Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 61


__ADS_3

Saat malam hari sekitar pukul 19.00 wib, sehabis sholat isya rumah ibu sudah ramai oleh orang yang akan mengaji untuk almarhum ayah, satu persatu warga betdatangan kerumah ibu dan segera duduk di karpet yang telah di gelar sama ibu.


"Assalamualaikum," Salam bu Puji.


"Waalaikumsalam, ehh bu Puji sini masuk kirain siapa," kata ibu menjawab salam.


"Maaf ya bu Ningsih saya tidak sopan ya,masuknya lewat pintu belakang bukannya lewat pintu depan soalnya udah pada ramai di depan!" ujar bu Puji.


"Ohh iya bu tidak apa-apa kok, saya juga maklum sini bu, masuk!" pinta ibu menyuruh bu Puji masuk.


Bu Puji pun segeta masuk dan meletakan kue bawaannya di meja lalu menatanya di piring, untuk di suguhkan nanti kepada tamu pengajian.


"Maafin saya ya bu Puji, jadi ngerepotin begini," uncap ibu merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa bu Ningsih, semua kan sudah dapet gilirannya sendiri, jadi bu Ningsih jangan merasa terbebani begitu, oh iya gimana kabarnya Nadia apa sudah baik-baik saja?" tanya bu puji teringat Nadia.


"Hmm Nadia! masih marah bu, sama saya dari tadi belum juga keluar kamar, masih ngurung diri, saya jadi khawatir mana ia belum makan lagi," jawab ibu sedih.


"Ohh begitu, yang sabar ya bu, tapi kok kenapa Nadia bisa marah sama bu Ningsih emang, apa yang terjadi?" tanya bu Puji ingin tahu.

__ADS_1


Sebelum ibu menceritakan semuanya ibu membuatkan teh hangat dulu untuk bu puji yang katanya akan membantunya saat memghidangkan makanan untuk para tamu nanti, karena saudara iparmya ibu tak ada satupun yang membantu, tapi ibu sudah terbiasa dengan ini jadi tidak terlalu ibu pikirkan.


"Jadia gini bu, ceritanya Nadia menyalahkan saya atas kepergian ayahnya, ia memaki saya tadi di makam dan saya juga tidak tahu anak itu dapet keberanian darimana untuk membentak saya, dan saya yang terkejut langaung refleks tak sengaja menamparnya, lalu Nadia marah dan pergi meninggalkan saya," kata ibu bercerita soal kejadian tadi sore.


"Astagfirlloh, jadi gitu ceritanya tapi kenapa Nadia nyalahin ibu Ningsih soal kepergian ayahnya, emangnya ibu Ningsih tau saat pak Herman meninggal," tanya bu puji lagi.


"Saya selalu mengajak dan meminta suami saya untuk berobat ke dokter tapi ia selalu menolak dengan alasan nanti juga sembuh kalo istitahat, selalu itu yang teruncap jadi tadi pagi saat saya baru pulang dari menebus obat saya tetkejut mendengar suara tangisan Nadia, saya pikir suami saya cuma pingsan ehh gak tahunya dia malah sudah tidak ada," ibu berhenti sejenak mengambil Nafas dalam sungguh batinnya sangat terluka saat ini.


"Sabar ya bu, semua sudah jalannya dan saya yakin Nadia nanti juga akan ngerti keadaan yang sesungguhnya dan mau melepas dengan iklas kepergian ayahnya yang tiba-tiba ini, Gimana kabarnya Kasih ya sekarang sampai 4 tahun belum juga di temukan?" tanya bu Puji yang tiba-tiba teringat Kasih.


"Hikss,,, Kasihh ibu rindu nak,,,kenapa? cobaan saya begitu berat, pertama saya kehilangan anak, lalu suami jatuh sakit selama dua tahun, sekarang suami meninggal dan saya di benci anak sendiri, saya sungguh gak kuat bu hikkss,,,," isak tanggis ibu.


