
Ayah mengajak Nadia pulang kerumah dulu tidak langsung kewarung karena Nadia belum makan kasihan jika nanti langsung ke warung dan bertemu ibu menceritakan apa yang terjadi yang ada Nadia tidak bisa makan.
Sampainya di rumah ayah segera meminggirkan motornya dan mencari kunci di tasnya Nadia, setelah kunci di dapat ayah segera membuka pintu dan masuk kedalam mengajak Nadia turut serta.
"Yuk! Nadia masuk kamu cuci tangan dan kaki dulu sana habis ganti baju dan sini duduk makan dulu! " kata ayah.
"Baik, Yah!! " Sahut Nadia.
Selagi Nadia masuk kamar berganti baju setelah itu cuci tangan dan kaki ayah menyiapkan Nasi untuk Nadia makan sambil terus berpikir mau memcari Kasih kemana setelah ini.
Nadia telah kembali dari kamar mandi dan segera duduk di bangku menyantap makanannya dengan tidak nafsu karena sesekali air matanya mengalir teringat Kasih, kan Kasih juga belum makan? lalu gimana dengan lukanya? selalu pikiran itu yang terlintas di pikiran Nadia.
"Udah kamu makan dulu, kalo mau nyari Kasih Nadia juga harus kuat, kalo lemes bagaimana bisa, nyari Kasih kan! " kata ayah menyemangati.
"Ayah... makasih karena tidak memarihin Nadia karena tidak bisa menjaga adik, Nadia minta maaf ayah! " uncap Nadia sekali lagi.
"Ini tidak sepenuhnya salah kamu kok, Nak! ini udah takdir ya mau di apain lagi ini ujian dari Allah dengan memisahkan Kita dengan Kasih sekarang kita berdoa saja semoga dimana pun Kasih berada ia akan baik-baik saja, dan saat ibu mengetahui ini ibu bisa, menerimanya dengan tabah, " hibur ayah.
Nadia telah selesai makannya tidak habis tapi sudah cukup untuk menganjal perutnya yang sedari tadi sudah kelaperan, Nadia merapikan piring kotornya dan merapikan mejanya kembali.
"Udah selesai makannya yuk sekarang kita ke warung, kamu harus bantuin ibu di warung, sementara ayah akan mencari Kasih berkeliling siapa tahu Kasih ada di sekitar sini," ajak ayah bersiap pergi.
"Baik ayah, tapi!! Nadia takut bertemu ibu! pasti ibu akan sanggat marah jika tahu Kasih hilang! " Nadia ragu.
__ADS_1
"Udah ayo kan ada ayah tidak usah khawatir se marah-marah nya ibu tidak mungkin akan kejam kan, biar bagaimana pun juga Nadia masih putrinya ibj, " kata ayah meyakinkan.
Dengan langkah berat dan ragu Nadia mengikuti ayah dari belakang walau hatinya sedikit tidak yakin dan berani untuk menemui ibu, tapi Nadia harus karena tidak mungkin juga menyembunyikan hal ini ke ibu, mereka tinggal serumah dengan cepat ibu pasti akan mengetahuinya.
Setelah mengunci pintu dan memastikan sudah aman ayah menyalakan mesin motornya dan Nadia sudah naik di motor ayah pun melaju menuju warung untuk menemui ibu.
*****
Sampainya di warung ibu sedang menantikan kedatangan ayah menunggu kabar tentang kedua putrinya yang sedang ia khawatirkan, perasaan di hati ibu masih tidak menentu membuat ibu jadi melamun.
"Kemana sih ayah kok belum sampai juga, terus anak-anak gimana? apa mereka baik-baik aja? kok kenapa perasaanku tidak enak gini ya, kepikiran mereka terus terutama Kasih karena masih kecil! " gimana ibu dalam hati.
Saat ibu melihat kedatangan ayah ibu senang karena akan segera mendengar kabar tentang kedua putrinya, tapi ketika melihat yang ikut bersama ayah hanya Nadia tidak ada Kasih perasaan ibu makin tidak karuan dengan cepat ibu segera menghadang ayah, padahal belum sampai dalam.
