
Di rumah sakit tempat Ridwan di rawat di kamar Ridwan seorang diri duduk sambil menunggu kedatangan Arya yang tadi berjanji akan mengajak Kasih untuk datang berkunjung tapi belum sampai juga.
"Kok lama ya! om Arya belum datang juga jemput Kasih padahal aku udah kangen banget sama dia!" Ridwan bicara sendiri.
Saat pertemuan Ridwan dan Kasih setahun yang lalu, saat pertama kali Kasih datang dengan perasaan yang ketakutan di bawa oleh komplotan bang barong dan tak ada satu pun yang perduli pada gadis malang itu hanya Ridwan lah yanf mampu menenangkan menghilangkan rasa takut di hatinya.
Sejak saat itu Ridwan sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan selalu melindungin Kasih sampai kapan pun karena Ridwan sudah mengangap Kasih seperti adik sendiri, Ridwan dua tahun di atas Kasih tapi sikap dan tanggung jawabnya sungguh besar dalam menjaga Kasih membuat ia nyaman jika berada di dekat Ridwan.
Ridwan masih terus duduk menunggu kedatangan Arya, entah perasaannya saat ini sangat sedang merindukan orang tuanya yang sudah dua tahun lamanya terpisah, terlebih ia rindu sekali terhadap mamahnya yang selalu menjaganya walau terlalu ketat tapi itu demi keselamatan Ridwan.
"Mah Ridwan kangen sama mamah! Ridwan rindu suara mamah, rindu omelan mamah, rindu di peluk mamah rindu segalanya tentang mamah, kapan ya mah kita bisa bertemu lagi? seadainya ada kesempatan kedua untuk Ridwan bisa merasakan kasih sayang mamah Ridwan janji kalo Ridwan tidak akan pernah membantah mamah lagi, Ridwan akan nurut semua kata-kata mamah Ridwan Janji mah," Ridwan menanggis dalam lamunannya.
Rindu yang begitu berat membuat seorang Ridwan yang kuat sekali pun akan lemah saat jauh dari mamahnya, ya hanya orang tua kandung lah yang menyayangi lebih dari segalanya.
Di Kolidor Rumah sakit.
Arya sudah sampai rumah sakit setelah ia memarkir mobilnya ia segera masuk sambil mengandeng tangan Kasih yang masih belum mengerti kenapa ia di ajak kerumah sakit bukannya menemui Ridwan kakaknya di markas.
"Om! kok kita ke rumah sakit? bukannya kita mau ketemu kakak ya di markas? kok malah kesini?" tanya Kasih tak mengerti.
"Iya nak! kita akan bertemu Kakak, sebentar lagi juga Kasih bakalan tahu ya, sabar nanti saat Kasih tahu jangan kanget ya dan harus siap dan janji gak boleh nanggis karena di sinu banyak pasien," jawab Arya menasehati.
Sampai detik ini pun Arya belum bilang ke Kasih kalo Ridwan terluka dan sedang di rawat disini di rumah sakit ini, karena Arya belum tahu bagaimana caranya untuk bercerita takutnya Kasih malah kaget, marah dan sedih jadi ia lebih memilih untuk mengajak langsung Kasih untuk menemui Ridwan biar ia yang membujuknya Nanti.
Saat masuk ke dalam dan sedang berjalan menyusuri lorong menuju ruangan dimana Ridwan di rawat, Arya bertemu dengan Dokter yang merawat Ridwan dan dokter itu menghentikan Arya mengajaknya ngobrol sebentar.
__ADS_1
"Ehh mas, Arya!" panggil Dokter yang lewat di belakang Arya.
"Hmm iya dok! ada apa?" tanya Arya melihat ke belakang.
Dokter yang jaraknya tadi lumaya agak jauh tapi tidak terlalu jauh hanya sekitar dua ruangan kini berjalan mendekat ke arah Arya berdiri.
"Maaf mas, tadi saya cariin mas ada yang mau saya bicarain ini mengenai si pendonor darah ke adiknya mas, beliau bilamg sebelum pulang mau bertemu dulu dengan pasien," kata Dokter bercerita.
"Ohh iya dok! kebetulan banget saya juga mau bertemu dengan ibu yang mendonorkan itu mau nguncapin terima kasih secara langsung, karena sudah menolong adik saya," uncap Arya.
