Maafkan Aku Ibu!

Maafkan Aku Ibu!
Bab 47


__ADS_3

Setelah selesai sarapan ayah Surya sudah bersiap untuk berangkat kerja, sedangkan mamah Deswinta siap untuk berangkat kesekolah untuk mendaftarkan kedua anaknya untuk sekolah lanjutan karena sudah lama mereka putus sekolah karena masalah yang terjadi.


"Yuk Ridwan, Kasih kita berangkat kesekolah, mamah mau daftarin kalian sekolah hari ini biar besok sudah bisa berangkat!" ajak mamah Deswinta.


"Siap mah, asyikk sekolah lagi!" seru Ridwan senang.


Mereka pun betangkat setelah berpamitan kepada Mba Dewi lalu mamah Deswinta mengajak masuk ke mobil yang akan di kendarai oleh sopir, yang seharusnya supir itu mengantar pak Surya tapi karena hari mereka mau daftar sekolah jadi pak Surya membawa mobilnya sendiri tanpa supir.


Tiga puluh menit perjalanan menuju kesekolah yang ada di ujung kotak jakarta, bangunan sekolah yang begitu megah dan rupanya sekolah ini khusus untuk rakyat menenggah atas, kalo pun ada yang dari kalangan bawah mungkin karena program beasiswa, yang mana keluarga bapak Surya pun ikut menyalurkan Dananya/ Donasi.


"Yuk kita sudah sampai, mari turun semua!" ajak mamah Deswinta saat mobil sudah mulai masuk kehalaman sekolah.


"Inikah sekolahnya mah? besar sekali bahkan lebih besar dari sekolah Ridwan dulu!" uncap Ridwan takjub.


"Iya sayang ini sekolah kalian, dan ini termasuk sekolah yang paling besar di daerah jakarta dan sekolah ini juga banyak peminatnya karena terkenal bagus dalam mendidik muridnya," kata mamah bercerita.


Mamah Deswinta mengajak kedua anaknya untuk menuju ke ruang kantor guru untuk mendaftarkan diri untuk menjadi peserta didik.


Tok!Tok!Tok.


"Assalamualaikum, permisi bu guru selamat pagi," salam mamah Deswinta.


"Waalaikumsalam, ohh nyonya Deswinta silakan masuk ada hal yang bisa saya bantu?" tanya bu Lestari sekaku kepala sekolah disana.


"Iya ini saya bermaksud untuk mendaftarkan kedua anak saya untuk sekolah disini," jawab Mamah Deswinta.


"Ohh mari nyonya silakan, kalo boleh tahu siapa nama kedua anak nyonya yang mau sekolah disini?" tanya bu Lestari lagi.

__ADS_1


Mamah Deswinta mengajak kedua anaknya masuk dan duduk di kursi yang memang sudah di sediakan untuk tamu, Ridwan dan Kasih mengikuti mamahnya dan duduk disamping mamahnya.


"Bu guru sebelumnya boleh tidak untuk tidak memanggil saya dengan sebutan nyonya, panggil saja saya ibu biar lebih enak di dengarnya!" pinta mamah Deswinta sebelum lanjut.


"Oh iya maaf nyonya! ehh ibu maksud saya silakan isi surat folmulirnya untuk data murid!" pinta guru Lestari.


Mamah Deswinta mengambil dua lembar kertas folmulir yang di berikan oleh gurunya dan segera mengisi datanya pertama yang ia isi adalah milik Ridwan karena mamah Deswinta lebih paham dan hafal datanya karena Ridwan putra kandungnya.


Untuk Kasih Ia tidak terlalu paham dengan datanya, dann saat bertanya pun Kasih hanya diam karena Kasih juga tidak mengerti, karena bu guru melihat ada kendala dengan bu Deswinta bu guru pun segera bertanya karena penasaran.


"Maaf, Bu apakah ada kendala dalam pengisian?" tanya bu Lestari.


"Hm ini bu guru untuk data Ridwan sudaj saya isi lengkao karena saya tahu semua datanya karena ia putra kandung saya," jawab bu Deswinta.


"Loh memangnya yang putri ini anak siapa?" tanya bu guru lagi.


Bu Deswinta menceritakan masalah Kasih dari awal ia bertemu sampai keputusan bu Deswinta untuk mengadopsinya dan menyekolahkannya, bu guru pun menyarankan sesuatu untuk bu Deswinta.