"Assalamualaikum, bapak-bapak semua yang hadir dan kumpul di sini saya uncapakan banyak-banyak terimakasih atas waktunya, dan kita akan segera saja memulai acara tahlilan untuk mendoakan alharmumah agar di ampuni segala dosanya dan di terima amal ibadahnya, juga di lapangkan alam kuburnya, dan keluarga ya di tinggalkan di berikan kesabaran, saya memawilkan keluarga meminta maaf kepada bapak-bapak jika semasa hidupnya almarhum punya saya yang di sengaja maupun tidak...," suara ketua rt membuka acara sebelum acara utama di mulai.


Ibu dan bu Puji yang ada di belakang mendengarkan pembukaan dari pak RT yang di lanjut dengan pas ustad sebagai pemimpin tahlilan malam ini, di mulai dari pembacaan alfatihah sebagai pembukaan lalu di lanjutkan dengan membaca Yasin, lalu di baca tahlil dan penutupan.


Sekitar pukul 21.00 wib acara sudah selesai ibu diminta oleh pak Rt untuk menyuguhkan hidangannya untuk para tamu sebelum akhirnya mereka pamit untuk pulang, ibu yang di bantu bu Puji membawa satu persatu piring yang berisikan beraneka jajanan.


"Makasih ya bu Puji, sudah membantu saya untung saja ada yang bantuin jadi saya tidak terlalu kerepotan," uncap ibu.

__ADS_1


"Sama-sama bu Ningsih gak usah sungkan kita kan tetangga, harus saling bantu cuma kok saya heran ya sama iparnya ibu kenapa tidak ada satupun yang datang membantu sedikit pun?" ujar ibu Puji tak menyangka.


"Hehe,,, ga apa-apa mungkin mereka pada sibuk dan jadi tidak bisa bantu," jawab ibu menutupin semuanya.


Ibu puji membalas jawaban ibu dengan anggukan kepala sebenarnya ibu Puji mengerti kalo mereka kakak ipar ibu memang dari awal sedang cekcok sama ibu, karena mereka tidak seneng dengan kehadiran ibu yang katanya di kabarkan merebut warisan mereka, padahal tak sedikitpun tuduhan yang di tunjukan untuk ibu itu tidak benar.


Setengah jam kemudian semua tamu pengajian pamit pulang, ibu dan bu Puji membantu merapikan tempat pengajian membawa kembali piring-piring kotor ke daour dan melipat karpet lalu menyimpannya untuk di pakai lagi besok.


"Yasudah kalo gitu saya pamit, pulang dulu ya bu Ningsih insya Allah besok malam saya datang lagi buat bantuin ibu!" pamit bu Puji.


"Iya bu Puji, sekali lagi saya uncapkan banyak-banyak terimakasih karena sudah mau repot-repot menyempatkan waktunya untuk membantu saya," uncap ibu sungkan.


"Bu Ningsih ga usah sungkan gitu saya dari awal ketemu ibu juga saya udah seneng sama ibu Ningsih, karena bagi saya ibu Ningsih itu orangnya baik tidak seperti yang di bicarakan oleh orang-orang yang tidak suka, jadi saya insya Allah akan bantu ibu Ningsih jika memang di butuhkan," kata bu Puji menawarkan bantuan.


"Iya bu Puji, alhamdulilah saya seneng bisa kenal dan ketemu sama bu Puji yang selalu bantu saya saat saya sedang membutuhkan bantuan," ibu tersenyum mendengar perkataan ibu puji.


Setelah itu bu puji pergi setelah menguncapkan salam rumah bu Puji tidak terlalu jauh dari rumah kakak iparnya ibu, jadi bu Puji tahu semua yang terjadi antara keluarga ibu dan kakak iparnya.


Setelah semua pergi rumah kembali sepi kini hanya tinggal ibu dan Nadia yang sedang mengurung diri di kamar sedari tadi tidak mau keluar, ibu masih khawatir dengan keadaan Nadia yang tidak mau bicara atau keluar rumah padahal belum makan dari pas pulang sekolah tadi siang.

__ADS_1


__ADS_2