
Setelah selesai sarapan Nadia dan ibu kembi bekerjasama lagi untuk membantu ayah ke kamar untuk istirahat lagi setelah minum obat, kondisi ayah sunguh sangat membuat Nadia Sedih ayah yang dulu seorang periang dan selalu bersemanggat dengan aktifitasnya kini cuma bisa berbaring lemah di kasurnya.
"Bu, Aku berangkat sekolah dulu, assalamualaikum,,, ayah, ibu, Nadia pamit!" pamit Nadia memncium tangan kedua orang tuanya.
"Waalaikunsalam,hati-hati sayang!" balas ibu dan ayah.
Nadia tak mendengar uncapan ibu karena sudah berlslu jauh meninggalkan Kamar ayah, kini di rumah tinggal ibu dan ayah, sebentar lagi ibu juga harus pergi berjualan mencari rejeki agar bisa makan keesokan harinya lagi, uang tabungan ibu dan ayah sudah habis terpakai ketika mereka tidak mencari uang.
"Kalo gitu ayah, istirahat aja dulu ya ibu mau beresin meja makan dulu, habis itu ibu mau berangkat jualan nanti ibu siapin semua segala kebutuhan ayah ya, di meja agar ayah lebih mudah untuk menjangkaunya," kata ibu pamit keluar.
"Iya bu! ga Apa-apa tinggal aja ayah, nanti kalo ayah ngantuk pasti ayah tidur kok," sahut ayah.
Setelah menyelimuti kaki ayah dengan selimut agar tetap hanggat ibu pun keluar kamar menuju meja makan untuk merapikan bekas sarapan tadi juga membereskan rumah dulu sebelum pergi.
Sekitar satu jam ibu membereskan rumah, pukul 08.00 wib ibu mulai bersiap untuk berangkat, sebelumnya ibu ke kamar ayah dulu untuk betpamitan, sambil meletakan air putih takut nanti ayah butuh minum saat di tinggal sendirian di rumah.
"Ayah, ibu berangkat jualan dulu ya ini minumnya ibu taruh sini dan ini juga sedikit cemilan kalo ayah laper, ayah ga apa-apa kan kalo di tinggal sendirian ibu akan cepet kembali?" tanya ibu.
"Iya bu, ga Apa-apa ibu berangkat saja gak usah mikirin ayah, ayah bakalan baik-baik saja kok di rumah," jawab ayah.
"Yasudah kalo gitu, ibu berangkat dulu ya assalamualaikum ayah!" pamit ibu mencium tangan ayah.
"Waalaikumsalam, Bu hati-hati di laris-laris jualannya," sahut ayah membalas salam ibu.
Ibu meninggalkan ayah dengan perasaan sedikit khawatir tapi mau gimana lagi ibu harus meninggalkan ayah pergi demi mencari sedikit rejeki untuk menyambung hidup, setelah kehidupan mewah dan nyaman yang dulu pernah ibu rasakan bersama keluarganya tapi kini telah waktunya ibu kembali ke kondisi awalnya cobaan yang dulu ibu rasakan kini kembali ibu perjuangkan lagi.
__ADS_1
Mengais rejeki untuk tetap bertahan hidup menabung lagi untuk masa depan Nadia, ibu selalu tersenyum di depan ayah dan Nadia berpura-pura kuat seakan ia sudah mengiklasan Kasih tapi sebenarnya ibu selalu rindu dan belum bisa melupakan Kasih selalu diam-diam mencari di sela-sela waktu jualannya.
"Ya Allah Kasih dimana kamu nak, ini sudah tahun ke 4 kamu pergi jauh dari kehidupan ibu, ibu sangat rindu nak sama kamu biarpun ibu terlihat kuat di depan ayah dan kakakku tapi sebenarnya ibu sanggat rapuh ibu ingin sekali bertemu kamu nak," ibu menanggis lagi saat bayangan Kasih hadir di.
Ibu berkeliling menjajakan jualanannya dari satu rumah ke rumah lagi, ibu berjualan pecel dengan cara mengayuh sepedanya.
"Pecelll... pecellnya buu!" suara ibu menjajakan jualannya.
"Bu Ning, saya beli pecelnya," panggil seorang pembeli.
Ibu menghentikan kayuhan sepedanya memarkir sepeda tepat didepan rumah ibu yang memanggilnya tadi, ibu menghargai satu porsi pecelnya dengan harga lima ribu rupiah walau terkadang masih ada sata yang minta membelu dengan harga tiga ribu rupiah tapi ibu tetap melayaninnya dengan iklas karena itu sudah menjadi rejekinya.
"Iya bu, sebentar saya muter balik dulu," sahut ibu.
Setelah memarkir sepedanya ibu segera melayani pembeli itu, satu persatu pembeli lain juga mulai berdatangan membeli pecel jualannya ibu, ibu sanggat bersyukur dengan rejeki pagi ini.
"Saya juga dua ya bu!" sambung pembeli lainnya.
"Iya sebentar ya bu, saya buatkan dulu tenang semua pasti dapat bagiannya kok," kata ibu masih terus melayani.
Setelah selesai melayani pembeli di satu tempat ibu kembali melaju sepedanya berpindah ke tempat lainya untuk mencari pembeli lain.
"Pecelll... pecelnya bu!" suara ibu menjajakan jualannya.
Saat ibu sedang melaju di depan rumah bu RT ibu lagi-lagi di panggil karena ada yang ingin membeli dagangannya.
__ADS_1
"Bu Ningsih, tunggu saya beli pecelnya!" panggil bu RT.
Ibu yang sudah melaju sedikit agak jauh melewati rumah bu RT harus memutar balik lagi sepedanya, karena harus menjemput rejekinya dulu.
"Iya bu RT sebentar saya kesitu!" sahut Ibu.
"Sini bu Ning, masuk saja tunggu sebentar ya saya ambil piring dulu," kata bu RT memanggil ibu.
"Iya bu RT," sahut ibu masuk.
Saat ibu masuk ke halaman rumah bu RT ibu segera memarkir sepedanya dengan mengunakan standart dua karena sepeda yang ibu kendarai sepeda mini yang di depannya ada keranjangnya.
Ibu menunggu bu rt yang sedang masuk mengambil piring sambil melihat-lihat sekeliling rumahnya bu RT yang isinya penuh dengan tanaman hias berwarna warni membuat mata siapa saja yang mihatnya menjadi terpana karena keindahannya, saat sedang asyik melihat-lihat ibu tak sengaja melihatvada selembaran kertas terbang ke arahnya tepat di depan mukanya.
Ibu segera mengambil kertas itu dan membaca tulisannya ada sebuah tulisan yang membuat ibu tertarik, Investasi ansurasi, Itu tulisan yang membuat ibu penasaran maksudnya apa?
"Ini apa maksudnya ya? jadi penasaran mau tanya bu rt aja deh entar biar tahu maksudnya," gumam ibu dalam hati.
Sekitar lima menit ibu menunggu orang yang di tunggunya pun muncul sambil membawa piring di tangannya yang segera memberikan piring itu ke ibu.
"Ini bu Ning, maay nunggu lama tadi saya habis bikin kopi dulu untuk suami saya," ujar bu rt.
"Oh iya bu rt tidak apa-apa kok biasa saja," sahut ibu menerima piring bu rt.
Ibu segera melayani pesanan pecel milik bu rt biasa kalo bu rt beli pecel seporsi 5000 kadang juga ia minta di buatkan dengan harga lebih.
__ADS_1
Bersambung.