
"Cepetan bu mana duitnya lama banget sih!" seru Nadia mulai tidak sabaran.
"Uhuk... uhuk... tapi nak ibu sedang tidak jualan darimana ibu dapat uang, uhuk... nanti ya kalo ibu sudah baikkan!" jawab ibu dengan suara lirih.
"Akh gak mau pokonya aku mau uang itu sekarang juga??" bentak Nadia sambil mendorong ibu.
Ibu pun terjatuh ke kasur untung saja Dimas belum betangkat tapi karena gerakan Nadia yang begitu cepat membuat Dimas repleks dan kaget hingga akhirnya dia tidak bisa, menangkap ibu.
"Masya Allah ibu!! kak Nadia kenapa sih kakak kasar banget sama ibu? kalo kakak mau uang tunggu biar aku jualan dulu nanti saat aku pulang sekolah aku kasih uangnya," Teriak Dimas marah untuk pertama kalinya.
Dimas tidak pernah emosi setiap kali Nadia memaki atau selalu bicara buruk padanyq, Dimas selalu sabar dan sabar tapi saat Nadia yang sudah kelewatah memaki atau berbuat kasar sama ibu saat itu lah Dimas sakit hati dan dia mulai Emosi.
"Eleh eleh,, anak punggut mulai marah ihh takuttt!! berani ya lue bentak gue! emang lue pikir lue itu siapa hah!!" tariak Nadia Lagi berbalik.
"Sudah kalian jamgan bertengkar tidak enak di lihat tetangga malu masih pagi uhuk...," nasehat ibu.
"Tapi bu kak Nadia udah keterlaluan banget dia tega nyakitin ibu sampai segitunya cuma karena uang, aku gak terima biarpun aku hanya anak punggut setidaknya aku tidak sekejam kak Nadia," protes Dimas emosi.
"Ceramah terus berisik, ehh anak pungut denger ya! gue tunggu duitnya nanti siang tapi... kalo lue sampai tidak memberikan uangnya atau pulang tidak bawa uang, lue sama ibu harus pergi dari rumah ini karena rumah ini bakalan gue Jual oke, mengerti lue?!' Nadia memperigatkan Lagi sambil mengancam.
Ibu kini menyesal kenapa saat surat rumah atas nama ibu dan Ayah, ibu malah mengantinya menjadi nama Nadia dan Kasih dan memberikan surat rumahnya untuk Nadia simpan, dan kini Nadia bukan Anak Kecil lagi ia sudah dewasa Nadia bisa melakukan apa saja dengan rumah itu termasuk menjualnya.
"Dimas Kamu jangan dengerin kata kata Nadia ya, dia tidak akan tega menjual rumah yang banyak kenangannya bersama ayah," kata Ibu mencoba untuk menghibur dirinya yang sebenarnya juga khawatir.
__ADS_1
"Iya ibu, Dimas percaya kok sama uncapan ibu hanya saja ibu yang sangat Dimas khawatirkan saat ini, yasudah Dimas sekolah dulu ya, sekalian mau jual kue kue ini dan semoga saja Dimad pulang bawa uang untuk kak Nadia supaya dia tidak menyakiti ibu terus ya," ucap Dimas berjanji akan berusaha keras.
"Assalamualaikum," salam Dimas mencium punggung tangan ibu.
"Waalaikumsalam, hati hati nak!" jawab ibu membalas salam Dimas.
Saat Dimas pergi kesekolah ibu mengikutinya dari belakang melihatnya dari balik pintu ia pandangi punggung Dimas seorang anak yatim piatu yang ibu rawat, yang selalu memberikan perhatiannya pada ibu melebihi anak kandungnya sendiri.
Mungkinkah Jika Ayah masih hidup Nadia juga akan tega berbuat kasar padanya? atau Nadia masih akan sama seperti dulu seorang yang penyayang seorang kakak yang bertanggung jawab kepada keluarga? ibu sangat memimpikan hal itu.
