Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Pria Beristri Lebih Menggoda


__ADS_3

Rumah Candra ramai oleh teman- teman IPA 5 yang hendak menjenguknya. Candra baru pulang dari rumah sakit kemarin sore dan siang ini rombongan alumni IPA 5 menggrebek rumahnya. Lia dan teman- temannya sedang mengerubungi box bayi, orang- orang itu melihat dengan gemas wajah Aurel yang sedang tidur pulas. Sementara teman- teman pria Candra sedang bersantai di ruang keluarga rumahnya.


“Sayang banget Vina nggak di sini,” gumam Lia.


“Iya, dia nggak balik Jakarta, ya? Gue juga pengen lihat anak dia,” timpal Nina.


Dari kamar tamu yang sementara digunakan sebagai kamar untuk Candra dan Aurel, kini beralih di ruang keluarga. Dimana beberapa teman- teman pria Candra berada.


“Tadi kata lo anggap rumah sendiri, kan?” tanya Bara mengingatkan Candra yang hendak protes.


“Ini kita lagi anggap rumah lo rumah kita juga,” tambah Andy mengunyah kacang di toples.


Candra memijat pelipisnya melihat tingkah akhlakless teman- temannya itu. Wanita itu pun memutuskan untuk menuju dapur, ternyata di dapur ada Erin dan Vivin yang sedang memasak.


“Ngapain kalian?” tanya Candra mengernyitkan dahinya.


“Mau buat cemilan, lo baru belanja, ya? Gue sama Erin masakin cemilan, ya?” jawab dan tawar Vivin.


“Terserah lo pada deh,” kata Candra meninggalkan mereka. “Asal wajan gue nggak lo buat gosong,” tambah Candra sebelum benar- benar pergi darisana.


Candra menemukan Juno yang berada di halaman belakang, dia meringis melihat Juno yang sedang duduk di kursi. Sepertinya Juno merasa tidak nyaman dengan kedatangan teman- temannya yang hampir satu kelas itu. Namun, langkah Candra terhenti. Matanya membulat melihat ternyata Juno tidak sendirian. Pria itu sedang sparing dengan Damian. Sepertinya dua pria itu tidak menyadari kehadiran Candra. Wanita itu asyik menonton Juno dan Damian yang sedang beradu di rerumputan.


“Wuih, Damian keren juga,” celetuk Lila yang tiba- tiba saja duduk di sebelah Candra.


“Astaga ngagetin lo!” pekik Candra.


Akibat pekikan Candra itu, Juno dan Damian menghentikan adu jotos mereka. Lila mendengus karena dua pria itu menghentikan aktivitasnya.


“Lo sih. Mereka jadi berhenti, kan?” ucap Lila menyalahkan Candra.


“Lah, lo kok nyalahin gue? Gue yang kaget tiba- tiba lo nongol nggak kasih kabar dulu.”


Lila memutar bola matanya malas. Juno dan Damian berjalan menghampiri Lila dan Candra. Lila menyenggol lengan Candra, membuat wanita itu menoleh dan menatap penuh tanya pada Lila.


“Laki lo ganteng juga,” bisik Lila mesem- mesem.


Candra menyentil dahi Lila, membuat temannya itu mengaduh kesakitan. “Mau daftar jadi pelakor lo?”


“Ya, kagaklah. Eh, tapi bener kata orang- orang ‘Pria yang sudah beristri itu lebih menggoda’,” jelas Lila. “Apalagi kalo udah punya anak, kayak Juno contohnya. Papa muda dambaan para emak- emak,” tamabh Lila dengan wajah mupeng.

__ADS_1


“Sarap lo,” ucap Candra.


Candra mengambilkan handuk untuk Juno dan Damian. Sementara Lila masih betah berada di sini, matanya tanpa berkedip melihat pemandangan yang menurutnya indah itu. Candra melotot melihat hal itu, tangannya yang sudah gatal daritadi pun menggeplak punggung Lila.


“Inget suami di rumah,” peringat Candra.


Lila menoleh dan melotot pada Candra. “Pake diingetin segala. Gue jadi inget belum masak, kan.”


Kemudian Lila pun pamit untuk pulang terlebih dulu. Candra terkekeh melihat Lila misuh- misuh dan berjalan pergi dari halaman belakang.


“Si Lila mau kemana?” tanya Damian.