"Oh gitu ya bu guru, yasudah kalo begitu biar nanti saya rundingkan lagi dengan ayahnya Ridwan gimana baiknya, dan untuk sementara waktu ini boleh saya bawa pulang dulu kertas folmulirnya!" pinta Bu Deswinta.


"Baik bu! silakan di bawa dulu dan ini folmulir milik Ridwan kami terima ya," kata bu guru.


Setelah menjelaskan biaya pendaftaran dan segala keperluan yang di butuhkan oleh murid baru, bu Deswinta pamit untuk pulang dulu mengurus syarat pendaftaran Kasih, ia ingin merundingkan dengan suaminya, akan memakai saran gurunya atau tidak.


"Mah kenapa Kasih tidak jadi daftar sekolah? apakah Kasih tidak boleh sekolah disini?" tanya Ridwan tak mengerti.


"Bukan tidak boleh sekolah, nak! tapi ibu ingin masukan dulu Kasih ke dalam kartu keluarga kita, habis itu mamah ingin menganti nama Kasih agar lebih mudah untuk daftar, gimana Kasih kamu keberatan tidak jika nama kamu mamah ganti, agar kamu bisa sekolah?" tanya bu Deswinta minta persetujuan Kasih.

__ADS_1


"Iya mah! tidak masalah apapu saran mamah asal Kasih bisa bersekolah Kasih setuju kok," jawab Kasih tak masalah.


Bu Deswinta tersenyum mendengar jawaban Kasih, dan mereka pun pulang kerumah bersama dengan menaiki mobil yang sama pulang, sepanjang jalan Kasih diam melamun ia mencoba mengingat siapa nama lengkapanya dan juga semua Data tentang dirinya yang samar-samar pernah di uncapkan Nadia kakaknya.


Sampainya mereka di rumah mobil segera masuk ke halaman rumah pak satpam yang membuka pintu gerbang memberi hormat/ salam ke ibu Deswinta selaku majikan.


"Siang bu!" sapa pak satpam.


"Siang juga pak, terima kasih sudah membukan pintunya," balas bu Deswinta.


"Sudah menjadi kewajiban saya bu, sebagai penjaga keamanan pintu," ujar pak satpam.


Bu Deswinta tersenyum dan mobilpun segera masuk kedalam setelah sampai tepat di depan pintu garasi mobil pun berhenti penumpang yang ada di dalam pun keluar.


"Kita sudah sampai rumah lagi, sekarang kita istirahat dulu nanti sore kita jalan-jalan lagi ke mall untuk membeli kebutuhan kalian sekolah ya!" kata mamah Deswinta.


"Asyikkk!" seru Ridwan.


Kasih diam tak ikut bersorak seperti biasanya seperti sedang memikirkan sesuatu sedari tadi, membuat mamah Deswinta jadi penasaran apa yang membuat Kasih berubah? mungkinkah ia sedang sedih karena tidak bisa sekolah untuk sementara waktu.


"Kasih kamu kenap, Nak? mamah perhatikan kamu sedari tadi di mobil hanya diem melamun? sedang memikirkan apa?" tanya mamah Deswinta.


"Ehh,,, hmm tidak mah! aku hanya sedang menggingat nama dan tanggal lahir aku, dulu kak Nadia pernah memberitahu Kasih soal itu, karena ibu tidak pernah menyebutkannya jadi Kasih tidak pernah tahu," jawab Kasih.


"Lalu, apa sekarang Kasih sudah ingat? kalo Kasih inggat semua kan ini baik itu artinya mamah tidak perlu menganti nama kamu, cukup mencantumkan saja di kakaknya?" tabta mamah Deswinta berharap Kasih inggat.


"Kasih inggat kok mah, hanya sedikit Nama lengkap aku Siti Cahaya Kasih Lahir tanggal 23 November tahunnya lupa,,, hehehe," jawab Kasih terkekeh.

__ADS_1


"Hahaha,,, Kasih kamu ini gimana, masa lupa tahunnya lucu banget si kamu," Ridwan menertawakan Kasih.


Yang di tertawakan salah tingkah ia hanya garuk-garuk kepala saja sambil nyengir malu, Mamah Deswinta tersenyum sunguh pemandangan yang sangat langka melihat putranya tertawa sudah lama sekali sejak dua tahun lalu ia melihat Tawanya Ridwan yang lepas begitu polosnya.


__ADS_2