Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Nayla


__ADS_3

Juno baru memasuki rumah orang tuanya. Pria itu tiba- tiba menghentikan langkah kakinya melihat ada kedua orang tuanya duduk di ruang tamu. Juno mengusap tengkuknya, merasa tiba- tiba saja hawa di rumahnya menjadi dingin. Dia menelan ludahnya susah payah ketika tidak sengaja menatap kedua orang tuanya.


“Darimana kamu?” tanya sang Mama ketus.


“Emmm, Ju… Ju…”


“Jawab yang bener! Kenapa kamu jadi gagap?” potong sang Mama. “Mau sampai kapan kamu kayak gini, Jun? Sadar sama umur kamu. Masih aja suka main- main.”


“Maaf, Ma. Tadi Juno antar Candra pulang,” jawab Juno menundukkan kepalanya.


Bu Felin – Mama Juno – hendak menyemprot Juno, tapi mendadak tertahan di kerongkongan mendengar nama yang sepertinya pernah beliau dengan.


“Candra? Siapa itu?” tanya Bu Felin mengernyitkan dahinya.


Melihat wajah Bu Felin yang mulai bersahabat, membuat Juno tersenyum samar, dengan wajah sumringah dia hendak menjawab pertanyaan sang Mama. Niat hati ingin duduk di samping Bu Felin harus gagal. Padahal dia sudah sangat bersemangat hendak menjelaskan pada Mamanya itu.


“Siapa yang suruh kamu duduk? Berdiri di sana!” ucap Pak Dedi – Papa Juno –.


“Candra itu calon mantu Mama,” jawab Juno.


Kerutan di dahi Bu Felin bertambah. “Terus Nayla itu siapa? Bisa- bisanya kamu tunangan sama Nayla, terus Candra yang jadi istri kamu. Kamu bukan raja yang bisa punya selir.”


“Mama, kok, jadi bahas raja sih? Lagian Nayla nggak setuju sama pertunangan ini,” ucap Juno dengan raut wajah dibuat sesedih mungkin.


“Mana mungkin? Nayla yang paling antusias sama pertunangan kalian. Bahkan dia terbang ke Paris buat temuin perancang busana ternama…”


Bu Felin tidak melanjutkan ucapannya. Sepertinya beliau sudah mengingat siapa Candra yang dimaksud oleh putranya. Lalu pandangan Bu Felin mengarah pada Juno yang tersenyum manis padanya.


“Jangan bilang Candra yang kamu maksud itu…”


“Seratus buat Mama. Iya, Candra yang itu.”


“Bukannya kalian udah putus sejak SMA dulu?” tanya Bu Felin.

__ADS_1


Juno menggelengkan kepalanya. “Candra yang putusin Juno. Tapi Juno nggak pernah anggap Candra mantan.”


“Tapi Mama setuju sama Candra yang putusin kamu. Kasihan Candra, pasti dia stress punya pacar kayak kamu,” ujar Bu Felin menganggukkan kepala. “Terus? Sekarang kalian udah balikkan?”


Juno menggelengkan kepalanya dengan bangga. “Belum, Ma. Doakan Juno biar bisa bawa Candra ke sini sebagai calon mantu.”


“Kalo calon mantunya si Candra sih. Mama yes!” gumam Bu Felin tersenyum. Beliau berdiri menghampiri Juno dan memeluk putranya itu dengan bangga. “Bawa dia kemari secepatnya,” tambah Bu Felin menepuk punggung Juno.


Sementara Pak Dedi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dua orang itu. Sejak tadi beliau tidak paham dengan arah pembicaraan keduanya.


Sedangkan di lain tempat. Ada Nayla yang masih bertahan bersama dengan kekasihnya. Mereka sedang ada di rumah sakit. Varo nama kekasih Nayla, saat ini tangannya sedang dibalut oleh seorang dokter. Juno benar- benar mematahkan tangan Varo. Sejak tadi ponsel Nayla berdering, tapi gadis itu terus mengabaikannya. Dia sudah masa bodoh dengan pertunangan yang tidak diinginkan itu.


“Jawab telponnya, Nay. Jangan buat keluarga kamu khawatir,” ucap Varo.


“Nggak, mau. Aku nggak mau pulang. Ayo kita pergi bersama, Ro. Aku nggak mau di sini lagi.”


