
Suara ketukan pintu membuat fokus Juno yang sedang berkutat dengan kertas- kertas di mejanya. Pria itu meletakkan pulpen di tangannya dan memijat pelipisnya. Juno mempersilakan orang itu untuk masuk. Tidak lama pintu terbuka dan muncullah dua orang yang sangat dikenalnya.
“Kok kamu nggak kabarin dulu kalau mau ke sini?” tanya Juno berjalan menghampiri dua orang itu.
“Kamu lagi sibuk, ya?”
Juno menggeleng. “Nggak kok.”
“Bohong, tuh meja kamu banyak kertas berserakan. Aku ke sini mau anterin ini, kamu tadi udah makan?”
“Udah, Yang. Tadi gimana acaranya? Aurel nggak rewel, kan?”
Kedua orang itu adalah Candra dan Aurel yang memang sengaja mampir ke kantor Juno yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari Mall tempat diselenggarakannya peragaan busana. Namun sebelum kemari, Candra membeli makanan untuk sang suami terlebih dulu.
“Lancar, Aurel nggak nangis. Kalo kamu masih kenyang, nanti bagiin ke Sari aja makannanya.”
“Pasti nanti aku makan,” ucap Juno, matanya menatap sebuah buket bunga yang tadi Candra bawa saat masuk ke ruangannya. “Itu apa? Kamu beli bunga, Yang? Memangnya ada acara apa?” tanya Juno bertubi- tubi.
Pasalnya, memang seingat Juno ulang tahunnya masih beberapa hari lagi dan hari ini sedang tidak ada acara apapun untuk dirayakan.
“Punya Aurel,” jawab Candra menunjuk bayi yang berada dalam gendongannya.
Akhirnya Candra menceritakan semua kronologi kejadian setelah acara selesai tadi pada Juno. Menceritakan bagaimana sikap Aurel yang tadi tidak mau berpisah dengan pria model yang menggendong bayi itu. Sementara sekarang bayi itu sedang tidur dalam pelukan Candra, sepertinya kelelahan dengan aktivitas seharian ini.
“Astaga, siapa yang ajarin Aurel kayak gitu?” tanya Juno geleng- geleng kepala, tidak habis pikir dengan tingkah putrinya itu.
“Entahlah, nurun siapa dia,” jawab Candra menidurkan kepalanya di sandaran sofa.
Ternyata menggendong Aurel seharian membuatnya lelah juga. Melihat sang istri yang terlihat kelelahan, Juno berinisiatif hendak memijat pundak Candra. Namun, tiba- tiba saja sebuah ketukan pintu mengurungkan niat Juno.
“Masuk!” perintah Juno.
__ADS_1
Pintu terbuka dan muncullah Sari di ambang pintu. Wanita itu memberitahukan Juno jika sebentar lagi pria itu akan ada rapat. Juno mendengus malas, dia tidak ingin meninggalkan Candra saat ini.
“Udah sana meeting dulu. Habis ini aku sama Aurel pulang.”
“Kok pulang?” tanya Juno mengernyitkan dahinya.
“Ya iyalah, di sini aku mau ngapain? Kamu kalo meeting juga lama.”
Akhirnya dengan berat hati Juno meninggalkan Candra dan Aurel. Pria itu berjalan menuju ruang rapat diikuti Sari di belakangnya.
Kurang lebih hampir selama dua jam rapat berlangsung, kini hanya Juno yang masih bertahan di ruang rapat seorang diri. Langit sudah gelap, lampu- lampu dari gedung juga sudah menyala. Cahayanya menggantikan bintang di langit. Juno melonggarkan dasinya, sebentar lagi dirinya akan pulang. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam. Dengan langkah malas, pria itu berjalan menuju ruangannya untuk mengambil barang- barangnya. Sekretarisnya sudah pulang sesuai jam kerja tadi.
“Ah iya, makanannya belum gue makan,” gumam Juno melihat kantong kertas berisi makanan yang tadi Candra bawa.
Juno duduk di sofa dan membuka makanan yang telah dingin itu. Beruntung tadi Juno telah mengirim chat pada istrinya jika dia akan pulang terlambat hari ini dan wanita itu tidak perlu menunggu dirinya. Juno menikmati makanan yang sudah dingin itu, walau begitu dia akan tetap memakannya.
“Not bad,” gumam Juno setelah merasakan makanan itu di dalam mulutnya.
