
"Terimakasih bu Rt kalo gitu atas ijinnya dan juga, sudah menerima Dimas jadi warga sini anggota keluarga saya, kalo gitu saya permisi dulu mau lanjit jualan," kata ibu pamit.
"Ehh tunggu dulu bu Ningsih saya tolong di bikini pecel juga di bungkusin kue kue basahnya ya, masing masing lima!" pinta bu Rt masuk ke dalam.
"Oh baik bu Rt sebentar saya buatin dulu," kata ibu.
Bu Rt sudah kembali lagi membawa piring di tangannya dan menyerahkannya ke ibu untuk di isikan oleh pecel, juga kue kue basah yang ibu jual ada, putu ayu, kue bolu kukus ada kue lapis dan juga ada kue apem.
"Bu Ningsih saya mau tanya nih? ini kemarin kan bu Ningsih sempet tertarik untuk menabung nah saya mau tanya bagaimana jadi atau tidak mumpung ayahnya Damar ada di rumah kan dia yang urus semuanya?" tanya bu Rt.
"Wah mau bu, apa saja syaratnya untuk bisa jadi peserta tabungan ini? terus berapa minimal saya harus nabungnya sehari?" jawab ibu setuju balik tanya.
"Syaratnya cukup ktp dan kk saja kok, dan untuk jumlah nabung terserah ibu mau berapa," jawab bu Rt.
"Oh yasudah kalo gitu saya akan nabung sesuai kondisi jualan saya aja deh, klo jualan saya agak lumayan saya nabungnya di banyakin dan sebaliknya klo sedang nikmat saya akan tetap nabung walau sedikit," kata ibu.
"Oh iya betul itu silakan kalo begitu atur bu Ningsih saja, dan setiap hari bu Ningsih harus mampir kesini ya untuk nabung mulai besok ya," kata bu rt memastikan.
"Baik bu rt saya akan mampir kesini setelah pulang jualan, oh iya ini pecel dan kuenya," ibu sudah selesai melayani bu Rt menyajikan pesanannya.
"Jadi berapa semuanya?" tanya bu rt.
"Semuanya jadi tiga puluh ribu bu," jawab ibu.
Setelah bu rt memberikan uang pas tiga puluh ribuan ibu dan Dimas lanjut berjualan keliling kampung sambil teriak menyebutkan jualannya memanggil semua orang yang ada di dalam untuk keluar.
"Pecelll... pecell..., kue basahnya!" suara Dimas lantang.
__ADS_1
Ibu tersenyum hari minggu ini sunguh hari yang bahagia untuk ibu, karena ia berjualan di temani oleh Dimas dan ibu tidak lagi merasa kesepian, berkeliling kampung sendirian lagi.
Setelah setengah hari ibu dan Dimas berkeliling kampung menjajan jualannya sekitar pukul 11.00 wib dagangan ibu sudah habis seperti biasanya ibu langsung mampir ke pasar untuk belanja bahan jualan untuk besok lagi.
"Alhamdulilah sudah habis dagangannya bu, kita langsung pulang nih?" tanya Dimas.
"Sebentar ibu mau kepasar dulu belanja bahan untuk besok lagi, tapi kalo Dimas lelah tunggu sini saja tidak usah ikut ibu ke pasar, lagian ibu cuma sebentar kok," jawab ibu menyiapkan uangnya dulu.
"Gak Apa apa bu, Dinas ikut ibu aja, ke pasar lagian nanti Dimas bisa bantu ibu untuk membawa barang kan, siapa tahu ibu butuh bantuan Dimas," tawar Dimas tidak mau berdiam diri.
"Yasudah kalo gitu yuk ikut ibu kita belanja, nanti di pasar kalo Dimas butuh apa apa bilang sama ibu ya, insya Allah ibu akan belikan kok!" pesan ibu.
"Iya bu baik, Dimas akan bilang jika ingin sesuatu," sahut Dimas mengiyakan supaya ibu senang.
Dimas dan ibu pun berangkat ke pasar bersama sambil mendorong sepedanya yang sudah enteng tidak seperti saat tadi mereka berangkat jualan karena dagangan ibu sudah habis terjual hari ini tak tersisah.
Sekitar setengah jam ibu berkeliling pasar setelah semua yang di dapat di butuhkan ibu mereka pun memutuskab untuk segera pulang karena ibu masih harus merapikan rumah bu Puji, seperti yang sudaj di sepakatin kemarin sebelum bu Puji berangkat ke jakarta.
"Sudah selesai bu belanjanya?" tanya Dimas membantu membawa belanjaan.
"Sudah kok, yuk kita pulang kenapa kamu tadi tidak beli apa apa? kan ibu sudah bilang kalo ingin apa apa ngomong ibu pasti belikan kol!" jawab ibu.
