
Keesokan paginya seperti biasa mamah Deswinta bangun pagi dan membuat sarapan untuk keluarganya sendiri, tanpa bantuan Dewi, sedangkan keluarganya sedang asyik berbincang di depan Tivi, saat semuanya sudah selesai di sajikan di meja makan mamah Deswinta memanggil keluarganya untuk sarapan bersama.
"Ayah, anak-anak sarapan sudah siap ayo kita sarapan dulu!" panggil ibu Deswinta.
"Baik Mah," Sahut semua lalu menghampiri meja makan.
Setelah selesai sarapan mamah Deswinta bersiap untuk menuju kesekolahan kembali ia ingin mendaftarkan Kasih lagi sekalian ingin belanja kebutuhan sekolah seperti alat-alat tulis, tas, sepatu, dan masih banyak lagi karena masih musim libur kenaikan kelas tinggal sehari lagi.
Seperti biasa mamah Deswinta di antar oleh sopir pribadinya menuju kesekolahan, sampainya di sekolah mamah Deswinta segera menuju kantor guru dan menyerahkan syarat untuk Kasih daftar sekolah setelah di baca dulu dengan seksama oleh bu guru Lestari barulah Kasih di terima sekolah disana bersama dengan Ridwan.
Betapa senang perasaan Kasih saat ini sungguh ia tidak pernah bermimpi bisa bersekolah lagi, sempat pupus harapan untuknya bebas sesaat setelah ia di culik dan masuk dalam kehidupan jalanan, tapi siapa yang sangka, pertemuannya dengan Ridwan memberikannya kehidupan baru baginya.
"Nah Kasih mulai besok kamu sudah bisa bersekolah bareng dengan Ridwan, tapi inget ya harus di antar jemput! gak boleh berangkat atau pulang sendirian!" tegas mamah Deswinta.
"Baik, Mah Kasih akan nurut apa kata mamah, terima kasih berkat mamah Kasih bisa merasakan indahnya sekolah lagi," uncap Kasih senang.
"Iya mah! Ridwan juga akan nurut kok dengan semua kata-kata mamah, dan tidak akan pernah menolak lagi untuk di antar jemput sekolahnya," sambung Ridwan.
"Semua ini kan mama lakukan juga untuk Keselamatan kalian, mamah tidak ingin kejadian dulu terulang lagi manah hanya ingin bersama dengan kalian tidak ingin berpisah lagi," mamah Deswinta memeluk kedua anaknya.
Setelah menasehati kedua anaknya, tanpa membuang waktu lagi mereka pun segera masuk mobil dan menuju ke tempat penjualan perkakas sekolahan mencari apa yang di butuhkan oleh anak-anaknya untuk sekolah.
Mobil melaju menyusuri jalan perkotaan yang begitu ramai oleh kendaraan roda empat dan juga dua yang berlomba menuju tempatnya masing-masing, setelah satu jam berkendara dalam mobil akhirnya mereka pun sampai di toserba di situ pusat perbelanjaan paling ramai pengunjubg karena semua yang kita butuhkan tersedia di tempat itu, dari kebutuhan rumah tangga, kantor, sekolah bahkan kebutuhan sehari-hari juga ada seperti makanan dan lain-lain sebagiannya.
__ADS_1
"Yuk Kita sudah sampai sekarang turun dan kalian pilih sendiri mau beli apa, mamah akan belikan semua yang kaluan mau!" ajak mamah Deswinta.
Kasih dan Ridwan memandang kagum tempat yang mereka kunjungin sangat ramai sekali, ini membuat mereka senang sekaligus takut karena belum tentu kan tempat ini aman dari kejahatan seseorang, bukannya masuk mereka malah melamun.
"Loh kok malah diam aja sih? gak mau masuk nih atau kita pulang saja kerumah tidak jadi membeli apa-apa?" tanya mamah Deswinta memecah lamunan kedua anaknya.
"Eeh,,, i-iya mah yuk kita masuk!" sahut Ridwan dan Kasih sadar akhirnya.
Mereka pun masuk kedalam dengan terus bergandengan tangan dengan mamah Deswinta, genggaman mereka begitu keras membuat mamah Deswinta sadar bahwa mereka sedang ketakutan, mungkin penculikan yang mereka alami sanggat kah kejam sehiga membuat mereka menjadi trauman dengan tempat-tempat ramai seperti ini, karena di tempat begini juga para penculik juga sering beraksi.
