
Sore harinya pak Surya hari ini pulang cepat karena di telepon tadi oleh bu Deswinta ingin membicarakan soal Kasih yang harus masuk kakak Mereka, sekitar pukul 17.00 wib pak Surya sampai rumahnya dan segera menbersihkan diri sebelum akhirnya gabung dengan Ridwan, Kasih dan juga istrinya di ruang keluarga.
"Sore semuanya, duhh senengnya lagi pada nyantai kumpul!" suara pak Surya.
"Ehh ayah sudah mandinya, Yah? sini gabung sama kita ada yang mau mamah bicarakan sama ayah!" kata bu Deswinta menyuruh pak Surya duduk.
"Hmm silakan kalo emang mamah mau bicara penting ayah pasti dengerin kok," kata pak Surya duduk di samping istrinya.
"Iya masalah yang tadi mamah kirim via Wa ayah baca kan pesan mamah?" tanya bu Deswinta sebelum ke topik permasalahannya.
"Iya ayah baca, kan sudah ayah jawab juga ia ayah setuju kita langsung aja masukin nama Kasih ke kk kita biar gampang buat daftarin sekolahnya, sini mumpung masih sore biar ayah kerumah pak RT untuk mengurus semuanya," ujar pak Surya.
Bu Deswinta setuju dengan saran suaminya, ia memberikan kertas bertuliskan nama lengkap Kasih serta surat ijin adopsi yang kemarin ini sempat di berikan oleh Arya sebelum mereka pulang meninggalkan rumah sakit.
"Yasudah ayaj pergi dulu ya, mau urus semuanya biar besok Kasih bisa langsung sekolah bareng Ridwan," kata pak Surya pamit keluar.
Pak Surya pergi dengan mengendarai motornya karena rumah pak RT tidak terlalu jauh hanya berjarak sekitar tiga gang dari rumahnya, sekitar lima menit mengendarai motor pak Surya sudah tiba di rumahnya pak RT.
Tok! tok! tok.
Suara pintu di ketuk saat pak Surya sudah sampai dan memarkir motor di depan rumah pak RT, tak butuh waktu lama pintu pun terbuka dan si pemilik rumah juga keluar.
__ADS_1
"Assalamualaikum, pak RT maaf nih saya ganggu istirahatnya sore-sore!" salam pak Surya.
"Waalaikumsalam, ehh pak Surya ada apa ya? tumben dateng sendiri silakan masuk yuk kita bicara di dalam!" bakas pak RT menyilakan masuk.
Pak Rt menyuruh pak Surya untuk duduk sedangkan ia sendiri masuk ke dalam untuk meminta di sediakan air minum kepada istrinya, setelah itu ia kembali lagi je ruang tamu untuk menemani pak Surya.
"Maaf ya pak, tadi saya tinggal dulu, ngomong-ngomong ada yang bisa saya bantu pak?" tanya pak RT.
"Iya ga apa-apa pak RT saya yang minta maaf dateng sore-sore jadi ganggu waktu istirahatnya, soalnya baru sempet ini baru pulang juga," jawab pak Surya.
Tak lama kemudian istrinya pak RT datang dari arah dapur membawa nampan berisikan dua gelas teh yang masih mengepul uap panasnya.
"Ehh, ada pak Surya kirain tamunya siapa? gak tahunya orang terhormat, silakan pak diminum tehnya maaf saya cuma punya ini," sapa bu RT.
Bu RT tersenyum setelah menaruh tehnya di atas meja lalu ia pun segera membawa nampannya kembali kedapur, agar suaminya juga pak Surya bisa bicara dengan bebas.
"Silakan di minum pak Surya mumpung masih hanggat!" kata pak Rt menyuguhkan.
"Iya terimakasih, saya langsung bicara pada intinya saja ya pak Rt jadi gini saya berniat mau nambahin satu nama di dalam kakak saya, karena mau buat syarat daftar sekolah," cerita pak Surya.
