Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 69


__ADS_3

Hari sudah hampir siang dangangan ibu juga sudah mulai habis akhirnya ibu pun memutuskan untuk pulang kerumah karena ibu juga harus masak untuk Nadia, ibu mengayuh sepedanya kepasar dulu sebentar untuk membeli bahan makanan karena kebetulan bahan makanan di rumah sudah habis.


"Hmm alhamdulilah sudah habis jualanku hari ini sekarang aku mau ke pasar dulu deh mau beli sayuran, mau pulang dan masak untuk Nadia karena sebentar lagi ia pulang sekolah," ibu bermonolog sendiri.


Sepanjang jalan ibubterus mengayuh sepedanya ia merasa bersyukur karena di hari pertama ia,berjualan sudah habis dengan cepat habis jualannya, dan ibu berharap akan seperti ini terus setiap harinya supaya ibu bisa bisa,menabung lagi untuk masa depan putrinya kelak.


Sampainya ibu di pasar ia melihat kerumunan orang ramai yang sedang berkumpul seakan sedang menghakimi seseorang ya! itu yang ibu dengar dari kejauhan.


"Eh beraninya ya kamu masih kecil udah mencuri cepat kembalikan rotinya!" bentak salah seorang pria.


"Huh,,, huhu saya laparr,,, saya hanya ambil satu roti tuan untuk mengisi perut saya yang lapar," rintih seorang anak.


"Dasar pencuri kecil setiap hari mencuri rotiku kalo begini terus bisa-bisa bangkrut nanti warungku!" bentaknya lagi.


"Huhu,,, hiks,,," suara tanggisan yang terdengar sangat ketakutan.


Ibu yang mendengar itu segera berlari menghampiri kerumunan itu dan hendak melihat apa ya g sedang terjadi.


"Udah bawa aja ke kantor polisi, pencuri kecil ini nanti kebiasaan jika di biarkan," uncap salah seora pria di samping pria yang membentak tadi.


"Permisi,,, Permisi ada apa ya ini kalo saya boleh tahu kenapa anak kecil ini mau di hakimi warga dan di bawa ke kantor polisi?" tanya ibu begitu sampai di kerumunan orang banyak.


"Ini loh bu, dia itu mencuri roti di warung saya dan itu sudah setiap hari saya perhatiin ehh baru kali ini ketahuan langsung aja, saya tangkep!" kata pria pemilik warung menjelaskan.

__ADS_1


"Ohh begitu berapa harga rotinya biar saya bayarin, anak kecil ini jangan di bawa ke kantor polisi kasihan dia hanya sedang kelaparan jadi khilaf melakukan itu?" tanya ibu membelanya merasa iba.


"Ngapain sih di belain anak pencuri ini, nanti dia ngelunjak dan ngulangin lagi bakal tidak tenang kami para penjual disini!" hardik seorang merasa tidak senang.


"Saya yang akan bertangung jawab kalo anak ini berulah lagi, jadi injinkan saya membayar roti yang dia ambil dan tolong bebaskan dia,!" pinta ibu sekali lagi.


"Yaudah bebasin aja deh, kasih kesempatan kedua lagi biar kapok anak ini, dan pegang uncapan ibu itu yang sebagai penjamin anak ini!" saran pria satunya yang juga seorang pedagang dipasar itu.


Setelah berunding sesama pedangam warung akhirnya anak tersebut pun di lepaskan ibu membayar roti yang di curi oleh anak tersebut sebesar sepuluh ribu rupiah, ibu pun langsung mengajak anak itu menepi karena ingin bertanya kenapa ia mencuri dan bukannya meminta saja.


"Yasudah kita bebasin tapi inget ya bu, kalo sampai anak i i berulah lagi ibu yang akan kami minta pertangung jawabannya untuk menganti rugi!" pesan penjual yang rotinya di curi mengingatkan.


"Iya insya Allah saya akan selalu bertangung jawab atas semua kerugiannya," jawab ibu yakin.


Di pinggir pasar tepatnya di dekat parkiran ibu meninggalkan anak itu sendirian dulu, karena ibu harus belanja untuk jualan besok sekaligus untuk masak makan siang hari ini.


Anak itu hanya mengangukkan kepalanya saja dan duduk di dekat sepeda ibu sambil memakan roti yang ia curi tapi sudah di bayar oleh ibu.


