Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 22.


__ADS_3

Sementara di tempat lain.


"Omm... kok kita kesini? kapan nyampenya ke rumah ibu? Kasih udah laper nih mau makan?" tanya Kasih yang sampai saat ini belum sadar dengan niat kedua orang itu.


"Iya sabar ya, sebentar lagi kita makan dulu disitu,tadi om ada urusan dulu ke rumah temen jadi kita kerumah ibunya setelah om selesai dulu ya," jawab si om A bohong.


"Oh yaudah tapi, Kasih laper nih mau makan kapan kita makannya,kalo di rumah Kasih pasti udah makan jam segini," kata Kasih lagi polos.


Kedua orang asing itu terpaksa menghentikan motornya di suatu warung makan di daerah yang tidak Kasih kenal begitu jauh dari tempatnya berada tadi, Kasih ikut turun saat kedua orang itu ikut turun dan mengajaknya ke warung untuk makan.


"Yuk kita makan dulu disitu, tar lanjut lagi jalannya!" ajak si om A.


"Asyikk makan! akhirnya Kasih udah laper banget nih!" seru Kasih girang.


Saat di dalam warung Kedua orang itu segera duduk dan memesan makanan kesukaan mereka begitu pun dengan Kasih memesan sendiri makanan untuk dirinya.


"Bu, makan sini ya tiga saya nasi pakai sayur sop juga telor dadar saja, lue apa Jo?" tanya om A ke om B.


"Samain aja deh, kaya lue," jawab om B.


"Kamu! Kasih mau makan pakai apa?" tanya omA ke Kasih.


"Kasih mau makan pakai sayur sop, juga ayam goreng boleh om?" jawab Kasih balik tanya.


"Boleh, dah bu itu aja!" jawab om A lalu menyampaikan pesanan Kasih ke ibu warteg.

__ADS_1


Tak berapa lama ibu warteg sudah menyiapkan tiga piring nasi beserta lauknya dan memberikannya ke dua om dan Kasih, minumnya teh manis hanggat lalu mereka pun makan dengan sangat lahapnya, terutama Kasih yang memang sudah lapar sedari tadi.


Setelah selesai makan dan membayar semua harganya mereka dan langsung jalan tapi duduk dulu sebentar untuk istirahat, sekitar lima belas menit istirahat mereka segera berangkat lagi melaju motortnya menuju jalan ke tempat yang tidak Kasih ketahui.


"Yuk berangkat lagi tar keburu malam sampainya, udah cukup kan istirahatnya!" ajak om A untuk betanjak.


"Yuk om, Kasih udah gak sabar pengen ketemu ibu," kata Kasih penuh harap.


Kedua pemuda itu hanya saling lirik dengan senyuman jahatnya, entah apa yang ada di pikiran mereka saat itu sehingga tega untuk berbuat demiakuan menculik anak yang tak berdosa memisahkan dari kedua orang tuanya yang kini sedang menghawatitkannya, sedang mereka para penjahat hanya bisa tersenyum tanpa perduli penderitaan orang lain, hati kalo memang sudah di butakan sulit untuk membedakan mana yang baik dan yang salah.


Motor melaju semakin jauh dari desa tempat tinggal ayah dan ibu, tapi semakin mendekat ke arah perkotaan, setelah menempuh jarak yang cukup jauh, dan karena kelelahan Kasih tertidur di pelukan om yang kedua sedang menjaganya .


Saat sore hari sekitar pukul 18.00 wib, mereka sampai di kota di tempat tujuan mereka, lalu motor menuju kesebuah gudang yang sudah lama tidak terpakai, motor menepi di pinggir dan segera turun kedua pria tadi, sambil membawa Kasih yang masih tertidur.


Saat pintu di buka terlihat beberapa anak kecil yang sedang tertidur di lantai hanya beralaskan kardus saja mereka tidur tanpa sehelai selimut pun.


