Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 43


__ADS_3

Keesokan Harinya Ridwan sudah di perbolehkan untuk pulang karena kondisinya sudah membaik, Mamah Deswinta yang semakam ini menemani Ridwan tidur di ruangannya,membantu Ridwan untuk berkemas sementara Arya akan mengurus pembayaran perawatan Ridwan tapi di cegah oleh Ayah Surya.


"Nak, Arya tunggu sebentar!" panggil ayah Arya.


"Hmm, ya tuan ada apa? ada yang bisa saya bantu?!" tanya Arya berhenti saat keluar ruangan Ridwan.


"Jangan panggil saya tuan, panggil saya Bapak saja, tadi saya dengar dari Kasih katanya kamu mau ke kasir, mau mengurus masalah pembayaran rawat inap Ridwan kan?" tanya ayah Surya.


"Iya tuan,, eh pak Surya maksud saya," jawab Arya cangung.


"Gak usah biar saya saja yang membayarnya karena Ridwan putra saya jadi ini sudah menjadi tangung jawab saya," kata ayah Surya.


"Tapi pak... kan sebelukmnya Ridwan tangung jawab saya, saya juga yang masukin Ridwan ke rumah sakit jadi sudah seharusnya saya yang bayar semuanya," kata Arya memberi alasan merasa tidak enak karena dia Ridwan jadi terluka.


"Gak apa-apa tidak usah terlalu di pikirkan masalah yang kemarin, justru saya sangat berterima Kasih banget karena kamu sudah menjaga Ridwan selama ini, dan mengurusnya dengan baik jadi karena saya,sudah disini ijinkan saya untuk membayar semua tagihan rumah sakit ini karena memang tangung jawab saya," ayah Surya memberikan alasan.


Sejenak Arya diam dan berpikir, sebenarnanya tidak masalah untuk pelunasa toh Arya sudah membaya separohnya waktu pertama daftar, jadi ia pun menyetujui permintaan dari dari ayah Surya.


"Baiklah pak! kalo begitu maafkan saya karena sudah membuat putra bapak terlibat dalam penangkapan penjahat padahal ia sudah berhasil kabur tanpa terluks sedikit pun," Arya menyesali lagi kejadian yang telah terjadi.


"Sudah tidak masalah kamu jangan terlalu pikirkan soal itu, yang penting sekarang Ridwan sudah sehat lagian kamu juga sudah menjaga putra saya dengan sangat baik, dan kita ambil hikmahnya kalo Ridwan tidak terluka mana mungkin kamu membawanya kerumah sakit kan, dan saat ini tidak akan pernah terjadi pertemuan antara putra dan orang tuanya," ayah Surya menjelaskan panjang lebar agar Arya tidak lagi merasa bersalah.

__ADS_1


Arya tersenyum dengan kata-kata ayah Surya yang begitu membuat dia tenang sekarang, ternya orang tua Ridwan adalah orang tua yang baik dan ramah beruntung Ridwan yang menjadi putranya, ayah Surya pun pamit ke Arya untuk segera ke ruang kasir karena sebentar lagi mereka harus pulang kerumahnya.


Di ruangan Kamar Ridwan, mamah Deswinta masih sibuk merapikan baju-baju Ridwan, kerana hari ini Ridwan di perbolehkan untuk keluar rumah sakit.


"Mamah seneng akhirnya kita bisa kumpul lagi kaya dulu ya, Nak mamah gak nyangka saat itu akan segera tiba, mamah selalu khawatir kalo mamah tidak akan pernah bertemu lagi dengan putra mamah, tapi alhamdulilah kenyataannya mamah kita bersama kamu, ini seperti mimpi," suara mamah mencurahkan isi hatinya menahan air mata.


"Iya mah! Ridwan juga sama tadinya Ridwan pikir kalo kita tidak akan pernah bertemu lagi, padahal Ridwan sudah rindu banget sama mamah dan ayah," uncap Ridwan yang menanggis tak pernah menyangka saat ini akan tiba.


Kasih yang berada di ruangan merasa sedih ia kembali teringat ayah dan ibunya ia pun sama ingin sekali bertemu dengan kedua orang tuanya dan juga Nadia kakak kandungnya tapi karana jauh dan Kasih tidak tahu jalan pulang mungkin harapan itu hanya tinggal mimpi baginya.


