Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 19.


__ADS_3

Ayah melaju motornya sepanjang jalan berharap bisa menemukan Nadia dan Kasih di suatu tempat, sambil melaju motornya pandangan ayah tak lepas dari pemandangan sekeliling karena sudah mendengar suara adzan ayah pun singgah di masjid dan melaksanakan sholat dzuhur dulu betharap setelah ini akan menemukan titik terangnya.


Ayah masuk ke masjid setelah memarkir motornya di halaman masjid ayah segera menuju tempat wudhu dan setelah itu segera melaksanakan sholatnya dan berdoa berharap di berikan petunjuk jalan yang benar.


*****


Di tempat Nadia Lagi.


Nadia masih terus mencari adiknya kesana kemari bertanya dari satu orang ke orang lain berharap salah satu dari mereka ada yang melihat Kasih, sedangkan Nadia sendiri tak berani pulang takut jika ia pulang nanti Kasih malah muncul dan gantian mencarinya.


Setelah ayah selesai solat, ayah tak langsung pergi meninggalkan masjid tapi ia duduk dulu di teras untuk istirahat sejenak, dan berpikir kemana lagi akan mencari kedua putrinya, tapi saat ayah sedang duduk bersandar d tidak jauh dari masjid ayah melihat seperti seorang anak yang mirip Nadia tanpa ragu ayah pun segera, menghampirinya untuk memastikan benar atau tidaknya itu Nadia.


Ayah berjalan menghampiri gadis kecil yang sedang duduk sendiri sambil menunduk, ayah melihat sepeda gadis itu da ayah mengenainya kalo sepeda itu memang punya Nadia, ayah pun merasa lega akhirnya bisa menemukan putrinya.


"Alhamdulilah akhirnya ketemu juga Nadia ternyata di cari kemana-mana ehh dia, malah duduk disini, dan semoga aja, bener itu Nadia," gumam ayah dalam hati betharap.


Sampainya ayah di tempat Nadia duduk ayah segera menyentuh pundak Nadia perlahan takut-takut kalo ayah salah orang, bisa malu nanti di lihat banyak orang.


****


"YA Allah dek, kamu dimana kakak lelah mencari kamu, dek kakak mohon datang dong ayo kita pulang ketemu ibu sama ayah kamu pasti kangen kan sama, mereka! " Nadia bermolog sendiri untuk menghiburnya.

__ADS_1


Nadia duduk kembali di tempat tadi ia meninggalkan Kasih tak berani beranjak dari situ, tadi sebenarnya ayah sudah lewat jalan itu karena memang jalan utama yang menghubungkan antara rumah dan sekolah tapi, tadi saat ayah lewat situ Nadia sedang ke masjid untuk sholat.


Saat Nadia sedang duduk sambil menundukkan kepalanya menangis karena khawatir terhadap adiknya, ia terkejut karena pundaknya di tepuk seseorang yang sangat dia kenal, dan itu membuat perasaan Nadia senang sekaligus sedih.


"Ayahhhh... !!!! " teriakk Nadia langsung memeluk ayahnya.


"Nadia kamu tahu gak, ayah udah nyari-nyari kamu kemana-mana tapi gak ketemu ehh gak tahunya kamu malah duduk disini, dimana Kasih? adek sama kamu kan? " tanya ayah tak henti-hentinya.


Nadia masih memeluk ayahnya dan menangis saat ayah menanyakan Kasih membuat ia takut untuk bercerita, tapi harus cerita.


"Ayahh hiks... maafkan Nadia hiks... huhuhu, ini semua salah Nadia maaf ayah hiks karena Nadia tidak mendengarkan kata ibu sebelumnya, hiks... dan menolak untuk di anter ke sekolah malah hiks Nadia memaksa untuk berangkat sendiri... " uncapan Nadia terhenti ketika ayah memotongngya.


"Kamu kalo bicara yang bener, berhenti dulu nanggis nya biar ayah ngerti maksud kamu, ayah tanya, sekali lagi dimana adek? kok ayah tidak lihat Kasih dari tadi?" tanya ayah lagi memotong perkataan Nadia.


"Apaaaa!!! kok bisa hilang!!!" ayah terkejut. "Kamu jangan bercanda Nadia ayah serius tanya, dimana adek?? terus kenapa kamu ada disini bukannya pulang ke rumah? " tanya ayah tak percaya uncapan Nadia.


