Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 54


__ADS_3

Flash Back on Dua tahun lalu.


Saat ayah di rawat di rumah sakit saat itu baru satu minggu ayah di rawat ibu dan Nadia yang selalu menemani ayah, tanpa ada yang bantu lagi, padahal ayah masih punya kakak kandung dan kakak ipar tapi saat kedua orang tua mereka meninggal dan warisan rumsh jatuh ke ayah, saat itu juga mereka kembali menjauhin keluarga ayah dan ibu tidak perduli lagi.


Walau sebelumnya mereka sempat baik tapi ternyata semua hanyalah topeng di depan kedua orang tuanya sebelum mereka meninggal, terlebih lagi saat Kasih hilang tak satu pun yang datang menjenguk atau memberi suport kepada ibu yang sanggat terpukul.


"Dok, bagaimana dengan keadaan suami saya? apa sebenarnya penyakitnya kenapa begini lagi walau sebelumnya pernah membaik?" tanya ibu saat dokter memeriksa ayah.


"Hm tunggu sebentar ya bu, saya akan priksa dulu dan untuk mengetahui penyakit apa yang di derita suami ibu, mari kita tunggu hasil lab, nanti," jawab dokter masih memeriksa ayah.


Setelah pemeriksaan selesai dokter pun keluar ruangan meninggalkan ayah dan ibu berdua, ayah sangat lemah kondisinya saat itu, sungguh sanggat membuat ibu dan Nadia sedih dan berputus asa karena kondisi ayah sampai-sampai nafsu makan pun hilang.


Keesokan harinya siang hari saat ibu dan Nadia sedang tidak ada di ruangan ayah, hanya ada ayah sendiri yang sedang betbaring lemah, tibak-tiba dokter masuk sambil membawa hasil lab kesehatan ayah kemarin.


"Permisi, pak Herman dimana istri bapak dan anak baps?" tanya dokter.


"Mereka sedang keluar dok, sedang mencari makanan apa itu hasil lab saya dok? boleh saya tahu penyakit apa yang sedang saya rasakan ini?" tanya ayah.


"Iya ini hasil lab kemarin, dan hasilnya bapak Herman mengidap penyakit paru-paru basah yang harus melakukan pemeriksaan secara rutin bahkan harus melskukan pengobatan secara berkala setiap hari tanpa henti selama satu tahun," jawab dokter.

__ADS_1


"Paru-paru? berarti saya akan bergantung terus dengan obat selama satu tahun kedepan dok, dan kalo boleh tahu berapa harga obat yang harus saya tebus setiap harinya?" tanya Ayah lagi.


"Untuk harga satu obatnya sekitar Rp,50.000,- itu untuk yang satu lembar isi 10 tablet sedangkan dalam satu bulan ada 30 hari dan itu berarti butuh tiga lembar atau bisa lebih, belum lagi bapak harus melakukan uap setiap satu bulan sekali sampai benar-benar sembuh," jawab dokter.


Ayah diem terkejut dengan jawaban dari dokternya satu lembar lima puluh ribu sebulan butuh tiga lembar artinya sebulan butuh seratus lima puluh ribu di kalikan setahun sama dengan butuh kurang lebih sekitar dua jutaan belum untuk biaya uap ongkos dan lain-lainnya, itu kalo langsung bethasil kalo tidak kan harus di ulang lagi.


Ayah langsung memutuskan suatu keputusan yang mungkin ayah sendiri tidak tahu jika keputusan ini akan sangat fatal baginya dan juga keluarganya, penyesalan mungki tidak datang di awal, tapi cepat atau lambat penyesalan itu pasti akan datang.


"Dok saya, mohon sama dokter tolong jangan bilang ke istri saya tentang penyakit saya ini, says takut kalo nanti dia tahu ia akan sedih dan terluka lagi, karena mental istri saya sedang terganggu karena kami baru saja kehilangan putri bungsu kami!" pinta ayah memohon pada dokter.


