Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 32


__ADS_3

"Yaudah Ridwan kamu berangkat hati-hati ya, dan ingat semua pesan mamah yang tadi di sampaikan," kata ayah memberi ijin.


"Baik ayah, terima kasih aku pamit, assalamualaikum!" salam Ridwan mendekati sepedanya.


Ridwan berangkat sekolah dengan mengendarai sepeda miliknya sebelum kesekolah Ridwan pergi kerumah temannya Ciko untuk berangkat bersama-sama kesekolah.


Singkat cerita mereka saat pulang sekolah mereka sebelumnya sudah merencanakan mau main dulu kesuatu tempat tokok buku untuk mencari buku komik sekukaan mereka yang kabarnya rilis hari ini.


"Wan, gimana jadi kan kita mampir ketoko buku untuk beli buku naruto yang baru datang?" tanya Ciko.


"Hmm gimana ya, tadi aku udah janji sama mamah untuk pulang cepat dan tidak akan mampir kemana pun, jadi kalo aku tidak ikut hari ini gimana?" jawab Ridwan bingung.


"Sebentar aja, Wan yuk kita kesana temenin aku ini gak akan lama juga kok begitu dapet bukunya kita segera pulang kerumah deh janji," jawab Ciko membujuk.


Ridwan diam dia ragu, sebenarnya ia sangat ingin ikut tapi dia sudah janji pada mamahnya, tapi karena Ciko terus saja membujuknya membuat Ridwan jadi terbuai dan ia mengiyakab ajakan Ciko dan melupakan janjinya ke mamahnya.


Sampainya di toko buku ciko langsung memilih- milih mencari buku yang ia inginkan, Ridwan pun asyik menikmati berbagai macam buku yang berada di tokok buku yang letaknya agak jauh dari sekolahnya, lama mereka di sana sekitar satu jam baru menemukan yang di cari Ciko segera membawa bukunya ke kasir untuk membayarnya dan segeta kembali.


"Yess akhirnya dapet juga bukunya, yuk Wan kita pulang aku bayar dulu ya ke kasir!" ajak Ciko.


"Ohh ok aku tunggu sini ya," sahut Ridwan menunggu di pintu keluar.

__ADS_1


Sebenarnya Ridwan masih betah di tempat itu tapi karena harus segera kembali akhirnya ia pun pergi dengan perasaan kecewa dan iri kepada Ciko yang di berikan kebebasan oleh orang tuanya tidak seperti dirinya.


Ciko adalah anak dari pasangan suami istri yang bekerja sebagai karyawan pabrik di jakarta yang membuat Ciko harus di tinggalkan oleh kedua orang tuanya di rumah, Ciko hanya tinggal dengan neneknya sedari ia kecil, karena kehidupan Ciko tak seberuntung Ridwan yang orang tuanya seorang pengusaha mebel.


Ya itu lah kehidupan di dunia ini ada yang di bawah dan ada yang di atas terkadang mereka yang hidupnya sedari kecil sudah ada di bawah akan iri dengan mereka yang di atas, dan sebaliknya mereka yang sedari kecil hidup enak tapi merasa terkekang akan iri dengan mereka yang dari kalangan bawah.


Setelah membayar harga buku komiknya di kasir Ciko segera pergi dari toko buku bersama Ridwan, sepanjang jalan merekw mengayuh sepedanya hingga tiba di sebuah jalan yang memang jam segini jalan itu sepi dari orang yang berlalu lalang, Ciko menghentikan laju sepedanya di jalan sepi tersebut membuat Ridwan bertanya.


"Ciko, kok kita berhenti disini sih! bukannya jalan menuju rumahnya masih agak jauh?" tanya Ridwan yang terpaksa ikut berhenti.


"Bentar Wan kita istirahat dulu disini aku, penasaran banget sama isi buku komiknya jadi mau lihat sebentar," jawab Ciko.


