Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 23.


__ADS_3

"Kenapa kaki kamu bisa terluka begini? apakah kedua om itu menyakiti kamu?" tanya Ridwan saat sudah selesai mengobati.


"Tidak luka ini aku dapet pas lagi lulang sekolah saat sedang menunggu kakak untuk pulang bareng tiba-tiba ada anak nakal yang dateng menyerang aku,dan karena luka ini Ku jadi berpisah sama kakak,,, huhuhu kakak aku rindu kakak!" Kasih terisak kembali.


"Sudah-sudah jangan nanggis lagi sekarang yuk tidur aja besok kita harus kerja, kalo kamu gak kerja gak akan dapet jatah makan kamu mau?" tanya Ridwan mengajak tidur.


Kasih hanya diem tak menjawab pertanyaan Ridwan dengan sangat lemas ia rebahkan tubuhnya ke kardus yang menjadi alas tidurnya, kasur empuk yang sebelumnya ia rasakan untum tidur saat malam hari kini tidak dia rasakan lagj, Kasig berusaha untuk memejamkan matanya walau sedih tapi karena lelah dia pun tertidur.


*****


Keesokan harinya di pagi yang begitu cerah udara panas perkotaan yang menyambut hari baru Kasih jauh dari orang tuanya hidup berdampingan dengan orang-orang asing yang sama sekali tidak ia kenal.


Brakkk!!!


Suara pintu gudang di buka dan dua orang pria dewasa masuk kedalam membangunkan semua anak yang sedang tertidur termasuk Kasih.


"Bangun... bangun udah bangun semua!! tidurr mulu males banget!!" teriak salah seorang pria.


"I-iya bang kita bangun jangan sakiti kami bang!" mohon semua anak bangun dengan wajah yang penuh kekhawatiran.


Kasih masih tertidur mungkin karena ia semalam tidak bisa langsung tidur membuat ia akhirnya tidur malam dan terlambat bangun ini membuat si pria sanggar itu marah.


"Heiii!!! bocah bangun udah siang waktunya untuk kerja cepetan bangun!!" teriaknya membangunkan dengan kakinya.


"Aduhhh... sakitt...," rintih Kasih bangun karena terkejut.


"Cepet bangun dan bersiap kerja, cari uang pokonya kudu dapet duit hari ini yang banyak kalo enggak jangan harap ada jatah makanan hari ini!!" teriak pria tadi kasar.

__ADS_1


"Omm boleh Kasih makan dulu, Kasih laper omm belum makan dari semalam!" pinta Kasih memohon.


Saat Kasih sedang berbicara yang lain pada diem membisu karena memang tidak ada satupun yang berani membantah ketika pria jahat bicara.


"Makan?? kamu mau makan?" tanyanya, Kasih menganguk . "Kalo mau makan kerja dulu sana, makan!!" sambung pria tadi kasar.


Kasih menunduk sedih sebentar lagi air matanya yang ian bendung akan tumpah lagi karena tak tertahankan, tapi seketika itu Kasih teringat uncapan Ridwan semalam yang menasehatinya.


"Untuk apa menanggis cuma buang-buang tenaga saja, percuma mereka tidak akan perduli sama kita, dari pada menanggis mending kita pikiran bagaimana cara kabur dari tempat ini," inggatan Kasih.


Kasih kini bisa lebih belajar untuk jadi lebih dewasa lagi karena kini ia berada jauh dari keluarga yang dulu selalu melindungi ia, kini hanya Kasih seorang diri harus bisa bertahan demi untuk bisa berjumpa kembali dengan keluarganya.


****


Pagi hari di tempat lain.


Tok! Tok! Tok.


Suara pintu di ketuk saat Nadia mengambil air minum di dapur, ia urungkan niatnya sebelum membuka pintu Nadia masuk dulu ke dapur untuk mencuci mukanya agar tidak terlihat bendul lagi.


"Assalamualaikum, Nadia ini ayah, nak! buka pintunya!" panggil ayah dari luar rumah karena pintu belum di buka.


