
Saat ibu pulang ketiga kakaknya masih duduk di depan rumah saat melihat ibu lewat mereka berbisik bisik seperti sedang menbicarakan kejelekan ibu, tapi ibu yang melihat itu semua cuek saja tidak ambil pusing anggap saja, angin lalu nanti kalo lelah juga, bakal berhenti sendiri di ladeni juga percuma gak akan ada selesainya.
"Ini Dimas sana kamu mandi dulu, dan ini salinnya nanti kamu ganti baju ini ya, ibu mau masak dulu nanti kalo sudah mandi kamu makan siang bareng ibu!" perintah ibu lada Dimas.
"Baik bu, terimakasih karena udah mau menerima Dimas di rumah ibu, dan semoga rejeki ibu selalu berkah dan bertambah," doa Dimas sebelum masuk kamar mandi.
"Aminn makasih nak, doanya semoga semua doa kamu di kabulkan," uncap ibu senang.
Dimas lanjut ke kamar mandi sedangkan ibu lanjut membersihkan sayuran yang akan di masak untuk hari ini, hari ini ibu mau masak sayur buncis dengan goreng tempe, karena cuma sayuran itu yang mampu ibu beli dengan hasil jualannya hari ini ada, sedikit lebihnya harus ibu tabung untuk masa depan Nadia juga untuk acara 40 hari ayah nanti.
Sekita tiga puluh menit kemudian Dimas sudah selesai mandi ia sudah berganti baju yang tadi di berikan oleh bu puji dan ternyata bajunya pas di tubuh Dimas yang masih kecil, kira-kira Dimas seumuran dengan Kasih andai Dimas seorang perempuan ibu pasti sudah memberikan baju-bajunya Kasih untuknya, kalaupun Kasih akan kembami kerumah tidak mungkin jika tubuhnya akan sama, pasti Kasih akan tumbuh besar dan baju kecilnya tidak akan muat untuknya lagi itu yang ada di pikiran ibu.
"Bu, lihat cocok tidak aku pakai baju ini?" tanya Dimas seusai mandi.
"Waah cocok sekali, kamu terlihat tampan pakai baju itu apa lagi sudah gagah dan wanggi tidak kotor lagi karena Debu, yasudah tunggu ibu ya, nanti kita makan bersama ibu selesain masakannya dulu," jawab ibu tersenyum sebang.
Dimas bukannya duduk diam menunggu ia malah memdekat ke arah ibu dan membantu ibu masak, karena tidak tega melihat ibu yang merepotan sendirian.
"Boleh Dimas bantu kan bu? apa yang bisa Dimas bantu agar bisa meringankan kerjaan ibu," tawar Dimas.
__ADS_1
Tadinya ibu menolak bantuan dari Dimas karena ibu tidak ingin Dimas repot dan kesulitan tapi karena Dimas terus memaksa ibu untuk tetap membantunya akhirnya ibu mengijinkan Dimas untuk membantunya, kini ibu dan Dimas pun memasak bersama di dapur.
Ibu merasa senang dengan momen ini berkali-kali ibu menatap Dimas penuh rasa bangga, ibu merasa kalo Dimas memang sengaja di kirimkan Allah untuk ibu agar bisa membantu dan mengurangi rasa sedihnya ibu karena baru di tinggal pergi ayah dan juga, di jauhin oleh putri kandungnya.
"Ya Allah terima kasih karena engkau telah mempertemukan hamba dengan Dimas dan sungguh ini suatu rejeki untuk hamba karena dengan kehadiran Dimas semua kerjaan hamba menjadi ringan semoga saja,Dimas akan selalu bersama hamba hingga ia dewasa nanti," doa ibu penuh harap.
"Ibu sudah selesai semua, ada lagi yang perlu Dimas bantu bu?" tanya Dimas lagi saat tadi ibu menyuruh ya untuk mengambilkan piring.
"Sudah selesai semuanya, terimakasih ya nak sudah mau bantu ibu dan sekarang sudah selesai kerjaan ibu," jawab ibu.
Semua sayur dan lauknya sudah mateng dapur pun sudah kembali rapi seperti sebelumnya ibu juga,sudah menata makanan di meja makan untuk Nadia, dan ibu juga sudah mengambil bagiannya dan juga Dimas untuk mereka makan bersama di meja dapur.
"Assalamualaikum," salam Nadia baru pulang sekolah.
"Waalaikumsalam," jawab ibu dan Dimas bersamaan dari dapur.
"Ada tamu ya bu, dateng?" tanya Dimas yang belum rahu kalo ibu punya seorang putri kandung.
"Bukan sayang, itu kak Nadia putri kandung ibu dia baru pulang sekolah, yuk sini ibu kenalin kamu ke kak Nadia!" jawab ibu mengajak Dimas keluar.
__ADS_1
"Sudah pulang Nadia! ganti baju dulu ya lalu makan ibu sudah masak untuk kamu semua sudah siap di meja!" sapa memberitahu Nadia.
Nadia tak menjawab perkataan ibu, saat ia bangun dari duduknya karena habis melepas sepatunya Nadia terkejut saat melihat seorang pria kecil berdiri di samping ibu.
"Dia siapa?" tanya Nadia.
"Hai kak! kenalin Nama aku Dimas, kakak pasti kak Nadia ya putrinya ibu?" jawab Dimas balik bertanya.
Nadia tak menjawab pertanyaan Dimas, ia melihat ke arah ibu seakan menuntut sebuah penjelasan untuk pertanyaannya barusan, ibu yang merasakan kode dari Nadia segera menjawabnya.
"Tadi waktu ibu belanja di pasar, ibu bertemu dengan Dimas dan saat ibu tanya dimana orang tuan dan rumahnya dia bilang sudah tidak punya orang tua dan rumah, jadi ibu mengajaknya pulang untuk mengajaknya tinggal bersama disini, karena Dimas tadi sedang di marahin orang karena mencuri roti karena ia kelaparan," jawab ibu bercerita menjelaskan detail kronologinya.
"Oh gitu jadi bakalan tambah satu orang di sini," ujar Nadia lalu berlalu melewati Ibu dan Dimas.
"Kamu tidak keberatan kan, nak? kalo Dimas tinggal disini?" tanya ibu minta saran.
"Emangnya kalo aku bilang tidak boleh dan aku keberatan tinggal serumah dengannya! apakah ibu akan menyuruhnya untuk keluar dan pergi dari rumah?!" Nadia balik bertanya.
Karena ia tahu ibunya sedari dulu jika ingin mekakukan kebaikan kepada orang lain tidak pernah mau setengah-setengah dan tidak akan ada yang bisa melarangnya.
__ADS_1
"Tapi Nak, kalo ibu menyuruh Dimas pergi kasihan dia nanti mau tinggal dimana!" kata ibu bingung.
"Aku sudah tahu jawabannya akan begitu jadi, ya terserh dia mau tinggal disini atau tidak yang penting jangan sampai dia menganggu aku, dan satu lagi aku tidak mau tidur sekamar denganya," uncap Nadia setuju dan tak perduli lalu ia masuk kamar untuk berganti pakaian seragamnya.