"Seandainya ayah masih ada dan bersama kira disini, mungkinkah kamu akan kasar sama ibu, nak? karena yang ibu tahu kamu adalah putri ibu yang penyayang serta pethatian putri ibu yang bahkan melihat air mata ibu jatuh pun tidak tega, tapi kini malah engkau yang menyebabkan air mata ibu jatuh, ya Allah tolong ampuni dosa putri hamba berikan ia hidayamu agar ia kembali menjadi Nadia yang baik hati," doa ibu sambil memandanggi poto Nadia kecil yang tergantung di dinding.
Saat Dimas sudah tak terlihat lagi oleh pandangan mata ibu, ibu pun pergi keluar rumah dalam kondisinya yang lemah ia berjalan seorang diri sambil rambatan dari satu tembok ke tembok lainnya, tak lupa juga ibu membawa sebuah kota yang selalu ia sembunyikan dari Nadia, ibu akan membawa kotak itu ke suatu tempat.
Ibu terus berjalan merambat sambil terus membawa kotak di pelukannya, ibu harus bergegas sebelum ia di lihat oleh Nadia karena ibu khawatir kotaknya di rebut Nadia.
Saat ibu sudah sampai di depan rumah mewah berwarna hijau dengan pagar rumah yang menjulang tinggi bahkan melebihi tinggi tubuh ibu, lalu ibu mendekat untuk bisa meraih tombol yang ada di balik pager besi itu.
Ting tong...
Suara yang di hasilkan oleh tangan ibu saat ia menyentug bel tersebut suaranya memang tidak terlalu jelas terdengar dari luar tapi pastinya suara itu akan mengema di dalam ruangan, lima belas menit ibu menunggu saat akan menekan bel untuk yang kedua kalinya tapi ibu urungkan niatnya karena ia sudah melihat ada seseorang yang datang dari dalam rumah.
"Assalamualaikum, permisi mba maaf saya ganggu!" sapa ibu pada orang itu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, iya mau cari siapa ya? pagi pagi gini?" tanya wanita tersebut.
"Maaf Mba saya ingin bertemu dengan bu RT? apa bu RTnya ada!" tanya ibu yang ternyata tujuannya, adalah rumah bu RT.
"Oh iya ada sebentar saya buka pintunya, silakan masuk," jawab wanita itu ternyata adalah pembantunya bu RT.
Pembantu itu bukan hanya membukakan pintu untuk ibu agar bisa masuk, tapi ia juga membantu ibu berjalan agar ibu bisa dengan cepat sampai di dalam untuk bertemu dengan bu RTnya.
"Mari bu saya bantu berjalan, sepertinya ibu sedang kurang sehat y? kenapa keluar rumah tidak istirahat saja?" tawar pembantu itu bertanya.
"Iya mba, saya ada perlu sama bu RT dan ini sangat penting uhuk... makanya saya ingin uhuk uhuk bertemu dengannya," jawab ibu.
"Oh begitu ya," kata pembantu.
Setelah di bantu berjalan sampai depan rumah ibu akhirnya sampai juga, dan pembantu menyuruh ibu untuk duduk di teras rumah sementara ia masuk ke dalam untuk memanggil bu Rt yang sedang sarapan.
Sudah tujuh tahun berlalu tapi bu RT masih sama seperti yang duli, karena beliau sangat pethatian dan cekatan dakam memimpin warganya dalam segala hal, ini yang membuat RTnya terpilih lagi dan masih sama seperti yang dulu ibu pernah ikut program tabungan asuransinya.
Ibu duduk di bangku teras dan menunggu bu RT datang setelah pembantu itu pergi masuk ke dalam, rumah bu RT begitu nyaman di pandang mata tanaman hiasnya sungguh membuat suasana hati tenang.
Berbagai jenis tanaman ada di situ dari bunga bunga sampai ada tanaman sayuran kecil juga ada semua tertanam rapi dan juga terawat. hingga tumbuh subur.
Bersambung...
__ADS_1