
Setelah bu Puji dan suaminya pamit pulang ibu dan Dimas melanjutkan aktifitasnya kembali di dapur sebelum akhirnya membuka kardus yang berisikan baju-baju untuk Dimas, karena hari sudah makin sore dan menjelang malam ibu harus bergerak cepat takut tidak keburu nantinya.
"Yukk Dimas kita lanjut lagi tugasnya, ini biarkan dulu disini nanti baru kita lihat kalo sudah sengang!" ajak ibu.
"Baik bu, yuk kita lanjut lagi," sahut Dimas semanggat.
Sungguh ibu kini tidak merasa kesepian lagi sejak kehadiran Dimas hari ini walaupun pertemuan mereka belum lama, tapi Dimas langsung bisa menyesuaikan diri dengan ibu mungkin karena Dimas memang sudah terlalu lama merindukan sosok ibunya yang sudah dua tahun lalu meninggal Dunia karena kondisi sakit dan juga kelaparan, karena semenjak kakaknya hilang Dimas tak pernah laho dapat makanan yang layak.
Karena selama ini kakaknya lah yang mencari makan untuk Dimas dan Ibunya, kakaknya yang selalu mendorong-dorong mereka berdua dalam gerobak, karena kondisi ibunya yang sudah tidak bisa berjalan membuat Kakaknya Dimas yang masih kecil terpaksa mendorongnya.
"Bu hari ini, ibu mau bikin apa?" tanya Dimas.
"Ibu mau bikin kue-kue basah, kaya kue putu ayu, kue apem kue bolu dan masih banyak lagi yang lainnya," jawab ibu mulai dengan kerjaannya.
"Oh banyak ya jualannya ibu, oh iya besok aku boleh ikut sama ibu kan untuk jualan keliling!" pinta Dimas betharap.
__ADS_1
"Kamu apa gak sebaiknya di rumah saja kalo ikut ibu keliling untuk jualan akan cape nanti, kan jauh nanti jualannya," ibu menolak karena tidak mau melihat Dimas kecapean.
"Gak apa-apa bu! Dimas kuat kok, pokoknya besok Dimas mau ikut ibu jualan biar bisa bantuin ibu kalo ibu lagi kerepotan," paksa Dimas terus meminta ibu mengajaknya ikut serta.
Ibu yang merasa terus di pojokkan dengan Dimas akhirnya ibu pun terpaksa untuk mengiyakan kemauan Dimas untuk ikut keliling jualan, walau ada sedikit perasaan khawatir ibu juga merasa senang karena ada yang mau membantunya.
"Bu kak Nadia kemana? kok tidak keluar untuk membantu ibu? emangnya kak Nadia gak kasihan apa sama ibu?" tanya Dimas polos tidak mengerti.
"Kak Nadia khan harus belajar, tugas sekolahnya banyak dan tidak boleh di tinggal lagian kerjaan begini kan seharusnya emang ibu saja yang ngerjain bukan anak-anak, tugas anak itu belajar yang bener supaya dapat nilai yang baik dan bisa bikin orang tua bangga," jawab ibu menjelaskan walau sedikit berbohong.
"Ohh gitu ya! emang kalo di sekolah itu gimana rasanya si bu? kok aku tidak tahu ya?" tanya Dimas lagi penasaran.
Dan ilmu yang kakaknya Dimas dapat dari balik tembok sekolah selalu ia turunkan ke adiknya, sehingga adiknya sudah pandai berhitung, menulis, dan membaca walau tidak sekolah sama sekali.
"Loh emang Dimas belum pernah sekolah sebelumnya?" jawab ibu balik tanya.
__ADS_1
Dimas hanya mengeleng menjawab pertanyaan dari ibunya, dan ada sedikit raut sedih terpancar di wajahnya Dimas.
"Tapi tadi ibu lihat kamu bisa baca dan berhitung?! kalo kamu tidak sekolah bagaimana kamu bisa, lakuin itu semua?" tanya ibu ingin tahu.
"Dari kecil Dimas udah hidup di jalanan tidur dalam gerobak kesana kemari ikut kakak yang berkerja keras untuk aku dan ibu supaya bisa makan, dan setiap pagi kakak selalu mengajak aku untuk datang kesekolah bukan untuk sekolah di dalam kelas tapi cuma duduk saja,di luar sambil melihat je arah jendela, kakak selalu bilang kako ia sedang belajar, dan setiap kita pulang kerumah, tempat penampungan kakak selalu mengajari aku untuk menulis dan membaca juga, berhitung," Dimas bethenti sejenak karena ia sedang ingin minum.
"Kakak juga bilang katanya walaupun kita tidak bisa duduk di bangku sekolahan, bukan berarti bagi kita untuk tidak belajar karena belajar adalah hak dari setiap anak, untuk bisa membaca menulis dan berhitung itu sudah menjadi wajib bagi semua anak di indonesia ini, makanya sekarang aku bisa membaca walau aku tidak sekolah karena ada kakak yang jadi guru aku," lanjut Dinas mengakhiri ceritanya.
Ibu yang mendengar kisah tentang kakaknya Dimas menjadi terharu dan penasaran sebenarnya seperti apa sih sosik kakak yang selalu di banggakan oleh Dimas ini, ibu ingin sekali bertemu dengannya.
"Wah hebat sekali ya kakaknya Dimas, kalo boleh ibu tahu emangnya kakaknya Dimas ini laki-laki atau perempuan?" tanya ibu.
"Kakaknya Dima perempuan bu, seorang gadis kecil yang kuat dan perkasa itu lah nama yang di berikan untuk kakaknya Dimas dari orang-orang yang ada di penampungan ," jawab Dimas lagi.
Ibu dan Dimas masih bertempur di dapurnya untuk membuat kue kue basah untuk di jual besok, sambil mendengarkan kisahnya Dimas membuat ibu tak memikirkan beban hidupnya, ibu terasa semua beban yang ada di pundaknya menjadi ringan tak kala mendengar Dimas bercerita.
__ADS_1
Tak terasa waktu azdan magrib pun sudah terdengar sejenak ibu dan Dimas menghentikan aktifitasnya dan mereka menjalankan solat magrib bersama, setelah itu kembali lanjut lagi dengan tugas dapurnya setelah semua makan malam untuk menambah stamina mereka berdua biar kuat melek agak lama.
Bersambung.