"Hmm gitu ya, iya bisa tapi ngomong-ngomong mau nambahin siapa? bu Deswinta sudah punya momongan lagi ya?" tanya pak RT ingin tahu.
__ADS_1
Ya sebagai ketua RT memang wajib untuk mengetahui soal warganya karena jika ada apa-apanya dengan warganya jadi bisa membantu, coba kalo seoran RT tertutup dan tidak mengetahui warganya lalu kalo ada hal penting terjadi pak rt tidak bisa dengan segera bantu karena tidak kenal warganya.
"Iya saya ngadopsi anak, kebetulan saya sudah berhasil menemukan putra saya yang hilang dua tahun lalu, nah dia membawa teman perempuan yang juga korban penculikan, saya mau antar dia kerumahnya tapi dia tidak tahu jalan karena masih kecil usianya kira-kira sekitar 6-7 tahun pak, nah saya dan istri berencana ingin adopsi dulu sambil mencari keberadaan orang tuanya," pak Surya menceritanya kronologinya.
Pak RT yang nendengarkan hanya menganguk-angukkan kepalanya tanda kalo ia paham dengan apa yang maksud oleh pak Surya, pak Rt pun menerima kknya juga surat-surat yang di bawa pak Surya lalu membacanya dulu.
"Siti, Cahaya Kasih, ini nama anaknya, umurnya belum di ketahui ya, yasudah kalo gitu saya urus besok ya pak! dan ini untuk sementara biar bisa daftar sekolah saya buatin domosilinya ya," kata pak rt mencoret-coret di atas kertas habis itu di kasih cap RT dan tanda tangan.
Setelah selesai pak Surya mohon pamit karena hari hampir magrib dan harus segera sudah sampai di rumah sebekym waktu makan malam mulai, Sampainya pak Surya di rumah ia segera memberikan surat domisilinya ke istrinya dan sebelum makan malam mereka solat magrib dulu, kertaspun di simpan dengan benar.
Selesai solat mereka pun makan malam bersama di meja makan, mba Dewi lagi-lagi ikut gabung bersama mereka makan satu meja, sungguh acara makan malam yang nikmat tidak ada suara hanya ada kebersamaan saja.
Selesai makan keluarga pak Surya langsung duduk di ruang keluarga, sedangkan Dewi merapikan meja makan dan mencuci piring kotor karena ini memang sudah jadi tugasnya Dewi.
"Ayah jadi besok Kasih bisa daftar sekolah pakai surat domisili ini?" tanya mamah Deswinta.
"Iya mah, kan kakak aslinya mau di bikinin baru lagi mungkin besok langsung di urus dan entah jadinya kapan? nanti oak Rtnya sendiri yang anterin kesini katanya," jawab pak Surya.
"Oh yasudah kalo gitu, lihat Kasih besok kamu bisa daftar sekolah dan kamu bisa sekolah bareng Ridwan nanti," kata bu Deswinta senang sambil menunjukan kertasnya ke Kasih.
"Asyikk, tuh Kasih kita bisa berangkat sekolah bareng dan aku akan jagain kamu sebagai seorang kakak," sambubg Ridwan senang.
__ADS_1
"Hehe iya makasih mah, makasih juga untuk kak Ridwan karena sudah mau jadi kakaknya Kasih dan mau jagain Kasih, Kasih beruntung banget bisa kenal kalian semua keluarga yang baik hati," uncap Kasih sungkan tak terasa air mata jatuh membasahi pipinya.
Bu Deswinta memeluk Kasih hangat karena sudah jadi impiannya dari dulu ingin mempunyai seorang putri tapi karena penyakit yang di deritanya tak mengijinkan bu Deswinta untuk punya anak lagi ini lah yang membuat ia sanggat senang dengan kehadiran Kasih putri angkatnya, ia berjanji akan menyayangi Kasih seperti putri kandungan sendiri.