Varo menggelengkan kepalanya, tangannya yang bebas mengusap lembut pucuk kepala Nayla. Pria itu juga sangat ingin membawa sang kekasih pergi dari sini. Namun Varo sadar jika dia bukan siapa- siapa. Keluarga keduanya menentang hubungan antara Varo dan Nayla.


“Aku belum bisa bawa kamu pergi sekarang, Nay. Tapi aku janji suatu saat nanti akan buktikan ke keluarga kamu, kalau aku nggak seperti apa yang mereka pikirkan.”


Akhirnya Nayla pamit untuk menjawab panggilan itu. Dia menuju taman rumah sakit untuk menjawab si penelpon. Nayla menghirup udara sebanyak- banyaknya dan menghembuskan secara perlahan sebelum menjawab panggilan itu.


“Hal…”


“Dimana lo sekarang, Hah?”


“Di… di rumah sakit, Kak.”


"Pulang lo sekarang juga! Lo sadar sama apa yang lo lakuin?”


“Nggak, Kak. Nayla mau berhenti sekarang…”


“Udah berani bantah lo? Lo lihat aja apa akibatnya kalo lo berani bantah perkataan gue!”

__ADS_1


Panggilan itu terputus secara sepihak. Air mata lolos dari mata Nayla. Gadis itu menangis meratapi kehidupannya. Dijadikan boneka selama ini oleh keluarganya yang tidak benar- benar menerimanya.


“Nona Nayla, anda diperintahkan oleh Nyonya untuk segera pulang sekarang,” ucap seseorang mengagetkan gadis itu.


Nayla mendongakkan kepala. Tidak! Dia tidak boleh lemah dan tidak akan pernah menjadi boneka keluarga laknat itu lagi. Gadis itu mengambil ancang- ancang untuk kabur. Namun rencananya gagal, tidak hanya satu orang di sana, melainkan ada sekitar lima orang pria dengan setelan jas hitam menghadangnya.


Nayla tertawa, merasa sangat lucu dengan hidupnya. Sekarang dia tidak bisa bergerak. Lagi- lagi Nayla hanya bisa pasrah di bawa oleh para bodyguard suruhan Kakak sepupunya itu. Jika dapat memilih, Nayla lebih memilih mati saat ini juga daripada diperlakukan seperti ini.


‘Maaf, Varo,’ batin Nayla sedih.


Nayla dan para orang suruhan Kakak sepupunya itu sudah tiba di sebuah rumah mewah. Di dalam, Nayla sudah di tunggu oleh sang Kakak yang duduk membelakanginya. Wanita yang duduk membelakanginya itu membalikkan kursinya. Menatap tajam bak hunusan pedang yang menusuk. Nayla menundukkan kepalanya.


“Lo gagal lagi, Nay,” ucap wanita itu tersenyum mengerikan.


“Ma…af, Kak,” gumam Nayla lirih.


GREP!


“Argh, sa… sakit,” pekik Nayla merasakan sakit di kepalanya.


“Gue tau lo tadi coba buat kabur.”


“A… ampun, Kak.”


“Hah! Harusnya lo sadar diri. Lo itu siapa. Udah bagus keluarga gue mau pungut lo! Harusnya ada rasa terima kasih selama ini keluarga gue udah mau urus anak nggak berguna kayak lo!” tunjuk wanita itu tepat di depan wajah Nayla.


Hati Nayla bagai tertusuk ribuan pisau, menancap sempurna di sana. Tangisnya kembali pecah. Sejak kematian kedua orang tuanya, Nayla tidak pernah diperlakukan secara baik. Hidupnya hancur setelah kematian kedua orang tuanya.


Keluarga sang Mama tidak mau merawatnya yang ketika itu Nayla masih berusia delapan tahun. Beruntung keluarga sang Papa mau merawatnya. Dahulu ada sang Kakek dan Nenek yang menyayanginya. Namun beliau meninggal ketika Nayla berusia sebelas tahun. Setelahnya perlakuan keluarga sang Papa berubah, ternyata selama ini mereka hanya sandiwara.


“Gue beri kesempatan terakhir buat lo. Buat Juno cinta sama lo!” ucap wanita itu. “Kalo lo gagal lagi. Silahkan jadi gembel di luar sana.”


...👠👠👠...

__ADS_1


Tertanda: Otornya Ngantuk 🦥🦥🦥



__ADS_2