Nadia tertunduk diam dia takut akan di marahin, sedang ayah masih bersikap tenang akan menceritakannya di dalam bukan di depan warung karena tidak enak banyak yang lihat dan dengar Nanti.
"Yuk bu! kita kedalam dulu bicara di dalam aja, gak enak kalo di luar banyak orang! " ajak ayah, mengandeng tangan ibu.
Ibu makin penasaran ia lepaskan gengaman tangan ayah dan bertanya sama Nadia, karena ibu pikir akan segera mendapatkan jawabannya kalo bertanya kepada Nadia.
"Nadia! kan tadi pagi kamu yang bareng sama Kasih, kok sekarang Kasih tidak ikut kesini, dimana Kasih Nak? jawab pertanyaan ibu ya! " pinta ibu memohon.
"Bu yuk di dalam aja, kita bicaranya biar lebih enak jangan di sini ya, ibu tolong nurut sama ayah! " pinta ayah menasehati.
__ADS_1
Ibu merasa kecewa karena tidak langsung mendapat jawabannya bahkan ayah pun berusaha untuk mencegah Nadia berbicara dengan memotong perkataan ibu. Akhirnya dengan sangat sedih ibu pun menuruti perintah ayah untuk berbicara di dalam saja.
Saat di dalam ruangan tertutup sedang Nadia menunggu duduk di depan kalo-kalo ada yang beli, sementara ayah yang akan menjelaskan ke ibu tentang kejadian besar hati ini.
"Nah sekarang udah didalam, ayo beritahu ibu dimana Kasih kenapa dia, tidak ikut kesini, apa yang sebenarnya terjadi sama Kasih jangan bikin ibu penasaran dong? " tanya ibu.
"Iya bu, sabar ayah bakalan beritahu ibu, cuma pinta ayah ibu yang tenang ya saat mengetahui ini, dan jangan ibu menyalahkan Nadia karena ini juga bukan salah dia, Nadia sudah sangat berusaha untuk menjaga Kasih bahkan rela untuk kelaperan demi menjaga dan menemukannya kembali, tadi...! " penjelasan ayah terhenti saat ibu memotong uncapan ayah.
"Maksud ayah apa sih? apa yang sebenarnya terjadi bicara dong yang jelas biar ibu bisa langsung ngerti jangan muter-muter kaya gini, jangan bilang kalo Kasih kecelakaan!!" kata ibu emosi.
Ayah diem tertunduk mengatar kata-kata apa lagi yang akan di sampaikan oleh ayah agar ibu tidak terbakar amarah dan bisa mengontrol emosinya.
"Ayahhh!!! jawab pertanyaan ibu, apa yang terjadi?" tanya ibu karena ayaj diem.
"Bu!! Kasih... Hilang... " jawab ayah lemas.
"A-apa!!! Kasih hilang... engak ini gak mungkin ayah bercanda kan? ayah pasti bohong dimana ayah? Kasih ada dimana bilang sama ibu apa yang terjadi?!" tanya ibu tak percaya dengan uncapan ayah.
"Ini yang terjadi bu, Kasih hilang saat Nadia sedang mempompa ban sepedanya yang kempes dan saat kembali Nadia sudah kehilangan Kasih dan untuk bisa, menemukannya Nadia sampai terus, mencari dan bahkan tidak pulang ke rumah kalo tidak ayah menemukannya, " jawab ayah menjelaskan apa yang tadi Nadia jelaskan.
Merasa tidak puas dengan jawaban ayah ibu keluar ruangan dan menuju Nadia ia berusaha ingin bertanya sama Nadia dan berharap kalo ayah sedang berbohong sementara Nadia akan jawab dengan jujur.
"Nadia jawab pertanyaan ibu, bilang sama ibu kalo ayah bohong tentang Kasih, tadi ayah bilang kalo Kasih hilang, jawab Nadia bilang sama ibu kalo Kasih baik-baik saja??" tanya ibu memegang pundak Nadia.
__ADS_1
Nadia diem tertunduk tak langsung menjawab pertanyaan ibu, sedangkan ayah sedang menyaksikan dari belakang ibu, menjaga takut-takut ibu melakukan hal yang di luar kesadarannya terhadap Nadia.