Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Peringatan Pertama Dari Buaya Jantan


__ADS_3

Candra berusaha melepaskan cekalan di pergelangan tangannya. Pergelangan tangannya terasa perih. Namun Juno masih terus menyeret Candra menuju mobil pria itu. Juno berhasil memasukkan Candra ke dalam mobilnya dan segera mengunci mobil itu agar Candra tidak kabur.


“Heh! Lepasin gue!” teriak Candra mengetuk kaca mobil.


Juno ikut masuk mobil itu, menoleh pada wanita di sampingnya yang masih berusaha minta di lepaskan dengan menggedor kaca mobilnya. Namun gerakan tangan Candra terhenti ketika tiba- tiba saja tubuh Juno condong ke arahnya. Spontan Candra memundurkan kursinya, beruntung Juno tidak jatuh menubruk tubuh wanita itu.


“L…lo mau apa?” tanya Candra membulatkan matanya.


“Aku mau bantu kamu pasang seatbelt. Kenapa kamu panik gitu sih?” jawab dan tanya Juno dengan dahi mengernyit.


“Gue bisa pasang sendiri. Tunggu! Gue nggak pernah bilang setuju mau ikut lo!”


“Dan aku nggak butuh persetujuan kamu. Pasang seatbelt- nya, aku nggak mau kamu kejedot.”


“Lo mau culik gue kemana?” tanya Candra setelah menurut memasang sabuk pengaman, dia tidak ada pilihan lain karena mobil sudah berjalan meninggalkan studio.


“Makan siang,” jawab Juno tersenyum manis pada Candra.


Memang benar Juno mengajaknya makan siang bersama. Namun Candra mencium bau yang tidak beres. Pasalnya hanya untuk makan siang saja, Juno membawanya ke daerah terpencil entah dimana. Wajah Candra yang tadinya santai pun kembali di buat panik.


“Nggak ada tempat makan yang lebih jauh lagi?” tanya Candra dengan wajah datar.


Mereka baru turun dari mobil, konsep resto ini alam. Resto sengaja di bangun dekat dengan hutan yang memiliki pepohonan yang rimbun. Membutuhkan waktu selama satu jam perjalanan untuk menuju resto ini


“Kamu nggak suka? Mau pindah? Ada resto di Kota S, mau kesana?” tanya Juno.


Candra mengumpat dalam hati mendengar Juno menyebutkan resto yang berada di luar kota. Wanita itu menggeleng frustasi dan berjalan mendahului Juno masuk ke resto itu. Perut Candra sudah berdemo, perdebatan selama perjalanan tadi menguras semua tenaganya.


Beruntung selama mereka makan Juno tidak mencari gara- gara. Namun perlakuan Juno yang terkesan romantis membuat Candra merasa tidak nyaman. Mulai dari memotongkan daging menjadi satu gigitan agar mudah dimakan oleh Candra, hingga menyerahkan jasnya untuk menutupi kaki Candra yang digigit nyamuk. Maklum Juno memilih meja outdoor dan resto ini berada di hutan, jadi banyak nyamuk yang tidak berakhlak menggigiti kaki Candra.


“Enak makanannya?” tanya Juno mengelap mulutnya dengan tisu.


“Lumayan,” jawab Candra dan kembali melahap makanannya.


“Aku mau batalin pertunangan sama Nayla,” ucap Juno.

__ADS_1


Candra seketika tersedak mendengar ucapan buaya di depannya itu. Air mata Candra bahkan sudah mengalir keluar, dadanya terasa sakit. Sementara Juno terlihat panik, dia berusaha membantu Candra dengan menepuk punggung wanita itu dan memberinya segelas air.


“U… udah, gue nggak apa- apa,” kata Candra mengkode Juno untuk berhenti menepuk punggungnya.


“Maaf,” gumam Juno merasa bersalah, kini pria itu duduk di samping Candra.


“Maksud lo apa mau batalin pertunangan kalian?” tanya Candra, wajahnya masih memerah.


“Aku nggak cinta dan sayang sama dia. Sekarang kamu udah kembali, kita bisa jalanin dari awal lagi.”


Juno mengernyit ketika respon yang dia terima adalah tawa ngakak Candra. Wanita itu terbahak mendengar penuturan Juno. Buaya tadi bilang apa? Mau janlanin dari awal lagi? Hah? Yang benar saja.