"Kasih kamu kenapa kok, nanggis sih?" tanya Ridwan yang kini lebih peka dengan perasaan dan sikap Kasih.


"Hiks,,, Kasih rindu ayah dan ibu Kasih juga ingin bertemu dengan mereka, tapi Kasih gak tahu dimana mereka sekarang, huhuhu... Ayah, ibu, kak Nadia Kasih rindu kalian," isak tangis Kasih makin menjadi.


"Huhu, hiks makasih mah, karena sudah mau terima Kasih di dalam keluarga kalian, Kasih janji gak akan nyusahin mamah, dan ayah, Kasih akan nurut apa kata mamah nanti," janji Kasih menyesali kejadian yang sebelumnya.


Siang Hari sekita pukul 12.00 wib, setelah Dokter datang mengecek kembali keadaan Ridwan, karena sebelumnya Ridwan memang suruh menunggu sampai jam dua belas setidaknya sampai dokter datang memeriksa, kini Ridwan sudah benar-benar di perbolehkan untuk pulang.


Di parkiran rumah sakit semua barang milik Ridwan sudah masuk ke dalam bagasi mobil karena memang tidak banyak si, begitu juga dengan baju-baju milik Kasih yang di belikan oleh Arya sudah tertata rapi di bagasi mobil karena mereka akan segera pulang menunu rumah keluarga bapak Surya.


"Om terima kasih ya selama ini udah jagain aku dan Kasih kalo gak ada om gak tahu deh kaya apa nasib kita dulu," uncap Ridwan sebelum pergi.

__ADS_1


"Iya om Kasih juga mau uncapin terimakasih untuk semua kebaikan om yang udah menjaga dan mengurus kami, dan maafin Kasih karena sudah merepotkan om selama Kasih tinggal di rumah om," sambung Kasih tak mau kalah.


"Iya sama-sama om juga nguncapin banyak-banyak terima kasih sama kalian berdua karena tanpa kehadiran kalian mungkin sampai saat ini om belum bisa menangkap para penculik itu, terutama Ridwan yang sudah betkorban untuk keberhasilan misi ini, berkat Ridwan semua anak yang di culik bisa kembali ke orang tuanya masing-masing," kata Arya bersyukur.


Arya berusaha untuk menyembunyikan rasa sedihnya karena harus berpisah dengan kedua bocah yang membuat rumahnya jadi Ramai, karena sebelumnya ia hanya tinggal seorang diri dan sebentar lagi semua akan kembali ke asalnya sendirian lagi.


Mereka saling peluk untuk berpisah walaupun kebersamaan mereka terbilang singkat baru sekitar seminggu tapi mereka sudah sanggat saling menyayangi karena tanpa ada Arya mereka tidak akan bisa selamat, apalagi sampai bertemu dengan kedua orang tuanya Ridwan.


"Sudah yuk! kita harus segera pulang, mas Arya saya uncapib terimakasih ya untuk semuanya karena sudah menjaga putra saya," suara mamah Deswinta membuat pelukan perpisahan selesai.


"Oh iya, bu sama-sama," uncap Arya tak tahu mau bilang apa.


Setelah saling melepas mereka pun masuk mobil pertama Ridwan di susul dengan Kasih lalu mamahnya Ridwan setelah itu mesin mobil pun di nyalakan dan mereka berangkat meninggalkan parkiran rumah sakit.


Arya yang sedari tadi menahan air matanya agar tidak tumpah di depan mereka, kini air matanya mengalir saat mobil mulai perlahan jalan, Kasih melambai-lambaikan tangannya ke arah Arya ada perasaan sedih dalam hatinya karena biar bagaimana pun Arya berperan penting untuk kehidupan mereka.


"Dadah om Arya sampai bertemu lagi!!" seru Kasih dari jendela mobil yang belum tertutup.


"Dah Kasih dan Ridwan hati-hati ya, om bakalan rindu sekali sama kalian," Arya membalas lambaian tangan Kasih.


Saat mobil pak Surya sudah tak lagi terlihat oleh mata, Arya pun pergi meninggalkan parkiran dan masuk ke dalam mibip miliknya, malaju menuju rumahnya dan berasa banget kehilangan itu kini air mata yang tadi hanya menetes kecil kini pecah di dalam mobil sungguh Arya merasa banget kesepiannya sekarang seakan tak rela untuk berpisah dengan kedua anak malang itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2