
Pagi hari di kotak yang ranai akan hiruk pikuk kebisingan kendaraan yang lalu lalang sekelompok anak kecil sedang berpencar dari dari satu mobil ke mobil lain dari motor satu ke motor lain untuk meminta minta sedikit uang receh yang mereka punya, karena satu receh yang mereka anggap tiada artinya dapat menyelamatkan hidup para sekelompok anak itu.
Seorang gadis kecil yang malang nasibnya terpisah dari kedua orang tuanya pun ikut berputar mencari receh demi receh agar terkumpul betharap dapat memenuhin kaleng bejas yang ada di tangannya, seorang pri kecil juga sedanf bersama dengannya menemani berjalan ketika lampu sudah berubah merah dan saat lampu berganti hijau mereka menyingkir dari tengah jalan.
Sudah setahun Kasih bertahan dalam tahanan para penculik sekelompok pria pemalas yang memanfatkan anak-anak tak berdosa untuk tetap bertahan hidup mendapatkan uanf, bahkan tak memikirkan petasaan anak-anak itu yang sengaja di pisahkan dari kedua orang tuanya.
Saat lampu jalan sudah mulai hijau mereka menepi, Ridwan yang selalu membantu Kasih mendekat ke arah Kasih ia berbisik di telingga Kasih menyampaikan kabar gembira.
"Kasih, kita bersiap ya lampu merah yang selanjutnya kita gunakan untuk lari!" bisik Ridwan di telinga Kasih.
"Tapi bagaimana caranya, kalo melarikan diri semudah itu bukannya dari dulu kita sudah tidak ada di sini, tapi ini kenyataanya kita sudah setahun masih tetap disini kan?" tanya Kasih ragu.
"Kamu jangan khawatir, aku yakin kita akan berhasil hari ini, percaya padaku lihat ada yang mengawasin saat seperti ini adalah kezempatan bagus karena bang Barong belum kembali dari kampungnya," jawab Ridwan.
Kasih berpikir sejenak mencerna maksud uncapan Ridwan, memang sudah satu minggu ini Kasih tidak melihat bang barong dan dua anak buahnya yang lain, di gudang hanya ada dua orang anak buah yang terus mengawasin mereka bahkan saat membagian nasi juga Kasih masih tak melihat bang barong.
__ADS_1
Dan saat itu pikiran Kasih teringat satu tahun yang lalu saat ia pertama kali bertemu bang barong yaitu di dekat sekolahnya, itu artinya kampung bang barong sama dengan kampung tempat tinggalnya, dan setiap setahun sekali mereka akan beraksi dan membawa satu anak lagi dari kampung.
"Ridwan berarti kamu itu di culik bang batong dari kampung juga ya? soalnya seinggat ku dulu setahun yang lalu aku di culik bang baromg di dekat sekolahku di kampung?" tanya Kasih.
Ridwan mengangguk mengiyakan pettanyaan Kasih, Ridwan sedang menunggu waktu yang tepat untuk melarikan diri dari tempat yang bagi mereka seperti penjara, Ridwan sudah lama merencanakan semua ini, ia hanya akan mengajak Kadih dulu kabur baru ia akan menolong teman-temannya yang lain dengan cara lapor polisi.
Sekitar dua puluh menit kemudian lampu hijau telah kembalu berubah warna menjadi merah lagi semua anak yang ada di tepi segera berpencar ke tenggah jalan, Ridwan melihat sekeliling ia perhatikan kedua anak buah barong sedang ada di warung makan sedang asyik menikmati kopi mereka tanpa petdulikan anak-anak yang sedang kehausan.
Saat lampu akan berubah hijau lagi Ridwan menarik tangan Kasih masuk kedalam sebuah angkot yang siap jalan, angkot yang Ridwan pilih adalah angkot yang penuh akan penumpang Ridwan mengajak Kasih menunduk duduk di bawah agar tidak terlihat oleh anak-anak yang lain, karena biasanya mereka akan melaporkan ke anak buah bang barong jika ada yang kabur seperti kasus Ciko setahun yang lalu.
Tangan Kasih gemetar itu yang Ridwan rasakan ketika ia terus mengenggam tangan Kasih tadi saat masuk angkot dan belum ia lepaskan, Ridwan tahu perasaan Kasih saat itu pasti sangat ketakutan karena jika usaha pelatian mereka gagal bukan hanya mereka akan kembali ke penjara tapi mereka juga akan di hukum berat oleh bang barong.
Para penumpak yang melihat gerak gerik mereka merasa heran, dalam hati ada pertanyaan apa yang sedang anak ini lakukan? ada satu penumpang yang begitu tettarik dengan sikap mereka saat sudah jauh angkot berjalan dari lampu merah tadi penumpang itu membuat kedua anak yang ketakutan itu kaget.
"Hei dek!! ini udah begitu jauh dari lampu merah sekarang kalian sudah aman tidak perlu takut lagi, bisa keluar dan duduk disini, di sebelah saya!" pinta pri yang masih muda.
__ADS_1
Ridwan dan Kasih saling pandang rupanya mobil yang tadi ramai sekarang sudah menjadi sepi hanya tersisa satu pti muda itu yang memanggilnya, mereka berdua nampaj takut awalnya karena heran kenapa pri itu bisa tahu kalo mereja sedang bersembunyi.
"Duduk sini, gak usab takut kamu aman kok saya orang tidak akan menyakiti kalian, saya cuma penasaran aja kenapa kalian duduk menunduk disitu pasti kalian sedang lari dati sesuatu kan!" pinta pria itu sekali lagi karena ajakan pertamanya tidak langsung di terima.
Ridwan dan Kasih akhirnya memberanikan diri untuk duduk di sebelah pri muda itu dan tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut pria itu, ia sedang mempethatikan jalan dan saat mobil angkot lewat di depan sebuah warung makan pria itu meminta angkotnya untuk bethenti di depan.
"Pak!! berhenti di depan ya saya turun disini!" pintanya pada supir.
"Iyq sebenta minggir dullu," jawab supir angkot menepi ke arah yang di tunjuk pri itu.
Pri tersebut membayar ongkosnya memberika selembar uang lima puluh ribu rupiah ke pak sopir, lalu turun meninggalkan Ridwan dan Kasih yang masih duduk binggung melihatnya.
"Lohh, kalian gak ikut turun? lalu apa kalian mau ikut angkot ini lagi kemana pun angkot ini pergi? kalo angkot ini kembalu ke lampu merah tadi gimana? usaha kalian akan sia-sia kan!" ajak pria itu yang seakan bisa membaca gerak gerik mereka.
Dengan sigap Ridwan dan Kasih pun turun dari angkot dan mengikuti pri itu dari belakang, cuma satu harapan kedua anak tak berdosa itu semoga saat mereka berhasil lolos dati lubang Harimau, jangan sampai mereka masuk lubang Buaya sudah cukup bagi mereka untuk terus menderita di bawah ancaman orang jahat hanya satu keinginan mereka yaitu bebas dan dapat bertemu lagi dengan kedua orang tua yang mereka cintai.
__ADS_1
Pria itu masih belum mau berhenti dan terus berjalan menuju warung makan mengajak Ridwan dan Kasih untuk mengikutinya, sesekali mereka berhenti untuk lari menjauh dari pria itu saat itu juga si pri selalu berkata kalo mereka berdua belum aman karena bisa saja mereka tertangkap lagi, ini yang membuat mereka terpaksa mengikutinya.