
Saat sedang melayani bu rt, ada pembeli yang jebetulan lewat dan mampir ingin membeli pecel ibu karena pecel pesenan bu rt belum jadi di buatkan ibu membuatkan dulu untuk pembeli itu, dan setelah itu baru punya bu rt sekalian ibu ingin bertanya tentang kertas yang ia temui.
"Bu Ningsih gimana keadaannya pak Herman? sudah baikkan belum?" tanya bu rt membuka pembicaraan.
"Hmm alhamdulilah bu rt, sudah agak membaik kok, sudah bisa berdiri," jawab ibu sedikit berbohong.
Sebenarnya keadaan ayah bukannya membaik tapi malah tambah parah dari hari ke hari membuat ibu menjadi sanggat khawatir, meninggalkan ayah sendirian di rumah tanpa ada yang jaga.
"Oh syukur deh kalo udah membaik seneng dengernya, padahal dulu pak Herman orangnya sehat banget ya kok gak nyangka sekarang bisa jadi penyakitan gitu," kata bu rt lagi.
"Ya namanya juga manusia bu, ada kalanya senang ada juga sedih, ada kalanya jaya ada juga susah, ya begitu juga dengan kesehatan suatu saat mesti sakit, semua udah ada jalannya sendiri kita sebagai manusia cuma bisa pasrah dan tawakal," ujar ibu.
"Iya bener kata bu Ningsih, tapi saya salut loh sama ibu sabar banget ngadepin ujian ini, dari kehilangan Kasih sampai 4 tahun lamanya, juga kejayaannya merosot lagi, dan sekarang suaminya sedang sakit, kalo saya jadi bu Ningsih beneran saya gak kuat pasti udah drop saya," puji bu rt yang sebenarnya uncapannya sangat menyakiti ibu.
"Alhamdulilah Allah masih sayang sama saya,masih ngasih saya ujian agar saya bisa lebih bersabar lagi, dan semoga kedepannya ada kebaikan besar yang menunggu saya," uncap ibu berharap untuk menghibur dirinya.
"Aminn, oh bu Ningsih mau minum biar saya ambilin?" tanya bu rt.
"Gak usah bu rt, saya habis ini mau keliling lagi, cuma ini saya mau tanya ini maksudnya gimana? yang di tulis di kertas ini tadi saya nemu disitu?" tanya ibu menunjukan kertas lembaramnya.
"Ohh ini, gini bu ini kita di suruh invetasi uang berapa aja yang ibu sanggup, nah ini kan ada tuh nominal dari terkecil sampai ke besar, tinggal pilih aja, nah terus kita cara bayarnya bisa dengan cara lunas atau kredit bisa berhubung di kampung jadi di bikin sistem seperti nabung, nah di sebutnya tabungan asuransi," bu rt menjelaskan ke ibu.
"Ohh gitu, terus manfaatnya yang kita dapetin selain kita punya simpenan apa lagi?" tanya ibu lagi belum paham.
"Manfaat lainnya selain ibu Ningsih bisa nabung sejumlah uang yang ada di kertas ini, ibu Ningsih juga punya kesempatan untuk mendapatkan bunga atau untung yang berlipat dengan uang yang di tabung," jelas bu Rt lagi.
__ADS_1
Ibu nampak berpikir ia sedikit belum mengerti dengan apa yang di maksud oleh ibu RT dengan keuntungan uang yang ia tabung caranya gimana?
"Hehe, maaf bu Rt saya masih belum paham dengan maksudnya dapet keuntungan dari uang tabungan itu gimana ya?" tanya ibu lagi malu-malu.
"Hmm, jadi gini maksudnya ibu Ningsih nabung nih uanf seumpama satu juta rupiah, nah dari uang itu bisa kita pinjemin ke orang tang sedang butuh modal atau butuh uang tepatnya, nah kan orang tersebut harus bayar dong utangnya, sesuai dengan yang udah di sepakati dari hasil uang pembayaran orang itu lah hasilnya uang ibu Ningsih bisa bertambah, semakin banyak ibu Ning nabung banyak juga untungnya," bu rt selesai menjelaskan dengan susah payah akhirnya ibu paham.
"Ohh begitu toh baru paham saya, terus kalo mau ikutan gimana caranya? nabungnya juga berapa?" tanya ibu mulai tertarik.
"Hmm ibu Ningsih mau ikutan? silakan saja besok mampir kesini bawa syarat-syaratnya, kk, ktp dan juga data si penerima asuransinya, besok saya jelasin lagi soal cara nabungnya," jawab ibu rt.
