
Sampainya ibu di rumah ia segera memarkir sepedanya di depan rumahnya dan segera menyuruh Dimas untuk turun, dan ibu membawa belanjaannya masuk siapa sangka,di saat ibu sedang kerepotan Dimas membantu ibu membawa barang belanjaan masuk.
"Maaf ibu Dimas ikutan masuk padahal kotor banget bajunya Dimas, tapi ibu kasihan berat bawa barang-barangnya!" uncap Dimas meminta maaf takut di marahin.
"Ohh iya ga apa-apa Dimas ibu malah berterimakasih sama kamu karena mau bantuin ibu bawa barangnya, jadi pekerjaan ibu sedikit terbantu," uncap ibu tersenyum senang
Semua belanjaan ibu sudah beres dan sebelum ibu mulai masak ibu menuju kerumah bu Puji dulu untuk membayar hutang yang tadi ibu pinjam pagi-pagi sekalian mau bertanya apakah ada baju bekas untuk Dimas, kebetulan anaknya bu Puji laki-laki siapa tahu ada yang pas dengan ukuran Dimas.
"Hmm kamu harus mandi ya Dimas, tapi ibu tidak punya baju ganti, oh iya ibu mau ke rumah tetangga dulu sebentar, kamu mau ikut ibu tidak!" kata ibu mengajak Dimas.
"Iya bu, Dimas mau ikut ibu," jawab Dimas karena memang Dimas masih takut di tinggal sendirian di rumah karena masih baru.
Ibu dan Dimas pun pergi keluar menuju rumah bu Puji, yang harus melewati rumah kakak iparnya ibu karena memang cuma itu jalannya, saat sedang lewat kebetulan banget mereka bertiga(kakak ipar) sedang duduk di teras pasti sedang gosipin orang karena emang cuma itu kerjaan mereka.
"Duhh cepet banget sih udah pada ngumpul aja di situ, petasaan tadi waktu aku pulang dagang belum pada nongkrong deh, kok sekarang udah pada ngumpul aja," gumam ibu dalam hati.
Ibu bukannya takut sama mereka cuma ibu lebih tidak ingin mencari masalah dengan mereka, karena setiap kali mereka melihat ibu selalu ada aja masalah yang akan terjadi dan memang sengaja di cari.
Ibu cuma tersenyum saja saat lewat tak banyak bicara, tapi senyum juga salah di mata mereka karena mereka sedang benci sama ibu jadi segala yang ibu lakuin yang semua salah tidak ada yang bener sama sekali.
"Ehh Ningsih siapa tuh anak yang ada di belakang kamu?" tanya sari saat Ibu lewat.
"Ohh ini Dimas Mba," jawab ibu singkat.
__ADS_1
"Saya gak tanya namanya saya cuma tanya dia itu anak siapa? kok bisa sama kamu?" tanya Sari lagi.
"Ohh ini anak angkat saya mba, tadi ketemu di jalan darimana dia gak punya tempat tinggal lebih baik saya ajak pulang dan tinggal bersama," jawab ibu lagi menjelaskan.
"Ohh gitu kirain siapa? gaya bener kamu mau ngasuh anak orang anak sendiri aja belum tentu bisa di urusin, emang sanggup kamu!" ejek Kakak satunya.
"Insya Allah sanggup mba, semua rejeki sudah ada yang ngatur kok, dan dari rejeki yang saya punya dan dapetin tiap hari juga ada haknya Dimas di dalamnya," uncap ibu tenang tak perduli sindiran dari mbanya.
"Belagu banget ya kalo ngomong awas aja klo sampe tar kekurangan apa-apa terus minta bantuan kita jangan ada yang bantuin ya!" kata Sari minta persetujuan yang lain.
"Okee!!"
"Siap,"
Sampainya ibu di rumah bu puji, ibu segera masuk dan kebetulan sekali bu pujinya sedang duduk di teras depan bersama dua orang yang lain mungkin itu saudaranya, ibu puji yang melihat ibu datang bersama Dimas segera bangun dan menghampiri ibu, karena ibu puji tahu sifat ibu ia tidak akan bicara jika ada seseorang disisi bu puji karena tidak ingin menganggu.
"Assalamualaikum, bu puji maaf ganggu saya datang di waktu yang kurang tepat ya?" salam ibu begitu masuk halaman dan melihat bu puji.