Tak mendapatkan jawaban dari dalam membuat ayah khawatir dan ingin membuka paksa pintunya, saat ayah sedang mengambil acang-acang untuk mendobrak tiba-tiba pintu pun terbuka dari dalam.


Cekrek!!


"Waalaikumsalam, ayah masuk yah!" suara Nadia lemas.

__ADS_1


"Astagfirlloh, baru aja ayah mau dobrak pintunya ehh udah di buka, Nadia baik-baik saja kan? gimana semalam tidurnya? maaf ya ayah tidak bisa menemani Nadia semalam karena harus jaga ibu?" tanya ayah mengelus rambut Nadia.


"Iya ayah ga apa-apa kok, lagian ibu yang lebih membutuhkan ayah daripada aku, semalam Nadia gak bisa tidur karena terus kepikiran adek, soalnya adek juga sedang terluka kakinya," jawab Nadia lesu.


"Yang sabar ya, Nak! kita berdoa saja yang terbaik untuk keselamatan Kasih agar ia tetap dalam lindungan Allah, yaudah yukk sekarang Nadia makan dulu ya jaga kesehatan, hari ini tidak usah sekolah dulu istirahat aja di rumah ya" bujuk ayah.


"Lagian bagaimana Nadia bisa sekolah,orang tas Nadis aja sama Kasih," jawa Nadia teringgat malo ia titip tas kenarin.


"Ohj gitu, yaudah yuk kita sarapan dulu soal ini kita bicarakan nanti!" ayah menasehati Nadia.


Setelah diem dari obrolannya ayah membuka dua bungkus bubur ayam yang tadi ayah beli di depan puskesmas, lalu menyantapnya bersama putrinya.


Hari ini rencana ayah akan melaporkan berita kehilangan ini kepada kantor polisi terdekat untuk bisa membantu mencari tahu masalah hilangnya Kasih.


Setelah makan ayah pamit lagi ke Nadia untuk mengurus ibu karena ibu juga belum makan, walau sudah sadar semalam sekitar pukul 20.00 wib terbangun karena kaget.


"Nadia, ayah kembali kerumah sakit lagi ya, bantuin inu untuk makan sebelum minum obat!" pinta ayah pamit.


"Iya ayah silakam bantuin ibu saja, Nadia mau beres-beres rumah aja deh dari pada jenuh!" uncap Nadia.


Ayah pergi meninggalkan Nadia sendiri di rumah setelah dapet izin darinya, setelah ayah pergi melshu motornya, Nadia teringgat saat-saat masa bersama Kasih saat itu ia duduk di bangku depan unyuk melihat pemandangan pasti ia akan sangat.


Nadia sadar saat ia menginggat Kasih air matanya pasti menanggis mengalir tanpa permisi, bagaimana tidak karena Kasih adalah adiknya Nadia jadi wajar jika sanggat menyesalinya saat sedang meninggalkannya di jalan seorang diri.


Andai waktu dapat di putar kembali pasti Nadia tidak akan meninggalkan Kasih seorang diri sekalipun Kasih meminta untuk tetap tinggal Nadia akan mengendongnya saat itu, dan mungkin kini Kasih masih bersama dengan Nadia di rumah.


Dan ibu juga tidak harus masuk rumaj sakit karena terkenit dengan berita ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur semua tidaj bisa kembali lagi, kini hanya bisa pasrah dalam menerims kenyataan dan menjalaninya dengan iklas dan selalu berharap sambil berdoa semoga Kasih cepat di temukan dan mereka bisa kumpul kembali seperti dulu lagi.

__ADS_1


Lama Nadia melamun memikirkan Kasih terus, kini akhirnya ia tersadar juga dan segera merapikan tempatt tidur dulu baru tempat ayah dan ibu, dari sudut ruang satu ke sudut ruanfan ibu, Nadia mau membantu ketjaan ibu, selagi ibu tidak berdaya.


__ADS_2