
Sehabis isya semua tamu sudah berdatangan mengisi tempat yang sudah disediakan oleh ibu, dan ibu sendiri sedang merapikan meja makanya sehabis makan malam.
"Assalamualaikum," salam para tamu yang berdatangan.
"Waalaikumsalam silakan masuk saja pak, dan duduk dulu sambil menunggu yang lainnya," kata ibu menjawab salam.
"Terima kasih bu Ningsih," sahut tamu itu ramah dan duduk.
Ibu sebagai tuan rumah tapi tetaplah seorang perempuan yidak bisa,menyambut mereka karena tidak enak seharusnya ada seorang laki-laki yang menyambut tapi karena tak satu pun keluarga ayah yang datang membantu ibu bahkan hanya untuk sekedar menyambut tamu pun tak mau jadi ibu menyerahkan semuanya ke pak Rt yang kebetulan saat itu belum hadir.
"Assalamualaikum," salam seorang tamu perempuan.
"Waalaikumsalam, silakan masuk bu Puji, saya ada di dapur!" sahut ibu membalas salam bu Puji karena ibu tahu itu yang hadir adalah bu puji.
"Wah ibu Ningsih tahu aja kalo yang dateng saya?" Kata bu Puji kagum.
Ibu hanya tersenyum tentu saja ibu tahu karena ibu hampir setiap hari bersama bu puji dan ibu jadi hafal suaranya begitu familiar.
"Ini bu Ningsih kue dari bu Dilla sekarang giliran dia yang bikin kue, sama bu Sara," kata bu Puji memberikan keranjang kue ke ibu.
__ADS_1
"Alhamdulilah terimakasih bu Puji, maaf kalo saya terus merepotkan warga dan belum bisa membalasnya," uncap ibu merasa tidak enak.
"Ibu ningsih gak usah sungkan begitu kita kan emang udah sepakat akan saling membantu dan berbagi jika salah saru warga ada yang terkena musibah dan ini sudah menjadi keputusan ibu rt kan," kata bu Puji menjelaskan.
Ibu memeluk bu Puji sebagai uncapan terimakasihnya sungguh Allah maha adil di saat semua satu persatu sedang menjauhi ibu termasuk Nadia tapi masih ada seseorang yang selalu setia membantu ibu menghibur ibu di saat ibu tenggah terpuruk.
Ibu dan ibu puji menata kuenya dalam piring lalu menyiapkan gelas di atas nampan untuk tamu nanti minum setelah tahlil malam ini adalah malam kedua pengajian ayah dan alhandulilah tamunya banyak.
Ibu mendengarkan saat pak rt membuka acaranya dengan uncapan salam, lalu di lanjut dengan sambutan dari pak ustad sebelum akhirnya acara utamanya di mulai.
Dimulai dari alfatihah hingga tahlil dan sampai doa menutup ibu dan bu puji yang duduk di dapur mengaminkan setiap doa yang di panjatkan oleh ustad agar ayah di ampuni segala dosanya dan di terima segala amal ibadanya.
"Kami pamit pulang dulu ya bu Ningsih terimakasih untuk jamuannya, assalamualaikum," salam semua yang telah hadir.
"Waalaikumsalam sama-sama bapak-bapak terimakasih juga karena sudah mau dateng ikut pengajian ini dan mendoakan almarhum suami saya," balas ibu berterimakasih.
Setelah semuanya pergi kini tinggal ada ibu, bu puji dan juga pak rt yang akan membantu ibu untuk melipat karpet agar pintu rumah ibu bisa di tutup kembali, karena karpet yang bersar menghalangi jika harus di gelar terus.
Mereka bertiga saling betgotong royong membantu ibu merapikan rumah, setelah semuanya srlesai semuanya pamit kini tinggal ibu sendiri karena hari sudah larut malam ibu menutup pintu rumahnya dan masuk ke dalam, sesekali ibu melirik ke arah kamar Nadia ingin rasanya ia mengetuk pintunya hanya ingin sekedar menguncapkan selamat tidur.
__ADS_1
"Apakah Nadia sudah tidur atau belum ya? rindu rasanya hatinya ingin menguncapkan selamat malam dan mencium kening Nadia sebelum ia tertidur, tapi dengan kondisi yang seperti ini akan sangat tidak mungkin ia pasti akan marah dan tidak senang," gumam ibu sendiri ia mengurungkan niatnya dan segera masuk kamar setelah mengunci pintu.
Ibu masuk kekamar dan merebahkan tubuhnya yang sudah kelah karena seharian beraktifitas sendirian tanpa bantuan dari Nadia, tapi sudah biasa bagi ibu dan itu sanggatlah tidak masalah baginya hanya saja ibu sedikit sedih karena putrinya tidak lagi perduli padanya walau hanya sekedar menanyakan keadaannya saja.
Ibu terlelap setelah agak lama ia memikirkan Nasibnya nanti kedepannya akan seperti apa setelah, ibu terbuai dalam mimpinya matanya nampak gelisah walaupun sedang tertidur sungguh dunia ibu begitu kejam mempermainkan dirinya.
Hari demi Hari berlalu seperti biasanya tanpa ada berubahan sama sekali, Nadia yang masih membenci ibu bukannya membaik malah semakin cuek dan tidak perduli lagi dengan keadaan ibu, sementera ibu semakin hari kondisinya semakin melemas karena ia harus mengerjakan semuanya sendiri.
Kondisi fisik ibu dari saat ayah meninggal sudah tersiksa bathin di tambah ibu juga harus mengalami kelelahan fisik yang harus menyambut warga yang tahlilan mendoakan ayah, tidak mungkin jika ibu tidak menyambutnya.
Dan kini tibalah saatnya malam ketujuh hari meninggalnya ayah banyak tamu yang datang, selain ibu harus menyiapkan jamuan untuk mereka yang hadir ibu juga harus masak untuk berkat selametan ayah, sebagai alakadarnya tanda terima kasih ibu kepada mereka yang sudah setia selama tujuh malam ini telah hadir untuk mendoakan ayah.
Ibi tadi masak-masak hanya di banti oleh ibu puji dan ibu Rt, walau yang membantu hanya dua orang tapi ibu bersyukur karena semuanya berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan sedikitpun, kini ibu sudah bisa melepaskan ayah dengan iklas dan rumah akan menjadi sepi setelah semua orang tidak lagi datang untuk mengaji yasin tahlil lagi.
Ibu harus menyiapkan diri untuk menghadapi semuanya sendirian mulai esuk hari hingga sampai ajal akhirnya hidupnya satu harapan ibu semoga saja sebelum ia menyusul ayah ibu bisa melihat Kasih dan Nadia kembali menjadi anak yang sholel yang perhatian kepada ibunya seperti dulu lagi.
Semoga saja harapan ibu menjadi kenyataan.
Bersambung.
__ADS_1