"Ohh sudah kalo gitu mari saya antar mas menemui ibu itu beliau masih menunggu di ruangannya, sedang menunggu suaminya," kata dokter mengajak Arya untuk mengikutinya.
Kasih yang masih di gandeng tangannya dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi hanya pasrah mengikuti dari belakang yang ia tahu hanyalah kalo ia ingin sekali menemui Ridwan.
Sampainya di ruangan rawat inap, di pintunya bertuliskan kamar mawar dokter kemudian berhenti dan mengetuk pintunya dari luar meminta ijin untuk masuk pada si penghuni, karena ini kamar VIP.
Tok!Tok!Tok!
Suara pintu kamar di ketuk dari luar
"Silakan masuk," suara seorang perempuan terdengar dati dalam mengijinkan untuk masuk, tanpa menunggu lagi dokter mengajak Arya untuk masuk begitu pun Kasih yang masih menggekor di belakang Arya.
"Pagi nyonya! maaf saya ganggu istirahat nyonya ini saya kesini mau mengenalkan kakak dari pasien yang menerima transfusi darah dari nyonya, katanya nyonya ingin bertemu dengan adiknya silakan bicara langsung, kebetulan juga ada yang mau mas ini sampaikan!" kata Dokter menjelaskan maksud kedatangannya.
"Ohh iya dok, terimakasih kalo gitu udah di pertemukan dengan keluarganya," uncap ibu pendonor.
__ADS_1
"Kalo gitu saya permisi dulu, saya tinggal masih banyak kerjaan!" pamit dokter berlalu keluar kamar.
"Iya dok, terimakasih," uncap Arya dan ibu bersamaan.
"Kenalkan nama saya Arya, saya mau nguncapin banyak terimakasih sama nyonya karena sudah bersedia menolong adik saya yang sedang membutuhkan donor darah," uncap Arya sopan.
"Salam kenal, saya Deswinta," suara ibu mempekenalkan dirinya.
"Sama-sama ini semua udah jadi kehendak Allah kok adik... hmm saya panggilnya siapa ya," ibu tersebut menghntikan uncapannya karena tak tahu harus panggil siapa.
"Panggil Arya juga tidak masalah kok nyonya," ujar Arya membenarkan.
"Oh iya, nak Arya boleh saya bertemu dengan adik mas Arya sebelum saya pulang!" pinta ibu itu kemudian.
"Ohh tentu boleh, mari nyonya silakan saya antar myonya menemui adik saya yang kebetulan tadi pagi sudah sadar," kata Arya.
"Terimakasih saya betjalan di belakang ya mengikuti, hmm gadis kecil ini adiknya nak Arya juga ya?" tanya ibu itu melihat ke arah Kasih.
"Iya nyonya ini adik perempuan saya, ya walau bukan kandung sebenarnya yang di dalam juga bukan adik kandung saya, tadi dia seorang anak yang jadi korban penculikkan dia membantu saya menangkap komplotan penculiknya tapi karena kurang beruntung ia kena pukul dan harus kehilangan banyak darah," kata Arya bercerita.
Deswinta pun tertarik dengan cerita Arya ia pun meminta Arya untuk menceritakan semuanya sepanjang jalan menuju kamar Ridwan, dalam hati Deswinta ada harapan jika itu adalah putranya yang dua tahun ini sudah di rindukannya, yang selalu di cari dan di rindukan dalam setiap detik napasnya.
Namun Dewsinta juga tidak mau terlalu berharap banyak karena ia juga tidak mau kecewa lagi kaya yang lernah terjadi sebelum ini, ia bertemu dengan seorang anak laki-laki yang ia pikir anaknya ternyata bukan, Sedih hatinya saat sebuah harapan sedang datang menghampirinya tapi ternyata tidak seperti yang ia mau.
Arya memlambat langkahnya karena sudah sampai di depan kamar Ridwan, sudah selesai juga Arya menceritakan tentang pertwmuannya dengan Ridwan dan Kasih saat mereka kabur dari markas, Kini Arya besiap untuk membuka pintu kamar ada perasaan harap dalam hati Deswinta tapi tak begitu besar karena ia takut kecewa lagi dan lagi.
__ADS_1