Ciko tak memperdulikan perkataan Ridwan yang saat itu sedang khawatir, sedangkan hari sudah makin siang Ciko masih asik menbaca buku komik barunya membuat Ridwan makin gelisah di buatnya.


Sekitar pukul 14.00 wib sudah lewat dari waktunya makan siang Ciko baru mengajak pulang kerumah, saat mereka berdua keluar jalan itu ada dua orang pria tak di kenal mengendarai motornya sambil mengikuti kedua anak itu, dan pria tersebut mendekati mereka berpura-pura mencari alamat dan meminta keduanya untuk menunjukkan jalan.


Tanpa curiga juga mereka pun mengantar pria itu ke alamat palsu yang orang itu sendiri pun tidak tahu rumah siapa, mereka berjalan bersamaan saling berdampingan saat di tengah-tengah jalan Kedua pria itu meminta mereka untuk naik motor saja biar lebih cepat, Ridwan dan Ciko pun menurut.


Sepeda mereka tinggal di depan toko yang memang oko itu biasa untuk penitipan barang, dengan membayar jasa kedua pria itu yang bayar jasa penitipannya saat korban sudah masuk perangkat pria membawa motornya dengan kecepatan tinggi.


Merasa ada yang aneh Ciko segera berontak ingin kabur melepaskan diri dari kedua pria tersebut, motor itu hampir saja jatuh tapi berhasil di kuasai lagi, akhirnya karena tidak sanggup dengan sikapnya Ciko kedua penculik itu membius Ciko dan Ridwan agar pingsan.

__ADS_1


"Ehh, omm kok ini kesini salah jalan, harusnya kan kesana?" tanya Ciko merasa curiga.


"Udah diam dulu ikut om dulu sebentar kesana mau beli oleh-oleh dulu sebelum mampir," jawab pria bohong.


Ridwan yang di depan merasa khwatir dan cemas denga keadaan saat ini membuat dia hanya diam ketakutan tanpa bicara sepata kata pun.


"Om, kalian orang jahat ya? kalian mau bawa kami kemana cepat turunin kami atau enggak kami teriak nih!" ancam Ciko tegas.


"Udah kamu diem aja gak usah banyak bicara kalo emang mau selamet," pria itu pun ikut mengancam kedua anak malang.


Ciko terus berontak mengoyangkan tubuhnya yang masih di pegangin, agar bisa lepas dari cengkraman mereka tapi apalah daya Ciko sekeras apapun Ciko mengeluarkan tenaganya untuk berontak tapi usahanya sia-sia dia tetap kalah melawan dua orang pria dewasa.


Lain ceritanya jika Ridwan saat itu mau menbantu Ciko untuk melawan pasti akan berhasil tapi sayang saat itu Ridwan hanyalah seorang anak kecil yang penakut ia hanya tertunduk diam saat temannya sedang mencari celah untyj bebas.


Kini kedua anak malang itu sudah pingsan di tangan kedua orang jahat yang tidak bertanggung jawab, mereka membawa Ciko dan Ridwan ke kota jauh dari tempat tinggalkan meninggalkan kecemasab di hati keluarganya.


Sementara mamahnya Ridwan yang mengetahui kalo Ridwab pulang telat segera mencari kesana kemari tapi tidak juga di temukan begitu juga dengan keluarganya Ciko, bahkan kedua orang tuanya pun segera pulang ketika di beritahu kalo putranya di culik.


Hari demi hari, minggu ke minggu bahkan bulan ke bulan mereka kedua keluarga yang kehilangan putranya mencari tapi nihil tak membuahkan hasil karena memang sudah tak di kampung lagi, bebekal sepeda yang di temukan di tempat penitipan barang yang ternyata sepeda itu di jual oleh para penculik bukan di titipkan, mereka kedua keluarga melaporkan ke polisi tapi nol juga hasilnya.


Sampai setengah tahun lamanya sudah mereka mencari dan akhirnya betputus asa sudah, membuat sang benek Ciko meninggal Dunia dan ibunya sakit-sakitan karena shok.

__ADS_1


__ADS_2