"Waalaikumsalam, bu Ningsih sini masuk udah pulang jualannya, enggak ganggu kok sini aja ngomong ada yang bisa saya bantu," bu puji menjawab salam sambil bertanya.
"Hmm, anu bu saya datang kesini mau bayar uang yang tadi pagi saya, pinjem sama saya butuh bantuan ibu," jawab ibu mau bercerita tapi malu.
"Oh ya ampun kirain ada perlu apa, harusnya gak usah buru-buru juga ga apa-apa pakai aja kalo emang belum ada, oh iya ini siapa? dan bu Ningsih butuh bantuan apa bilang aja?" tanya bu Puji yang nemang selalu baik kepada ibu.
__ADS_1
"Uangnya udah ada kok bu puji lagian tadi kan saya juga udah janji mau bayar nanti pas pulang jualan, saya harua tepati janji saya, ini Dimas bu saya bertemu Dimas di pasar tadi kasihan tidak punya orang tua dan tempat tinggal jadi saya berinisiatif untuk merawatnya, cuma...!" jawab ibu menjelaskan sambil menceritakan soal Dimas.
"Oh gitu baik sekali hatinya bu Ningsih, selalu mikiran orang lain padahal ibu sendiri sedang dalam kesulitan, Cuma kenapa kok tidak di terusin ceritanya?" bu puji kagum pada ibu dan penasaran dengan masalah yang ibu hadapi.
"Saya dateng kesini mau bertanya apakah ibu puji punya baju bekas untuk anak laki-laki? di rumsh cuma ada bajunya Kasih gak mungkin saya suruh Dimas untuk pakai pakaian perempuan kan bu? kalo misalnya ada baju bekas boleh saya minta!" uncap ibu akhirnya bisa menyampaikan maksud hatinya datang kerumah bu puji.
"Ohh baju bekas Hendra, kebetulan banget saya baru aja selesai berkemas memilih milih baju Hendra yang sudah kekecilan niatnya mau saya sumbangin ke panti nanti, untung aja bu Ningsih kesininya cepat kalo engga udah keburu di bawa, sebentar saya ambilin dulu bajunya," kata bu Puji.
"Alhamdulilah terimakasih bu puji, semoga kebaikan ibu puji di bales berkali kali lipat oleh sang maha kuasa," doa ibu bersyukur.
"Aminn,,, terimakasih doanya bu Ningsih, tunggu sebentar saya ambilin bu Ning duduk dulu sini ya sama kamu Dimas duduk dulu!" uncap bu puji menpersilakan.
Ibu tersenyum senang, sepintas ibu melihat ke arah Dimas nampak senyuman juga tersimpul di wajahnya Dimas ia begitu manis saat tersenyum, hanya wajahnya tertutup oleh kotoran Debu yang menempel.
Sekitar lima belas menit bu Puji susah kembali dari dalam rumahnya sambil membawa pakaian di tangannya hanya beberapa helai saja bukan kardusan.
"Ini bu Ningsih ada tiga setel dulu saya kasihin ya, untuk ganti hari ini aja dulu, nanti sisahnya nunggu ayahnya Hendra pulang biar nanti di anterin ke tempat ibu Ningsih soalnya agak berat banyak sih," kata bu puji menyerahkan bajunya.
"Terimakasih bu puji, ini bajunya masih bagus bagus ya! emang nanti mas Hendranya tidak kehilangan bu?" tanya ibu merasa kagum karena bajunya masih terbilang baru dan masih bagus.
"Enggak kok bu Ningsih, Hendra udah besar dan bajunya udah tidak muat banyak yang kekecilan, jadi ambil aja untuk Dimas mudah-mudahan pas ya, dan Dimasnya suka," jawab bu puji melihat ke arah Dimas.
"Terimakasih bu, Udah perhatian sama Dimas dan memberikan baju ganti ke Dimas, bagaimana pun modelnya Dimas akan sangat suka intinya Dimas bisa ganti baju gatel pakai baju ini terus," ungkap Dimas senang menerima pemberian ibu puji.
__ADS_1
Setelah ngobrol sebentar ibu mohon pamit pulang karena harus segera masak untuk makan siang sebentar lagi Nadia pulang sekolah, Dimas dan ibu pun pulang dengan perasaan senang karena sudah mendapatkan baju ganti untuk Dimas.