Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 60.


__ADS_3

Di Rumah ibu masih banyak warga yang sedang membantu merapikan segala peralatan kampung yang tadi di gunakan untuk memandikan jenasah kursi untuk duduk warga dan masih banyak lagi.


Nadia berlari dari kejauhan sambil menanggis menabrak seorang bapak yang sedang menlepaskan tenda, sampai hampir terjatuh tapi Nadia tak perduli ia terus saja lari tanpa minta maaf karena hatinya masih di rundung rasa sedih dan kecewa karena tamparan ibu tadi.


Brakk!!


"Ehh Nadia kok lari-lari?" tanya seorang yang hampir jatuh.


"Nadia kalo lari hati-hati hampir saja pak Sarip jatuh tertabrak kamu," tagur uanya Nadia yang melihat.


"Eee, pak Sarip gak apa-apa kan? maafin Nadia ya pak, anak itu emang ceroboh," ujar ua keduanya Nadia.


"Iya tidak apa-apa pak! namanyq juga anak-anak di tambah dia sedang sedih jadi saya maklum, sayanya juga baik-baik saja," kata pak Sarip.


Saat Nadia sudah masuk ke dalam datanglah ibu yang juga setengah berlari mengejar Nadia, karena kekhilafan ibu Nadia jadi marah dan sakit hati, semua warga yang melihat cuma bisa diem ikut merasakan kesedihannya, karena saat almarhum hidup, keluarga ini terkenal keluarga yang paling bahagia dalam segi kasih sayang, walau kurang dalam materi.


"Huh,, huh,,, Nadia tunggu ibu, nak! panggil ibu dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Bu, Ningsih yang sabar ya mungkin Nadia butuh waktu untuk menerima ini semua, namanya juga anak-anak ya wajarlah begitu nanti juga membaik sendiri," nasihat bu Puji.


"I-iya bu, terimakasih saya cuma khawatir sama Nadia," uncap ibu sedih.

__ADS_1


Bu Puji mengusap punggunya ibu memberikan dukungan agar ibu bisa lebih tenang lagi dalam menghadapi semua cobaan hidup yang datang silih berganti seakan enggan untuk pergi.


Ibu masuk ke dalam rumah mencoba menghampiri kamar Nadia, terdengar dari dalam kamar suara isak tanggis Nadia yang sengaja mengunci pintu kamarnya dari dalam tak memperbolehkan siapapun tawa dan melihat dirinya yang sedang terluka.


Tok! tok! tok.


"Nadia bukan pintunya sayang, maafin ibu sungguh ibu tidak senggaja,Nak ibu khilaf ibu mohon bukan pintunya!" panggil ibu dari luar kamar.


Tak ada sahutan dari dalam kamar membuat ibu menjadi merasa tambah bersalah ia begitu khilaf saat mendengar hardikannya Nadia terhadapnya tidak pernah menyangka kata-kata kasar itu keluar dari mulut putrinya yang di tujukan untuk menghina ibu.


"Ya Allah hamba tidak menyangka kepergian ayah malah membuat seorang anak yang pendiam dan penurut seperti Nadia tega mengatakan kata-kata kasar kepada ibunya bahkan masih di depan pusara ayahnya," gumam ibu sedih.


Hari sudah semakin sore warga yang membantu ibu juga sudah pulang kerumahnya masing-masing, seketika itu juga rumah menjadi sepi seminep karena terasa banget ada sesuatu yang hilang sosok ayah yang kuat dan bertanggung jawab tak ada lagi di rumah itu, sedangkan Nadia masih marah sama ibu dan belum juga mau keluar kamar.


Tok! tok! Tok


suara ketukan pintu membuat ibu tersadar dari lamunnya dan segera mengusap air matanya yang sedang mengalir, karena kesedihan yang mendalam sekali.


"Assalamualaikum, bu Ningsih boleh saya masuk!" suara bu rt.


"Waalaikumsalam ohh bu rt silakan masuk bu, maaf masih berantakan rumahnya," sahut ibu mempersilakan masuk.

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa bu Ningsih saya ngerti kok, dengan keadaan bu Ningsih sekarang," kata bu Rt memaklumi.


"Terimakasih, bu Rt atas pengertiannya juga terima kasih karena tadi saya udah banyak di bantuin," uncap ibu sungkan.


"Iya sama-sama bu, itu kan sudah jadi kewajiban kami sesama warga harus saling membantu di tambah ibu Ningsih juga kan warga sini masa iya tidak di bantu, terus untuk apa ada ketua RT," kata ibu RT menjelaskan.


Ibu tersenyum dengar perkataan dari ibu RT, orang yang sudah banyak membantunya selama ini saat ibu sedang dalam kesusahan, entah itu berupah materi atau suport semua sangat berharga untuk mental ibu yang kini sedang rapuh.


"Jadi gini loh, bu Ningsih kedatangan saya kesini cuma mau nyampein amanat dari ibu-ibu pengajian mingguan, katanya untuk tiga hari kedepan akan menyumbang makanan untuk selametan tahlilan! cuma mereka pada ragu dan meminta saya untuk menyampaikan ke ibu Ningsih dulu, takutnya mereka ibu Ningsih tersingung dan menolak," kata bu RT menjelaskan maksud kedatangannya sebagai jubirnya ibu-ibu.


"Alhamdulilah sebelumnya saya, nguncapin banyak-banyak terima kasih atas perhatian dan keperdulian warga, terjtama ibu-ibu pengajian karena sudah mau bantu cuma saya takut merepotkan saja bu Rt," kata ibu merasa tidak enak.


"Enggak ada yang repot kok , emang itu sudah menjadi tugas kami kan jika ada warga yang terkena musibah harus saling bantu, dan itu gunanya di adakan kas Rt dan acara-acara lain agar kita bisa saling hidup bersosialita sesama warga lainnya," uncap bu RT lagi menjelaskan.


Ibu diem sejenak sebenarnya ibu merasa senang ada yang perhatian padanya, perduli dengan keadaannya saat ini, ibu berpikir sejenak mau nerima merasa tidak enak karena takut merepotkan, mau di tolak tambah tidak enak lagi karena tak mereka sudah berusaha perduli kok. dan lagi tidak baik menolak rejeki.


"Ya sudah kalo emang sudah jadi keputusan ibu RT dan juga yang lainnya saya terima bantuan ini dan saya sangat berterimakasih sekali lagi atas pethatiannya, dan sampaikan juga salam saya sama yang lainnya, semoga Allah membalas kebaikan ibu-ibu semua dengan kebaikan yang berlipat ganda," doa ibu akhirnya mau menerima bantuannya.


"Aminnn,,, sama-sama bu Ning, ini udah jadi kewajiban kita sesama umat muslim untung saling bantu yasudah kalo gitu saya pamit dulu, mau sampaikan masalah ini ke ibu-ibu biar bisa bersiap untuk tahlilan bersama nanti malam, saya pamit ya bu, assalamualaikum!" salam bu RT permisi pulang.


"Waalaikumsalam, sampaikan salam saya kepada yang lain ya bu," ibu menjawab salam bu RT.

__ADS_1


Setelah kepergian ibu RT, kembali rumah menjadi sepi ibu kesedihan ibu tiba-tiba muncul lagi tapi ibu tak mau berlarut-larut terbuai dalam kesedihan, ibu pun bangkit dan segera menyibukkan diri agar tidak sedih lagi dengan merapikan rumah yang berantakan.


Ibu nyapu dan mengepel agar rumah terlihat rapi untuk tahlilan nanti malam, walaupun ibu sedang berduka tapi menyambut tamu untuk mendoakan ayah juga penting.


__ADS_2