“Lawakan lo lucu, lumayan menghibur. Tapi maaf aja, gue udah nggak ada perasaan sama lo. Jadi lo harus bisa move on,” ucap Candra tersenyum sinis. “Gue malah kasihan sama Nayla, dosa apa dia harus tunangan sama lo.”


“Aku nggak bercanda, Can! Dan aku nggak akan pernah move on dari kamu. Kamu bilang udah nggak ada perasaan? Bohong!” ucap Juno tajam, membuat tawa Candra seketika terhenti.


Candra menelan ludahnya, dia baru menyadari posisi duduk mereka saat ini. Juno masih menatap tajam manik mata hitam Candra. Wanita itu menahan napasnya ketika pandangan mereka bertemu. Candra terkunci oleh tatapan itu, jantungnya berdegub dengan kencang. Batinnya terus merutuk dan berharap semoga Juno tidak mendengar detak jantungnya ini.


“Udah sore. Ayo aku antar kamu pulang,” ucap Juno dan memutus adu tatap mereka.


Juno menuju kasir untuk membayar makanan mereka, sementara Candra masih mematung di tempat. Dia memegangi dadanya yang masih terasa berdebar.


“Ayo!” ajak Juno.


“Nih jas lo, makasih.”


“Bawa dulu aja. Lain kali pake celana panjang atau rok panjang biar nggak dilirik nyamuk,” kata Juno dan masuk ke dalam mobil terlebih dulu.


Lagi- lagi Candra mendengus sebal dengan perkataan Juno. Tidak mau kembali lapar karena berdebat, Candra akhirnya menyusul Juno masuk ke dalam mobil. Sementara Juno hanya tersenyum samar.


...👠👠👠...


Candra mengerjapkan matanya dan hampir saja memekik kaget ketika melihat wajah Juno yang sedang asyik menatapnya. Candra mengernyit mencoba mengingat- ingat apa yang terjadi padanya. Mereka tadi sedang perjalanan pulang dari resto hutan itu dan memang tidak ada percakapan selama perjalanan, hanya musik di mobil Juno sebagai pemecah keheningan. Lalu bagaimana Candra bisa berakhir tertidur? Padahal dia sudah sangat siaga dan mencoba untuk tidak lengah.


“Udah bangun? Nyenyak tidurnya?” tanya Juno tersenyum, tangannya terulur untuk merapikan rambut Candra.

__ADS_1


“Gue dimana?” tanya Candra masih linglung.


“Di depan rumah kamu.”


Candra memperhatikan keluar jendela mobil, benar apa yang dikatakan Juno. Mobil pria itu terparkir di depan rumah Candra. Langit juga sudah gelap, entah pukul berapa sekarang.


“Anter gue ke studio. Gue masih harus lanjutin kerjaan,” ucap Candra membulatkan mata ketika ingat pekerjaannya.


“Nggak perlu, tunangan batal. Tapi kalo kamu masih maksa buat gaun itu nggak apa- apa, nanti kamu yang pakai.”


“Astaga. Jangan ngaco lo, Jun! Udahlah, capek gue. Thank’s buat makan siang dan tumpangannya.”


“Tunggu!” cegah Juno menahan lengan Candra yang sudah bersiap membuka pintu mobil.


“Apa lagi?”


“Satu peringatan dari aku udah kamu terima, kan? Sampai tiga peringatan yang aku beri kamu langgar…” Juno menggantung kalimatnya membuat Candra mengernyitkan dahi. “Akan terjadi sesuatu dengan Prasetyo Wijaya,” lanjutnya tersenyum miring.


“Gil…”


“Oh ya, motor kamu udah sampai rumah,” potong Juno dengan senyum manis.


...🥊🥊🥊...


Candra menatap datar kepergian mobil Juno. Batinnya sudah menangis dengan umpatan untuk pria itu. Juno benar- benar tidak berakhlak, pria itu sama sekali belum berubah. Sikap dan perilakunya masih sama seperti dulu. Ponsel Candra berdering, membuat umpatan untuk Juno tertunda.


“Halo, Fi?”


“Heh, Juminten! Lo kemana aja? Kenapa nggak balik lagi?”


Candra meringis mendengar suara Ifi di seberang sana. “Gue udah pulang. Kalian pulang aja, lanjutin besok lagi.”


“Nayla tadi ke sini, untung si Nisa pinter ngibul…”


Candra memijit pelipisnya, kepalanya terasa berdenyut. Perkataan Ifi sudah tidak terdengar di telinga Candra lagi.

__ADS_1


...👠👠👠...


Tertanda: Otor belum bangun 😴😴😴


__ADS_2