Sekitar setengah jam ibu berbelanja di pasar akhirnya ibu kembali juga, sepanjang tadi ibu belanja ibu khawatir jika anak yang tadi melarikan diri dan berbuat ulah lagi, ini akan sangat merepotkan untuk ibu karena ibu sudah berjanji akan bertangung jawab kalo anak itu berulah lagi, dengan langkah cepat ibu segera menuju parkiran.


"Huffttt,," ibu bernafas lega saat ia lihat kalo anak itu masih menunggunya duduk di sebelah sepeda ibu, ibu pun langsung menghampiri anak itu.


"Terimakasih ya karena kamu sudah menunggu ibu disini, sekarang ibu mau pulang kerumah kamu juga ibu antar pulang kerumah ya!" ajak ibu menaruh belanjaannya di sepeda.

__ADS_1


"Tidak usah bu, biarkan aku disini aja karena rumah aku disini, dan terimakasih karena ibu sudah menolong saya tadi dari amukan masa," uncap anak itu sedih.


"Maksud kamu, kamu gak punya rumah gitu? lalu orang tua kamu ada damana!" tanya ibu penasaran.


"Aku udah gak punya siapa-siapa lagi, kakak aku udah pergi gak tahu kemana, sedangkan ibu aku udah meninggal dan sekarang aku tinggal di mana-mana untuk tidur makanya tadi aku ambil roti karena klo di minta gak ada yang mau kasih aku lapar!" jawab anak itu bercerita.


Ibu merasa iba mendengar cerita anak itu, sekilas bayangan Kasih lewat dalam pikirannya, ibu takut kalo Kasih di luar sana mengalami hal serupa dengan anak ini bagaimana, tanpa sadar air mata ibu mengalir dari kedua buah matanya.


"Yasudah kalo emang kamu tidak punya rumah, bagaimana kalo kamu ikut ibu yuk pulang kerumah dan kamu bisa tinggal sama ibu jadi tidak perlu keluyuran lagi di jalan!" ajak ibu menawarkan bantuan.


"Ibu serius kan? tidak sedang bercanda?" tanya anak itu kurang yakin.


"Serius masa iya ibu berbohong, ayu kamu mau gak!" ajak ibu mengulangin sekali lagi.


"Yeahhh akhirnya aku punya tempat tinggal gak tidur di jalanan lagi, Dimas mau bu ikut ibu," uncap anak itu yang ternyata bernama Dimas dia meloncat lincat kesenangan.


"Jadi nama kamu Dimas, yaudah yuk kita pulang ibu mau segera masak sampainya di rumah!" ujar ibu menuntun sepedanya keluar parkiran dan menaikinya saat sudah di jalan besar Dimas duduk di depan ibu memboncengnya agar lebih cepat sampai rumahnya.


Sepanjang jalan Dimas menceritakan tentang dirinya yang bisa berpisah dengan kakaknya yang dulu sempat tinggal di penampungan pemulung tapi karena tempat itu sudah di gusur jadi Dimas terpaksa pindah tempat di saat kakaknya sedang mencari barang bekas untuk di jual ke pengepul, saat itu Dimas sendirian mendorong-dorong ibunya yang sedang sakit di dalam gerobak sampah tapi karena Dimas tidak bisa mencari makan akhirnya mereka pun kelaparan dan kondisi ibunya semakin parah dan akhirnya meninggal dunia.


Awalnya Dimas mengira ibunya hanya tertidur saja makanya ia terus mendorong-dorong ibunya sampai cukup lama hingga kondisi jasadnya sangat parah dan mengeluarkan bau tak sedap, warga yang menyadari itu pun akhirnya memberikan bantuan untuk menguburkan ibunya dengan layak, dan sejak saat itu Dimas jadi hidup sepatang kara tanpa seorang dewasa pun di sisinya Dimas sering tidur di makama ibunya, rasa kesepian tidak membuatnya takut sama sekali.


Lama Dimas menceritakan tentang kisah hidupnya membuat ibu jadi tetsentuh sedih membayangkan saat itu Dimas sendirian di tinggal ibu dan kakaknya dan entah sudah berapa lama Dimas telantar di pinggir jalan hanya seorang diri saja, usia Dimas masih muda ibu memperkirakan kalo Dimas seumuran dengan Kasih putrinya yang kini e tah dimana.

__ADS_1


"Ya Allah semoga saja dimana pun Kasih berada engkau selalu melindunginnya jangan biarkan nasibnya sama seperti Dimas, mencuri roti hanya untuk bertahan hidup," doa ibu dalam hati.


Bersambung.


__ADS_2