
Sekuat tenaga Candra mendorong tubuh Juno agar menjauh darinya, lalu sebuah bogem mentah dia hadiahkan untuk buaya itu.
JDUG!
Kepala Juno membentur dashboard mobil membuat Candra meringis ikut merasa sakit. Namun segera dia tersadar dan bergegas keluar dari mobil Juno, kemudian melarikan diri masuk rumah.
“Kamu pulang di antar Juno?” tanya Bu Maya yang melihat kedatangan putirnya.
“Langsung pulang dia. Ada urusan penting katanya,” jawab Candra. “Kalo gitu Candra langsung ke kamar, Ma.”
Bu Maya hanya mengangguk dan memperhatikan tingkah Candra yang terasa aneh baginya. Sedangkan Candra begitu masuk kamar langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Astaga, bibir gue kena najis. Gimana cara bersihinnya?” gumam Candra mengelap bibirnya dengan air dan sabun.
“Eh? Tapi tadi tuh buaya nggak mati, kan?” tanya Candra teringat bagaimana kepala Juno terbentur cukup keras. “Bodo amat, Can. Saat ini yang terpenting adalah cuci bibir lo.”
Candra terbaring di tempat tidurnya. Napasnya ngos- ngosan. Raga dan mentalnya benar- benar terasa sangat lelah. Suara dering ponsel membuyarkan pikiran wanita itu yang tadi sedang meratapi nasibnya. Melihat siapa yang menelponnya membuat Candra mendengus. Dia tidak berniat menjawabnya, lalu dengan sadis memblokir nomor itu. Namun tidak lama sebuah panggilan lain masuk ke ponsel Candra, dengan malas wanita itu menjawab panggilan yang entah dari siapa.
“Halo?”
“Candra! I'm going to Indonesia tomorrow,” ucap sebuah suara di seberang sana.
Candra mengernyitkan dahinya, melihat layar ponsel yang panggilannya masih tersambung dengan seseorang di seberang sana.
“Eric?”
“Yes, me. Wait for me in Jakarta. Bye.”
Panggilan terputus secara sepihak. Candra masih bengong setelah mendengar ucapan Eric tadi. Namun Candra segera tersadar, dia pun menghubungi Novi untuk mengkonfirmasi ucapan Eric tadi bukan karena pria itu sedang mabuk.
“Halo, Nov. Gue mau tanya sesuatu…”
“Itu si Eric beneran mau ke Indo? Hah? Lo nggak tau?”
“Hmm, gitu. Oke, bye.”
Ternyata Novi tidak tahu perihal Eric yang hendak berkunjung ke Indonesia. Candra mendengus.
__ADS_1
“Mau apa dia ke sini?” tanya Candra pada dirinya sendiri.
...👠👠👠...
Hari ini adalah hari penting bagi Vina. Dimana Vina dan Dafa akan mengikat janji suci sehidup semati. Sejak pagi Candra sudah bersama Vina. Sahabatnya itu sangat cantik dengan balutan kebaya putih dengan rambut di sanggul rapi. Tidak hanya Candra, tapi ada Lia juga yang menemani Vina. Punggung Vina menegak begitu terdengar suara MC yang akan memulai prosesi akad nikah.
“Kenapa lo, Vin?” tanya Lia melihat Vina yang bergerak gelisah.
“Gue mules nih. Pengen ke kamar mandi, tapi gimana gue udah dandan gini. Kalo make up gue rusak gimana?” jawab Vina gelisah.
“Ckck, pegang batu dah. Di jamin nanti lo nggak kebelet lagi,” ucap Candra memberi usul.
“Ya udah cepet cariin gue batu. Sebentar lagi acaranya selesai.”
Candra pun keluar dari ruangan dan segera melaksanakan tugas mencari batu. Beruntung tidak jauh dari sana ada sebuah pot tanaman yang tanahnya bercampur dengan kerikil- kerikil. Candra memilih yang paling besar dan kembali pada Vina yang wajahnya sudah sangat jelek akibat menahan sesuatu.
“Nih,” ucap Candra memberikan batu itu pada Vina.