Setelah sampai di dalam pasar mamah Deswinta langsung menuju toko yang bertuliskan perlengkapan sekolah, disana Ridwan dan Kasih langsung memilih-milih yang mereka mau cukup lama mereka belanja di pasar mungkin dua jam lebih, setekah yang di butuhkan semua dapat mereka pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin siang.
Saat mereka menunu parkiran mobil di jalan saat menuju pintu keluar mereka melihat seorang ibu yang sedang menanggis histeris sambil meneriakin sebuah nama seseorang mungkin anaknya hal ini membuat Kasih dan Ridwan menjadi merinding.
Semua pengunjung ramai berkerumun berhenti sejenak unutk melihat apa yang sedang terjadi disana, tak terkecuali mamah Deswinta juga ikut kepo ingin tahun kejadiannya ia bertanya pada salah seorang yang sedang berdiri di sana.
"Permisi bu! apa yang terjadi sama orang itu kok menanggis disana?" tanya mamah Deswinta.
"Oh itu, ibu itu kehilangan putrinya tadi yang bersamanya mungkin tangannya terlepas saat sedang gandengan," jawab orang itu.
"Ohh gitu kasihan sekali pasti sedih banget ibunya karena kehilangan putrinya," kata mamah Deswinta.
Setelah tahu yang terjadi mereka pun memutuskan untuk segera kembali karena ingin bantu pun tak bisa bantu apw, di tambah Ridwan dan Kasih sedang gemetar tangannya kata penculikkan membuat kedua anak yang pernah jadi korban ini sesaat terbayang waktu kejadian yang menimpanya di markas.
__ADS_1
Saat mereka sudah berada aman di mobil barulah kedua tangan anaknya menjadi lebih santai lagi seakan beban berat yang menimpanya sudah hilang.
"Mamah perhatiin sepertinya tadi kalian ketajutan ya? apa yang membuat kalian takut?" tanya mamah ingin tahu.
"Ridwan, takut mah entah saat mendengar ada anak hilang sontak saja tubuh aku jadi gemetaran teringgat saat aku di kurung di markas," jawab Ridwan.
"I-iya Kasih juga mah Takut," sambung Kasih.
"Yasudah mamah ngerti kok perasaan kalian, karena mamah juga ngalaminnya sebagai seorang ibu yang kehilangan putranya, sekarang kita sudah aman sudah ada di dalam mobil, dan besok kalian juga sudah bisa bersekolah lagi, tapi inget pesan mamah jangan pernah berani pulang sendirian kalo belum ada yang jemput!" Nasehat mamah membelai rambut Kasih lembut.
Kedua anak itu hanya menjawab dengan satu kata iya di barengin dengan angukan kepala tanda mengerti, mobil pun melaju pulang setelah di suruh oleh mamah Deswinta untuk pulang, sopir yang dulu menjadi supir pribadi pak Surya kini menjadi supirnya Mamah Deswinta.
Sampainya mereka dirumah hari sudah mulai siang sekitar pukul 13.00 sudah lewat dari waktunya makan siang, sebelum lanjut makan siang mamah Deswinta mengajak kedua buah hatinya untuk sholat dulu baru makan siang, waktu pun berlalu begitu cepat saat kita sedang merasakan indahnya bahagian tapi entah kenapa jika kita sedih waktu sehari saja bagai setahun.
Hari Demi Hati Kasih semakin bahagia bersama keluarga barunya ia bisa bersekolah lagi setelah di masukin namanya kedalam kartu keluarga pak Surya dan menjadi putri angkatnya, ia selalu di antar jemput oleh mamah Deswinta agar aman dan kejadian dulu tidak terulang lagi,
Keluarga pak Surya juga tidak permah lelah untuk mencari dan terus mencari tentang keberadaan kedua orang tuanya Kasih mencari tahu asal usul Kasih tapi belum juga menemukannya entah sudah berapa banyak cara yang pak Surya lakukan dan berapa banyak Juga biaya yang sudah di keluarkan hanya untuk menemukan orangtua kandungnya Kasih.
Kasih kini sudah tidak terlalu sedih walau harapan untuk bertemu dengan orang tuanya terlalu kecil tapi Kasih selalu berdoa dan terus berdoa semoga ia bisa kumpul lagi dengan keluarga kandungnya entah itu kapan akan terjadi kini yang bisa Kasih lakukan hanyalah sabar dan sabar ia menikmati dulu kehidupan barunya, toh orang tua angkatnya juga sangat menyayanginya.
Bersambung.
Kita tinggalkan dulu kehidupan Kasihnya nanti lanjut ke kehidupan Ayah dan ibu ya!
__ADS_1