Nadia mencoba, mengatur nafasnya dan mengendalikan emosi dirinya untuk berhenti menanggis agar bisa terus menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi agar ayah bisa mengerti apa yang akan Nadia ceritakan.


"Jadi hiks... waktu Nadia dan Kasih mau pulang sekolah Ban sepeda Nadia kempes dan Nadia mencari tambal bandung hiks, adek di ajak ikut sama Nadia dia menolak karena kakinya sedang sakit tidak bisa jalan jauhh, karena Nadia tidak tega dan tidak bisa gendong adek juga hiks Nadia akhirnya ijinin adek untuk menunggu disini, dan hisskk saat Nadia kembali, adekk udah gak adaaa, huhuhuhu maafin Nadia ayah gagal jaga, adek!!" kata Nadia bercerita walau dengan terisak.


Ayah diem lemas tak merespon cerita Nadia, perasaannya entah tak karuan saat ini ada perasaan cemas bingung harus jelaskan apa ke ibu, dan ayah juga tidak bisa menyalahkan Nadia sepenuhnya karena Nadia masih kecil, sudah menjaga Kasih sampai rumah saja udah untung.

__ADS_1


"Kenapa malah di tinggal adiknya bukannya Nadia ajak! emangnya adek kakinya kenapa kok bisa sakit dan gak kuat jalan?" tanya ayah berusaha untuk tenang.


"Tadi di sekolah hiks ada anak nakal yang dorong Kasig sampai dia jatuh dan terluka, di tambah dahinya juga terluka karena kena timpukan baru dari anak nakal itu, ayah!! " Nadia bercerita.


"Astaghfirullah,,, jadi adek sedang keadaan terluka, kenapa bisa begini sih, terus waktu Kasih di nakalin orang kamu diem aja? gak belain?!" tanya ayah emosi.


"Maafin Nadia ayah, waktu adek di nakalin sama, anak itu Nadia belum keluar kelas masih berdoa, jadi Nadia tidak tahun kalo adek ada yang nakalin, " jawab Nadia takut


Bagi Nadia baru kali ini dia melihat sisi keras dari ayah, karena, sebelumnya ayah selalu bersikap lembut dan perhatian di depannya, tapi kali ini ayah begitu cemas dan emosi, karena bingung harus menjelaskan apa ke ibu saat sampai kerumah nanti dan mengetahui Kasih hilang akan panik lagi nantinya.


"Terus dari tadi kami ngapain disini, bukannya pulang bilang ke ayah sama ibu?! " tanya ayah penasaran.


"Nadia, terus cari Kasih ayah, dan Nadia gak mau pulang takut nanti pas Nadia pulang Kasih dateng dan ketakutan nyariin Nadia, " jawab Nadia.


Ayah terharu mendengar uncapan Nadia yang begitu bertanggung jawab karena mungkin di usia Nadia ini cuma bisa bermain dan asyik sendiri tanpa, perduli dengan adiknya, tapi berbeda dengan Nadia walaupun ia suka egois sendiri tapi sikap kasih sayang dan tanggung jawabnya sebagai seorang kakak ia jalani dengan baik.


Dari sisi inilah yang membuat ayah tak tega memarahin Nadia karena ini tidak sepenuhnya salah dia, biar bagaimanapun Nadia sudah berusaha menjaga Kasih, ayah membelai rambut Nadia dan memeluknya karena ayah tahu saat ini perasaan Nadia juga sedang sangat khawatir sekali.


"Nadia udah makan belum?" tanya ayah.


Nadia mengeleng menjawab pertanyaan ayah.

__ADS_1


"Yaudah yuk kita pulang dulu, Nadia makan dulu baru nanti kita pikirin untuk nyari Kasih bareng-bareng dan semoga Kasih bisa segera di temukan! " ajak ayah menggandeng Nadia.


Nadia menurut mengikuti ajakan ayah untuk pulang, karena ia juga sudah sedari tadi menahan lapar karena panik mencari Kasih membuat ia tidak selera untuk makan padahal ia membawa uang. Nadia dan ayah pun pulang bersama sepeda Nadia di taruh di belakang motor di ikat dengan Tali.


__ADS_2