"Tapi pak...? ini akan sangat bahaya jika didiamkan dan nanti juga saya harus bilang apa saat istri bapa nanti tabya sedangkan kemarin saya sudah bilang bahwa hasil labnya keluar hari ini?" tanya pak Dokter bingung.


Saat mereka sedang asyik bicara dan belum selesai dalam kesepakatan yang mereka sedang diskusikan, pintu kamar terbuka ada yang datang dan tetnyata itu adalah ibu dan Nadia, saat ibu melihat dokter yang ada di kamar membuat ibu langsung bertanya tentang hasil leb yang di janjikan dokter.


"Ehh ada Dokter, maaf dok jika saya bikin kaget, oh iya dok saya mau tanya tentang hasil dari lab kesehatan suami saya, penyakit apa yang di derita suami saya?" tanya ibu.


"Hmm,,, suami, ibu,,," uncapan dokter terhenti ia melirik sejenak ke arah ayah, dan ayah mengedipkan matanya dengan artian penuh permohonan.


Karena dokter tak tega dengan seorang wanita paruh rapuh yang ada di hadapannya membuat sang dokter pun terpaksa mengikuti permintaannya ayah, ia pun berbohong soal hasil labnya.

__ADS_1


"Suami ibu baik-bail saja kok, tidak ada yang perlu di khawatirkan semua cuma karena efek kecapean dan kurang istirahat saja," jawab dokter.


"Oh seperti itu ya dok! syukur deh kalo memang suami saya tidak ada penyakit yang serius saya sungguh sangat khawatir jadi melihat kondisi suami saya yang semakin hari semakin memburuk semoga semua yang dokter katakan benar ya," uncap ibu sedikit tidak percaya dengan uncapan Dokter.


Ibu merasakan ada yang aneh antara ayah dan dokternya berkali-kali ibu melihat ayah dan dokter secara bergantian tapu ibu tidak ingin punya prasangka yang buruk, akhirnya ibu pun memutuskan untuk mempercayai semua dan berharap tak ada yang di rahasiakan ayah padanya.


"Yasudah kalo gitu saya permisi dulu ya, bu, pa! masih banyak pasien yang butuh perawatan lainnya, saya permisi assalamualaikum!" salam dokter pamit meninggalkan ruangan.


"Waalaikumsalam, terimakasih dok atas waktunya," semua yang ada di ruangan menjawab salam dokter tersebut.


Setelah dokter pergi kini hanya tersisa ibu, ayah dan juga Nadia, ibu kembali menanyakan pertanyaan yang sama ke ayah seperti yang ia tanyakan ke dokter karena memang belum sepenuhnya percaya.


"Ayah tolong jujur sama ibu, apa bener yang tadi di bilang sama dokter kalo ayah baik-baik saja dan cuma karena kelelahan dan kurang istirahat, kok ibu merasa kalo ayah dan dokter tadi seperti merahasiakan sesuatu deh?" tanya ibu penasaran.


"Ibu kan tadi dengar langsung kan dokternya bicara begitu, masa ia ayah bohongin ibu, gak ada yang di rahasiakan kok bu, ayah memang cuma kecapean saja dan bukan ada penyakit serius," jawab ayah bohong.


"Ibu harap ayah memang benar jujur sama ibu," uncap ibu penuh dengan ketidakpuasan.


"Maafin ayah bu, terpaksa ayah berbohong sama ibu tentang penyakit ayah, ayah hanya tidak mau merepotkan ibu lagi terakhir kali ayah di rawat dulu kita sampai kehilangan ruko yang sudah bertahun-tahun kita impikan untuk memilikinya, tapi hilang dalam waktu sekejap hanya untuk membaya biaya rumah sakit ayah, ayah gak mau uang tabungan kita habis cuma untuk membayar rumah sakit, lebih baik uang itu di gunakan untuk masa depan Nadia dan rencana bercana bertahan hidup kedepannya," gumam ayah dalam hati tak terasa air mata pun mengalir membasahi pipi ayah segera ia elap sebelum ibu menyadarinya.

__ADS_1


Flash back off.


__ADS_2