“Mau pulang, inget suami di rumah katanya,” jawab Candra terkikik geli.


“Bos, gue pinjem kamar mandi lo dong. Gue mau numpang mandi,” kata Damian.


“Pake aja.”


Damian pun masuk ke dalam rumah Candra dan Juno, tapi sebelumnya tubuhnya dia tutup dengan handuk agar tidak menjadi konsumsi publik. Namun spontan Candra dan Juno menoleh karena mendengar suara ribut dari dapur.


“Damian dimangsa buaya betina kayaknya,” kata Candra tertawa ngakak.


“Hmm?” gumam Candra mengernyitkan dahinya.


“Teman- teman kamu kapan pulang?”


“Entahlah. Aku juga nggak tau. Aku mau ngusir mereka juga nggak enak.”


Juno menghembuskan napasnya, kepalanya dia sandarkan pada bahu Candra. Sementara tangan Candra memainkan rambut Juno yang lepek akibat keringat. Juno memejamkan matanya merasakan sentuhan tangan istrinya. Candra tersenyum usil, tangannya dengan jahil mengelus tengkuk Juno. Merasakan geli ditengkuknya Juno spontan menoleh pada Candra.


“Jangan mancing, Yang,” peringat Juno mencoba memperingatkan Candra.


Namun Candra tidak menghentikan aktivitasnya itu, dia mengulum senyumannya dan tangannya masih bermain- main di tengkuk Juno.


“Sayang,” geram Juno.


FYUHH!


Kini bahkan Candra meniup tengkuk Juno. Pria itu menggeram merasakan sensai geli di sekitar lehernya. Sedangkan Candra tertawa puas berhasil mengerjai suaminya. Namun, tawa Candra mendadak musnah ketika Juno kini sudah menindihnya. Candra membulatkan matanya dan menelan saliva dengan susah payah.

__ADS_1


“M… Mas, rumah masih banyak anak- anak,” kata Candra mencoba mendorong tubuh Juno.


“Aku udah peringatkan kamu tadi, Yang,” ucap Juno tersenyum miring.


Candra berjengkit kaget saat Juno mulai mencium lehernya. Wajah pria itu tenggelam dalam ceruk leher Candra. Wanita itu menggigit bibirnya, menahan diri agar suara laknat itu tidak lolos dari mulutnya.


“Jun… udhhh,” pinta Candra, tapi dia segera menutup mulutnya.


“Jangan ditahan, Yang,” kata Juno masih terus menciumi leher Candra.


“Mmmaa…”


Ucapan Candra terpotong ketika suaminya itu berpindah dari lehernya menuju bibir Candra. Juno meraup bibir ranum itu, mencecap rasa manis itu. Candra menyerah, kini dia sudah terbuai dengan permainan yang dimainkan suaminya. Wanita itu pun juga mengimbangi permainan Juno, membuat pria itu tersenyum samar. Ciuman Juno turun kembali menuju leher jenjang Candra.


“Masih sakit?” tanya Juno, tangannya menyentuh bawah perut Candra.


“Masih,” jawab Candra, matanya terlihat sayu menatap Juno.


Juno menggeram melihat ekspresi istrinya itu. Pria itu pun mengehentikan permainannya dan kembali duduk seperti semula. Hal itu membuat Candra mengernyitkan dahinya.


“Kok udahan?” tanya Candra polos.


“Katanya masih sakit?”


Candra mengangguk. “Iya memang masih sakit, memangnya kamu mau ngapain?”


Juno menggeleng frustasi melihat ekspresi Candra yang polos- polos menggemaskan. Tangan Juno menangkup wajah Candra. Meneliti tiap inci wajah cantik itu. Sementara Candra mengernyit bingung dengan tingkah sang suami.


“Kwamu ngwapain?” tanya Candra dengan mulut monyong karena tangan Juno masih berada di kedua pipinya. Juno tidak menjawab, pria itu malah kembali ‘memakan’ bibir Candra.


“Candra! Nih Aurel nangis, kayaknya mint…”


Ucapan Nina tidak berlanjut, matanya membulat melihat adegan panas itu. Spontan tangannya menutup mata Aurel agar mata bayi itu tidak ternoda.


“Aurel, kayaknya Emak sama Bapakmu mau buat adek buat kamu,” kata Nina pada Aurel yang masih menangis.


...👠👠👠...


__ADS_1


__ADS_2