"Ya makanya Dimas tidak minta itu berarti tidak ada yang Dimas mau, Dimas cuma mau bantu ibu bawa belanjaan supaya ibu tidak kecapean," ujar Dimas beralasan.
"Oh terimakasih nak, karena sudah mau bantu ibu berkat kamu pekerjaan ibu jadi ringan sekarang, yasudah yuk kita pulang habis ini ibu masih harus membereskan rumah bu Puji!" ajak ibu mendorong sepedanya lagi semua belanjaannya ibu taru di sepeda agar tidak terlalu berat.
"Siap bu yuk kita pulang nanti Dimas bantuin juga ya, beberesnya supaya cepet selesai," pinta Dimas sekali lagi menawarkan bantuannya.
__ADS_1
Ibu cuma mengangguk mengiyakan karena percuma juga jika ibu menolak pasti Dimas akan tetap memaksa untuk membantunya.
Sampainya ibu di rumah ibu segera memarkir sepedanya dan menaruh barang belanjaannya di dalam kulkas agar tetap seger sampai saatnya nanti di olahin oleh ibu.
"Assalamualaikum, alhamdulilah akhirnya sampai rumah juga," kata ibu menguncap salam setibanya di depan pintu.
"Waalaikumsalam," sahut Nadia dari dalam tapi tidak keluar menyambut ibu, tidak seperti dulu saat semuanya masih baik baik saja.
Sebelumnya ibu tidak pernah menyangka kalo ia akan kekurangan kasih sayang dan perhatian dari putri sulungnya, bagi ini kekurangan harta sudah biasa dan ibu sanggup untuk menjalankannya, tapi ini ibu juga kekurangan kasih sayang dan perhatian dari Nadia membuat ibu jadi sedih dan selalu kurang semangat jika sudah sampai rumah, tapi ibu tetap memaksa untuk tersenyum walau pahit.
"Yuk Dimas bantu ibu bawain semuanya masuk ibu mau simpan dulu dalam kulkas, setelah itu ibu mau beberes diri dulu karena sebentar lagi azdan duhur, nanti baru sehabis kita makan baru ke rumah bu Puji," kata ibu mengatur jadwal dengan baik.
"Siap bu, laksanakan," Dimas melakukan gerakan hormat seakan seorang prajurit sedang hormat pada atasannya.
Ibu tersenyum terhibur dengan tingkahnya Dimas yang konyol membuat ibu sejenak melupakan kesedihannya karena kehilangan kasih sayan putrinya, tidak jauh Nadia yang melihat semuanya cuma tersenyum sinis, entah perasaan apa yang saat itu Nadia rasakan iri kah? atau tidak seneng?
Setelah beberes dan selesai solat ibu makan siang dulu bersama dengan Dimas seperti biasa ibu hanya makan berdua saja dengan Dimas di dapur karena tidak mau membuat Nadia tidak nyaman dengan terus makan semeja dengannya.
"Nadia sudan siang apakah kamu sudah makan, nak?" tanya ibu kepada Nadia yang masih duduk di ruang tamu membaca buku.
"Bukan urusan ibu, ibu urus saja itu anak baru ibu jangan perdulikan aku lagi," jawab Nadia sinis.
"Loh kok kamu bicaranya seperti itu sih? ibu kan hanya bertanya karena ibu mengkhawatirkan kamu tapi kenaoa tanggapan Nadia kok malah bikin ibu sedih," ujar ibu kecewa dengan sikap Nadia.
"Ya sudah sih, kalo ibu mau makan ya makan aja dulu sana? Mau Nadia sudah makan atau belum apa kah ibu masih perduli sekarang sama Nadia apalagi semenjak ada anak manja ini, baru juga sehari disini udah bikin ulah entah kalo bertahun tahun apa jadinya," ketus Nadia lalu pindah ke kamar meningalkan ibu yang masih berdiri tidak percaya dengan sikap putrinya yang kian hari makin menjauh darinya.
"Ya Allah nak, sampai kapan kamu akan seperti ini terus menjauhin ibu tanpa ibu tahun apa salah ibu, kalo kamu masih terus menyalahkan ibu atas kepergiannya Ayah, kan ibu sudah menjelaskan semuanya, tapi kenapa kamu tidak pernah mau percaya sama ibu! segitu bencinya kah kamu, sampai sampai tak mau lagi menganggap ibu ada," gumam ibu dalam hati menanggis.
__ADS_1
Seandainya ibu bisa memutar waktu saat dimana ayah masih bersamanya, ingin rasannya ibu membawa paksa ayah kerumah sakit agar bisa sembuh dari sakitnya, tapi yang namanya umur sudah tidak bisa di tawar lagi, sekuat apapun ibu berusaha untuk memberikan perawatan yang terbaik untuk ayah, kalo memang sudah umurnya sampai situ, lalu ibu bisa apa? semua penyakit pasti ada obatnya, kecuali satu penyakit yang tidak ada obatnya yaitu kematian.