"Ohh yasudah besok insya Allah saya dateng lagi kesini sambil bawa syaratnya, sekalian ijin dulu sama ayahnya Nadia boleh atau tidak, kalo gitu saya permisi dulu bu rt, terima kasih untuk penjelasannya," kata ibu ijin pamit.
"Iya sama-sama bu, di laris-laris ya dagnggannya semiga cepet habis," doa bu rt sambil menyerahkan uang lima ribuan.
"Waalaikumsalam, hati-hati," balas bu rt lalu masuk kedalan rumah.
Ibu nampak tergiur dengan penjelasan bu rt tadi, ia masih menyimpan kertasnya untuk di tunjukan ke ayah nanti saat pulang juala, ibu berencana ingin bikin tabungan untuk masa depan kedua putrinya nanti saat ia tidak lagi bisa mencari uang untuk memenuhin kebutuhan hidupnya, karena ibu tidak mungkin akan muda terus suatu hari akan tiba masanya ibu tua dan rapuh lalu jika tidak ada tabungan masa depan bagaimana kehidupan anaknya nanti.
"Semoga saja ayah setuju dengan rencana ini, untuk bukin tabungan masa depan buat Nadia dan Kasih karena saya yakin suatu saat Kasih akan kembali ke pelukanku, dan aku berharap masa itu akan datang sebelum nafasku berhenti," doa ibu dalam hati penuh harap.
Dengan perasaan yakin dan tegad yang kuat ibu mengayuh sepedanya lagi untuk menukarkan jualannya dengan rupiah, selain ibu jualan pecel ibu juga membuat aneka kue basah yang ibu titipkan ke warung-warung tetangga dengan bagi untung dari ibu menghargai kue tersebut Rp, 800,- sedangkan nanti si penjul menghargai Rp, 1.000," dari hasil yang sedikit ini lah ibu mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk masa depan mereka sekeluarga.
"Pecell... pecel ... pecelnya bu ... murah meriah!!" suara ibu lantang memanggil para calon pembeli agar mau mendekat.
Saat ibu sedang melintas di depan sebuah perumahan elitt di situ ada sebuah rumah yang rupanya sedang ramai entah sedang ada acara apa, yang ibu lihat lagi banyak orang mungkin keluarga besarnya?
__ADS_1
"Bu pecelnya sini! saya mau beli!" panggil seorang ibu muda melambaikan tangannya.
"Ohh iya neng, sebentar saya kesitu," sahut ibu menghampiri ibu muda tadi
"Saya beli pecelnya ya bu, ehh nih pada mau pecel gak? mumpung ada yang lewat nih!!" kata ibu muda sambil memanggil teman yang lain.
Mereka yang ada di dalam rumah pun keluar semua memenuhin panggilan si ibu muda tadi yang memanggil ibu untuk mendekat.
"Gue mau dong,"
"Iya Gue juga,"
Suara mereka yang datang menghampiri, ibu yang mendengar gaya bicara mereka bisa menebak kalo mereka mungkin bukan orang sini, sebab setahu ibu semua yang di kampung ini tinggal bahasa bicaranya akan sedikit sopan tidak seperti mereka yang sedikit mengikuti cara bicara orang kota, karena ibu kelahiran kota jadi ia juga tidak begitu terkejut dan terganggu.
Mereka berebut minta untuk di layani terlebih dulu karena tangan ibu begitu lihai semua selesai di layani dengan sanggat cepat sekali dan betapa terkejutnya ibu bahwa jualannya hari ini sudah habis sampai disini.
"Berapa semuanya bu?" tanya pembeli yang memanngil tadi.
"Semuanya jadi seratus ribu neng," jawab ibu menghitung jumlah bungkusan yang ada di hadapannya belum di ambil si pemilik.
"Ohh ini bu, uangnya terimakasih bu," ujar si pembeli menyerahkan uang pas selembaran seratus ribu.
Ibu menerima uang itu dan berlalu tidak lupa ibu menguncapkan terima kasih pada ibu muda yang membeki jualannya bahkan habis di borong, memang ibu jualannya tidak terlalu banyak hanya sedikit karena ibu sudah punya jadwal pulang cepat, jam sebelas siang harus sudah di rumah ngurusin ayah.
Ibu mengayuh sepedanya melewati jalan yang tadi ia telusuri pertama berangkat dari rumah.
__ADS_1