Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 55


__ADS_3

Siang Harinya Nadia pulang agak sedikit telat dari biasanya, saat ibu dan ayah sudah selesai solat baru Nadia sampai rumah biasanya sebelum azdan juga sudah pulang, hal ini membuat ibu menjadi garus membantu ayah seorang diri tanpa Nadia.


"Kok tumben ya, Nadia sudah jam segini belum pulang biasanya juga sudah di rumah, ibu jadi khawatir, Yah?" kata ibu bicara sama ayah.


"Iya tumben ya, bu ayah juga khawatir udah gitu ibu jadi cape bantuin ayah bangun sendirian," ujar ayah sedih.


"Bukan masalah itu yang ibu khawatirin, yah tapi Nadia iby takut kejadian dulu terulang lagi, kita sudah kehilangan Kasih masa kita juga harus kehilangan Nadia," kata ibu membenarkan uncapan ayah.


"Iya bu, kita berdoa saja semoga Nadia dalam keadaan baik-baik saja dan memang sedang ada urusan makanya terlambat," ujar ayah memberikan dukungan.


"Iya semoga saja tapi ibu tetap saja belum bisa tenang kalo belum lihat anak kita," ibu masih berdiri di depan pintu.


Ibu terus mondar-mandir sambil melihat ke arah depan rumah menantikan seorang Nadia yang belum kunjung datang, saat ibu sedang ingin bertekad untuk pergi menjemputnya di sekolah saat itu juga muncullah bayangan Nadia dari kejauhan membuat ibu mengurunkan niatnya.


"Ya Allah Nadia, kemana aja kamu nak? bikin ibu dan ayah khawatir saja jam segini baru pulang, gak biasanya kamu telat?" tanya ibu saat melihat Nadia dari jauh dan melihat jam sudah pukul 13.30 wib.


"Assalamualaikum, iya maafin Nadia bu, Yah! tadi ada sedikit tugas tambahan yang harus di kerjakan dan itu juga ngerjainnya harus kelompok sama teman, ini juga sebenarnya belum selesai tapi Nadia maksa pulang dan milih ngerjain di rumah," jawab Nadia mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Waalaikumsalam, ohh syukur deh kalo itu alasannya iby khawatir takut ada apa-apa sampe tadi ibu hampir saja jemput kamu," ujar ibu khawatir.


"Iya sekali lagi maafin Nadia karena udah bikin ibu dan kayah khawatir, cuma lain kali kalo Nadia pulang telat, ibu sama Ayah makan aja duluan gak usah nungguin Nadia terus gak usah juga jemput Nadia nanti malah yang ada Nadia malu, bu," kata Nadia membuka ikat tali sepatunya dan menaruh di rak.


"Ibu hanya khawatir tidak mau kehilangan kamu nak, bukan ingin membuat kamu malu, lagian yang ingin menunggu kamu untuk makan bersama itu ayah, katanya biar ramai," uncap ibu.

__ADS_1


Uncapan ibu membuat Nadia teringat lagi akan kejadian yang sampai saat ini sangat menyiksa hatinya, membuat seuatu penyesalan yang tak berujung, jadi Nadia pun mengerti perasaan kedua orangtuanyq, terlebih kepada ibu ia kehilangan anak juga gara-gara Nadia.


"Maafin Nadia, bu! iya Nadia akan berusaha untuk pulang cepat lagi kedepannya dan akan selalu berhati-hati dan bisa jaga diri demi ibu dan ayah," uncap Nadia menyesal.


"Yasudah sekarang kamu masuk cuci kaki dan tangan, juga jangan lupa sholat habis itu kita makan bersama, lihat ayahmu sudah menunggu sedari tadi, dan harus juga minum obat," perintah ibu.


Nadia melihat ke arah ayah dan yang di lirik hanyak tersenyum menatapnya, Nadia membalas senyum itu dan segera menuju dalam untuk membersihkan diri tanpa menunggu lagi.


Sekitar setengah jam ayah dan ibu menunggu Nadia untuk bebersih diri dan menunailan sholat 4rakaatnya kini, Nadia sudah berkumpul dan duduk di meja makan bersama keluarganya, ibu terlebih dulu mengambilkan Nasi dan lauknya untuk ayah lalu kemudian Nadia dan terakhir ibu, mereka menikmati makan siang bersama meski kurang satu anggota.


Setelah selesai makan bersama ibu dan Nadia membantu ayah kembali ke kamarnya untuk istirahat, dengan susah payah mereka berdua mengandeng tangan ayah, tubuh lelakinya yang membuat ibu dan Nadia jadi agak berat untuk menahannya tapi semua tak ia tunjukan di depan ayah takut ia tersinggung.


"Hufft akhirnya sampai juga di kasur ayah, sekarang minum obat dulu sebentar ibu ambilin air minum dulu untuk ayah," kata ibu membantu ayah duduk di kasur.