Setelah Dafa mengucapkan akad nikah, Vina diminta untuk keluar dari ruangan. Candra dan Lia mengikuti dari belakang. Lalu dua wanita itu duduk tidak jauh dari sana. Candra fokus memperhatikan acara. Dafa sudah memasangkan cincin di jari manis Vina, kini giliran sahabatnya itu yang memasangkan cincin di jari Dafa.
Namun di luar dugaan, ternyata Vina masih menggenggam batu tadi. Alhasil batu itu jatuh membentur lantai dengan suara nyaring. Candra dan Lia membungkam mulutnya. Berusaha menahan tawa mereka melihat batu itu masih menggelinding di lantai. Sedangkan Vina wajahnya sudah merah padam menahan malu, membuat Dafa mengernyitkan dahi melihat wajah sang istri barunya.
“Diem lo,” ucap Candra yang masih berusaha untuk tidak tertawa ngakak.
Namun acara berlangsung dengan lancar, Vina berhasil memasangkan cincin di jari Dafa. Dia pura- pura tidak tahu apa yang tadi terjadi. Beruntung juga tidak ada yang menanyakan datang darimana batu itu berasal.
Selesai acara akad, Vina dan Dafa menuju ke tempat selanjutnya untuk menggelar acara resepsi. Acara resepsi ini, Vina mengundang semua temannya. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan gaun rancangan Candra. Acara pelemparan bunga mnejadi momen yang paling di tunggu oleh tamu undangan yang statusnya masih jomblo. Alhasil banyak yang sangat antusias bersiap berdiri di belakang pasangan pengantin yang sudah berancang- ancang hendak melempar bunga itu.
“Lempar yang tinggi, Vin!” teriak sebuah suara.
“Lempar yang jauh!” teriak suara lain.
“Oke, siap- siap. Gue lempar sampai hitungan ketiga, ya?” ucap Vina.
1
2
__ADS_1
Baru hitungan kedua Vina dan Dafa melempar bunga itu. Tentu tamu undangan serempak membulatkan mata mereka, merasa dikhianati oleh pasangan pengantin baru itu. Namun selanjutnya mata mereka fokus pada buket bunga yang terlempar itu. Menebak kira- kira siapa yang beruntung mendapat buket bunga itu.
“Hah, maleslah gue kalo gini,” ucap sebuah suara.
Suasana mendadak hening. Vina dan Dafa yang penasaran pun menoleh. Mata mereka sibuk mencari siapa yang berhasil menangkap buket bunga yang tadi mereka lempar. Namun tidak ada satu pun yang memegang buket itu.
“Yang dapet siapa?” tanya Vina.
“Nggak niat lo pada. Tuh bunganya nyangkut di atas,” jawab Lia menunjuk langit- langit gedung.
Vina dan Dafa kompak mendongak. Benar saja, buket bunga itu menyangkut di sana. Tamu undangan pun membubarkan diri dan lebih memilih untuk menyantap hidangan ang telah disediakan. Sedangkan Vina dan Dafa berdiri di pelaminan dan sedang berfoto bersama beberapa tamu undangan.
“Nyesel gue berharap,” ucap Lia yang masih kecewa.
“Lo masih bisa nyolong bunga kantil yang dipakai Vina,” ujar Candra memakan es krimnya.
“Oke, nanti gue colong tuh bunga.”
“Lo nggak dateng sama si Anton?”
“Dia bareng temen- temen cowok. Lagian dia males nunggu lama dari proses akad.”
Candra menggelengkan kepalanya. “Kan, si Anton bisa belajar buat akad nanti.”
“Eh iya ya, kenapa nggak kepikiran?” tanya Lia. “Lo sama Tayo gimana? Nggak dateng bareng kalian?”
Candra menggeleng. “Jangan ngomongin dia deh, gue jadi ngerasa bersalah lagi.”
Lia hanya mengangguk, dia sudah mendengar cerita jika Teo dihajar oleh mantan Candra hingga masuk rumah sakit.
Lalu keduanya kembali menikmati pesta. Bahkan tadi Lia dan teman- teman IPA 5 turut serta menyumbangkan lagu.
“Lo nggak ikut gabung sama mereka?” tanya seseorang mengagetkan Candra.
...🥊🥊🥊...
Tertanda: Otor Lafer 😙😙😙
__ADS_1