergi, aku udah bilang urus urusanmu sendiri jangan ganggu aku!!" bentak Nadia.
__ADS_1
Suara Nadia yang berteriak terdengar sampai keluar membuat ibu terkejut dan segera masuk kedalam untuk memeriksa keadaan.
"Dimas, Nadia ada apa? kenapa teriak teriak sampai terdengar keluar rumah ibu sampai kaget?" tanya ibu sambil berlari.
"Ini bu aku cuma bilang ke kak Nadia, kenapa tidak membantu ibu menyiapkan dagangannya malah duduk santai saja," jawab Dimas.
"Aku kan sudah bilang kalo kamu mau tetap tinggal disini ya diem tidak usah mengangguku jangan pernah ikut campur urusanku paham kan!" bentak Nadia lagi.
"Sudah sudah ini masih pagi jangan bertengkar, Nadia maafin Dimas ya, dia tidak tahu jadi dia sembarang bicara, dan Dimas ayo ikut ibu jangan ganggu Nadia lagi, biar dia menikmati waktu liburnya," kata ibu lembut melerai.
"Tapi, bu?"
"Sudah ayo ikut ibu, Dimas nurut kan sama ibu?" tanya ibu mengandeng tangan Dimas keluar.
Di luar rumah ibu sudah siap dagangannya dan akan berangkat sebentar lagi, sedangkan Dimas duduk di samping ibu menunggu sampai ibu siap untuk berangkat.
"Ibu udah mau berangkat jualan?" tanya Dimas merasa tidak enak dengan kejadian barusan.
"Iya nak, sebentar lagi ibu mau pamit dulu sama Nadia," jawab ibu masuk kedalam.
Di dalam Nadia sedang menonton tivi sambil tiduran di kasur lantai ia seakan tidak perduli dengan kesibukan ibu pagi ini, ibu yang melihat Nadia merasa bersedih hatinya karena sudah tidak ada rasa iba dalam hatinya sedikit pun.
__ADS_1
"Nadia, ibu pamit dulu ya mau berangkat jualan kamu kalo mau makan di meja makan sudah ibu siapkan lauk dan nasinya!" pamit ibu pada Nadia.
"Iya aku dengar, kalo mau berangkat ajak juga penganggu itu," sahut Nadia tanpa melihat ibu.
"Iya nak, Dimas tidak akan menganggu kamu lagi kok, ibu janji," ujar ibu berlalu.
Nadia tak sedikitpun melirik ibu jangankan untuk mencium tangan dan sekedar basa basi untuk menguncapkan hati hati di jalan, untuk melihat wajah ibu pun Nadia tak mau.
"Segitu bencinya kah nak, kamu sama ibu sampai sampai melihat wajah ibu saja kamu tidak mau, padahal dulu kamu begitu perhatian dan perduli jika ibu akan pergi kemana mana, sungguh kebencian dalam hatimu telah menutupi rasa sayang kamu ke ibu," gumam ibu dalam hati.
Ibu melangkah keluar rumah dengan perasaan hati yang sedih dan kecewa tapi ibu harus tetap semanggat biarpun Nadia menjauhinnya, ia pun berangkat Jualan dengan menguncapkan Bismillah ia keluar niat mencari sedikit rejeki.
"Bismillah, aku mau berangkat jualan mudah mudahan hari ini jualannya ramai dan banyak pembeli,, amiinnn," Doa ibu sebelum berangkat.
Saat ibu hendak mengayuh sepedanya Dimas yang tadi sempat masuk kedalam untuk kekamar mandi berlari dan mengejar ibu, ia meminta untuk ikut bersama ibu karena tidak tega melihat ibu sendirian.
"Ibu!! tunggu aku ikut jualan sama ibu ya!" panggil Dimas meminta ijin.
Ibu yang sudah agak jauh menghentikan sepedanya dan menoleh ke arah Dimas, lalu menyuruh Dimas untuk menghampirinya ibu akan mengijinkan Dimas ikut karena khawatir jika di rumah ia akan bertengkar dengan Nadia, dan ibu khawatir jika Nadia mengusir Dimas Nanti saat ibu tidak di rumah.
"Ayo sini ikut ibu," sahut ibu setuju.
__ADS_1
Dimas pun segera menghampiri ibu yang berdiri di ujung jalan menunu jalan besar.