"Ayahh cukupp,,, kenapa ayah bilang begitu! ayah sama sekali tidak menyulitkan aku dan ibu kok, ayah selalu menjadi kebahagian kami, ayah harus kuat harus bertahan demi Kasih dan jangan bicara ngawur lagi seperti itu Nadia sedih yah, Nadia akan selalu jagain ayah ngurus ayah sampai kapan pun, hiks jadi tolong berhenti bicara yang macam-macam," uncap Nadia memotong perkataan ayah lalu memeluknya.


"Iya benar, kata Nadia! ayah sama sekali tidak menyulitkan kami kok, kami iklas bantuin dan ngerawat ayah karena itu sudah menjadi tugas dan kewajiban kami," tambah ibu yang mendengar uncapan ayah terasa terisis saat tadi ayah bilang begitu.


Ibu membantu ayah minum obatnya yang hanya tinggal dua butir cukup untuk besok pagi minum, biasanya ibu menebus obat ayah sebulan sekali, sekalian dengan harga tiga ratus ribu dan ini sudah waktunya untuk menebus obat lagi ibu tak mengerti dengan obat ini karena ayah hanya menyuruhnya untuk menebusnya setiap bulan jangan sampai telat bersamaan dengan obat merah besar yang harus di minum pagi-pagi sekali saat bangun tidur dan belum makan apa-apa dulu.


Ayah memang melakukan terapi obat rutin bulanan yang di anjurkan dokter waktu itu, tapi setelah telat enam bulan baru mau melakukannya, sedangkam ini baru berlangsung tiga bulan masih ada 9 bulan lagi menunu waktu yang di tentukan, tapi kondisi ayah bukannya membaik malah memburuk entah salah obatnya atau emang lenyakitnya yang sudah mengigit.


"Hmm obatnya sudah habis besok sepulang jualan ibu mau mampir ke apotik dulu ya, ayah untuk nebus obatnya kali ibu pulang agak telat besok," kata ibu minta memberitahu.

__ADS_1


"Iya bu, ga apa-apa ayah bisa jaga diri kok," sahut ayah.


"Nebus obat lagi? bu, kenapa sih cuma nebus obat aja setiap bulan tapi kondisi ayah tidak membaik, kenapa tidak ibu ajak ayah kerumah sakit dan di rawat supaya ayah cepat sembuh, apa ibu tidak mau melihat ayah kembali sehat lagi?" tanya Nadia heran.


"Ga usah di rawat nak, sebentar lagi juga ayah sembuh kok kalo rutin minum obat dan banyak istirahat, kan ayah tidak sakit apa-apa," jawab ayah membela ibu.


"Sembuh apanya? selalu itu yang ayah bilang tapi lihat ayah bukannya ayah sehat kembali tapi ayah malah tambah parah, sebelumnya ayah masih bisa jalan sendiri walau dengan bantuan tongkat, tapi sekarang butuh di gandeng juga baru bisa jalan kan!!" emosi Nadia karena sedih terus melihat ayah begini.


"Ibu juga, ingin merawat ayah dan membawanya kerumah sakit tapi ayah selalu menolak dan tidak mau di ajak betobat dengan alasan sebentar lagi sembuh," uncap ibu menjawab pertanyaan Nadia sebelumnya.


"Cuma alasan ibu aja kan! palingan juga ibu tidak mau lihat ayah sembuh, ibu cuma mentingin uang saja, makanya ibu males ngajak ayah kerumah sakit!!!" tuduh Nadia lalu pergi meninggalkan ibu dan ayah.


Hati ibu sakit sekali itu pertama kali Nadia bicara dengan Nadia tinggi kepadanya, sebelumnya tidak pernah sama sekali sungguh hati jika sudah sakit akan terasa perihnya sampai keseluruh badan.


"Nadia!! Nadia tunggu,,, uhukk Nadia uhuk,,,!" teriak ayah memanggil Nadia untuk menyuruhnya minta maaf karena bicara kasar sama ibu membuat batuknya ayah kambuh.


"Udah ayah, udah biarin aja mungkin Nadia sedang lelah dengan tugas sekolahnya jadia ia sedikit emosi nanti juga membaik kok, ibu yakin nah sekarang ayan istirahat dulu ibu mau siapin buat jualan besok," kata ibu mencegah ayah.


"Maafin ayah, yah bu! gara-gara ayah Nadia jadi nyalahin ibu," ujar ayah menyesal.


"Udah gak usah di pikirin, sekarang istirahat," uncap ibu menyelimuti ayah lalu pergi setelah menaruh air di meja.


Ayah pun kini hanya sendirian di kamar men coba untuk istirahat memejamkan matanya tapi tidak bisa karena uncapan Nadia yang menyalahkan ibunya masih tergiang di tergiang di telinga ayah, membuat ayah juga mencemaskan perasaan ibu yang pastinya sangat terpukul dengan sikap Nadia, semoga saja besok Nadia sudah membaik.

__ADS_1


__ADS_2