Kasih pun di baringkan di atas kardus tersebut bersama anak-anak yang lain, saat di baringkan Kasih terbangun dan menyadari bahwa dirinya berada di tempat asing bukan di rumah ibunya.


"Hooaaammm... hmm kita sudah sampai rumah ibu ya omm, ma...," Kasih berhenti tak meneruskan uncapannya saat melihat sekelilingnya.


"Dimana ini? ini bukan rumah ayah dan ibu, omm ini dimana tadi katanya om mau anter Kasih pulang tapi kok malah bawa Kasih kesini? ini di mana omm Kasih mau pulang Kasih kangen ibu?!" teriak Kasih mulai ketakutan.


"Udah diem, jangan berisik sekarang tempat kamu disini bersama yang lain, jadi jangan berisik lagi," jawab om sedikit teriak.


"Gak mauuu, huhuhu Kasih mau pulang Kasih mau ibu, Kasih mau ayah dan Kakak huhuhuhu, Kasih mau pulang," isak tanggis Kasih membangunkan yang lain.

__ADS_1


Ada sekitar sepuluh anak disitu yang senasib dengan Kasih di culik dan di jauhkan dari kedua orang tuanya entah sudah berapa lama mereka ada disitu pisah jauh dari keluarga yang selalu menlindunginya menjaganya, bahkan menjaga dari seekor semut sekalipun.


Tapi kini rasa nyaman dan aman itu telah hilang dari mereka berganti dengan rasa kewaspadaan dan ketakutan karena setiap hari mereka selalu di perlakukan dengan kasar di tempat itu, entah apa yang akan terjadi besok dengan Kasih.


"Diem gak?? berisik tahu awas kalo gak mau diem tar gue siksa nih!!" ancam om A dengan nada kasar membuat Kasih ketakutan dan berhenti merenggek.


Pria tersebut pergi dari kamat itu dan menutup pintunya dari luar meninggalkan Kasih yang terus menanggis minta pulang ini kali pertamanya ia jauh sangat jauh bahkan dati orang tuanya yang selalu memberikan kenyamanan.


"Huhuhu... ayah, ibu kakak, Kasih takut kalian dimana huhuhu Kasih ingin pulang gak mau disini, Kasih takut," isak tanggis Kasih.


Tak ada yang perduli dengan Kasih mereka yang juga mengalami nasib ya sama, saat pertama kali masuk dan berada di ruangan itu hanya bisa pasrah tanpa melawan dan berharap suatu saat ada keajaiban yang akan menolong mereka.


"Kamu terluka ya? sini biar aku obati dulu kaki kamu, kalo tidak bakalan berbahaya?" tanya seorang anak laki-laki menghampiri Kasih.


Saat anak itu mendekat Kasih malah mundur ketakutan karena masih terauma dengan kejadian di sekolah tadi pagi juga kejadian penculikan ini.


"Gak usah takut, saya sama kok kaya kamu jadi korban disini saya hanya ingin mengobati luka kamu, ya sudah jamu gak usah nanggis lagi percuma nanggis juga kita tetep gak bisa keluar dari sini," kata laki-laki itu.


"Ka-kakak siapa? te-terus ini tempat apa? kenapa om tadi bawa Kasih kesini, katanya mau bawa Kasih ke tempat ibu tapi kok malah kesini?" tanya Kasih terbata karena masih takut.


"Kenalin nama saya Ridwan saya udah setahun di tempat ini mereka itu penculik yang jahat memisahkan kita dari keluarga kita dan berbohong akan membawa kita kembali ke orang tua kita, padahal kita di kurung disini dan di suruh untuk cari uang di lampu merah untuk mereka," jawab Ridwan menjelaskan.


"Kerja? lampu merah? apa itu kak?" tanya Kasih binggung karena ini pertama kali ia mendengar itu.


Ridwan telah berhasil membujuk Kasih membuat ia tidak menanggis lagi membuang-buang tenaga saja lebih baik pasrah dengan keadaan sambil memikirkan cara untuk kabur dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2