Beberapa menit kemudian tempat makan itu sudah kosong. Juno bangkit dari duduknya, mengambil barang- barangnya dan segera keluar dari ruang kerjanya. Namun pria itu mampir ke sebuah mesin minuman otomatis untuk membeli sekaleng kopi. Dia meminumnya di taman kantor. Suasana taman ini sudah sangat sepi, hanya ada dirinya saja. Juno mengeluarkan rokoknya.
...👠👠👠...
Mobil Juno memasuki halaman rumah. Setelah menutup pagar, pria itu segera masuk ke dalam rumah. Namun sebelumnya, dia memeriksa terlebih dulu bau tubuhnya juga bau mulutnya. Juno tidak mau Candra memergokinya merokok lagi. Setelah di rasa aman, pria itu pun masuk ke dalam rumah. Juno pikir istrinya sudah tidur, tapi ternyata dugaannya salah. Candra sedang duduk memeluk lutut di atas sofa ruang keluarga. Juno mengernyit melihat tubuh sang istri yang bergetar, dia pun melangkah mendekat.
“Kamu nangis, Yang? Kenapa?” tanya Juno terkejut melihat Candra yang menangis sesenggukkan.
“Lho? Kamu udah pulang, Mas? Kok aku nggak denger suara mobil?” Candra balik bertanya, dia mengelap matanya yang basah oleh air mata.
“Jawab dulu, kamu kenapa nangis? Ada masalah?” tanya Juno duduk di sebelah sang istri, tangannya memegang kedua bahu Candra.
“Nggak ada masalah. Aku nangis nonton drama tadi, karena adegannya sedih jadi aku terbawa,” jelas Candra menurunkan kedua tangan Juno yang memegang bahunya.
__ADS_1
Juno mengernyit, dia masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita di depannya ini. Namun, Candra langsung menunjuk televisi. Memang di sana ada sebuah drama yang sedang di tonton Candra tadi.
“Percaya? Udah sana kamu mandi dulu,” kata Candra mendorong- dorong tubuh sang suami.
Juno menghembuskan napas lega, ternyata memang benar istrinya hanya menangis karena sebuah adegan di drama. Sebelum meninggalkan Candra, Juno sempat mencuri ciuman di pipi kiri istrinya itu.
“Kamu kalo masuk kamar jangan berisik, Aurel baru aja tidur,” peringat Candra.
“Siap, Bu Negara,” jawab Juno memberi hormat.
Candra kembali menonton drama itu, sembari menunggu Juno selesai mandi. Malam ini entah mengapa Candra tidak bisa tidur, padahal tidak ada yang sedang mengganggu pikirannya. Bau harum pasta gigi dan sabun mengganggu indera penciuman Candra. Wanita itu menoleh dan tepat di depan wajahnya Juno sedang tersenyum lebar. Candra menatap datar wajah Juno.
“Kamu masih belum ngantuk?” tanya Juno duduk di sebelah Candra.
Candra memperhatikan penampilan Juno yang hanya memakai kaos tipis dan celana boxer yang bahkan hampir mirip dengan ****** ***** saking pendeknya.
“Belum ngantuk, kamu kalau mau tidur dulu nggak apa- apa. Aurel nggak kamu gangguin, kan, tadi?”
“Nggak dong, malah aku seneng kalo Aurel tidur nyenyak sekarang,” jawab Juno tersenyum.
“Kamu tadi ngerokok, ya?” tanya Candra tanpa menoleh pada Juno. Sementara Juno, senyumnya mendadak hilang. Wajahnya kini terlihat cemas, seperti maling yang ketahuan mencuri.
“Kamu tau?” tanya Juno gugup.
Candra menoleh pada Juno dan menatap dengan serius wajah suaminya itu. “Tau dong, baunya kecium tadi.”
Candra mengendus- endus bau Juno, hanya bau wangi yang tercium dari indera penciumannya saat ini. Tidak seperti tadi saat pria itu baru pulang. Candra tersenyum dan dia mencium bibir Juno. Juno yang tidak menyangka akan mendapat serangan dari sang istri kelabakan.
“Tadi kecium, tapi sekarang udah nggak. Tapi nggak apa- apa kamu ngerokok, asal nggak di depan aku sama Aurel dan baunya nggak kamu bawa pulang.” jawab Candra terkekeh setelah melepas ciumannya.
“Mau buat adeknya Aurel?” tanya Juno menatap Candra penuh harap.
__ADS_1
...🥊🥊🥊...