Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Olahraga Malam


__ADS_3

“1… 2… 3… 4… 5… 6… 7… 8… 9… 10… K.O!” teriak Damian.


“Yey! Mas Juno hebat!” sorak Candra heboh, membuat orang- orang yang ada di sana memperhatikannya.


Sementara di ring tinju Juno mengangkat kedua tangannya tinggi- tinggi, pria itu bahkan memberikan love sign pada Candra. Orang- orang yang melihat hal itu spontan mencibir dan menatap dongkol pada pasangan itu. Sedangkan Candra tersipu malu setelah mendapat love sign dari suaminya itu.


“Kalian lanjutin!” perintah Juno dan dia turun dari ring, menghampiri Candra yang sudah mengacungkan botol minum dan handuk.


“Aku hebat, kan?” tanya Juno membusungkan dadanya bangga.


“Iya, hebat. Tapi itu lawan kamu nggak mati, kan?” tanya Candra, matanya masih menatap ke ring yang berada di tengah ruangan ini. Lawan Juno itu dipapah oleh dua orang, membantunya untuk turun dari ring tinju.


“Ya, nggaklah. Cuma babak belur sedikit,” jawab Juno, dia pun mengajak Candra untuk masuk ke dalam ruangan miliknya.


Tadinya Juno tidak mengizinkan Candra ikut hari ini, tapi wanita itu terus saja memaksa ingin ikut. Akhirnya dengan berat hati, Juno mengizinkan istrinya itu untuk menonton dirinya berlatih tinju.


Candra duduk di sofa yang ada di sana. Sementara Juno masih mengeringkan tubuhnya yang basah oleh keringat dengan handuk. Candra asyik menonton kegiatan sang suami itu berbekal makanan ringan yang tadi sempat dibelinya sebelum datang kemari. Namun hampir saja Candra tersedak melihat hal yang dilakukan Juno selanjutnya.


“Kenapa kamu copot di sini?” pekik Candra membulatkan matanya.


“Hmm? Aku mau ganti celana,” ucap Juno polos.


“Ya, jangan ganti di sini. Sana ke kamar mandi, kamu nggak mandi? Abis keringetan banyak tadi.”


Juno mengerucutkan bibirnya, dia pun keluar dari sana dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Candra menunggu pria itu di ruangan ini dengan mulut sibuk mengunyah.


“Eh? Tapi dia kalo mandi lama,” gumam Candra.


Akhirnya Candra pun keluar dari ruangan itu, dia merasa bosan menunggu di sini. Wanita itu hendak menemui Yayan atau Damian yang sudah dikenalnya. Candra hanya mengenal dua orang itu saja di tempat ini, selebihnya Juno tidak memperbolehkannya kenalan.


Cukup lama Candra menunggu Juno sampai selesai mandi. Dia masih duduk bersama dengan Yayan dan Damian, juga ada beberapa orang lagi di sana. Ternyata teman- teman Juno tidak semenyeramkan apa yang dibayangkan oleh Candra dulu.


“Perut lo kapan kempes, Can?” tanya Damian.


“Kempes… kempes, lo pikir nih perut isinya angin?” sewot Candra.

__ADS_1


“Sewot amat lo,” ucap Damian mendengus.


Candra tidak mempedulikan Damian, dia kembali mencomot makanan ringan yang ada di tengah- tengah mereka.


“Yang,” panggil sebuah suara membuat orang- orang di sekeliling Candra serempak menoleh.


“Oh? Udah selesai?” tanya Candra.


“Ayo pulang,” ajak Juno.


Candra hanya mengangguk dan bangkit dari duduknya. Setelah pamit dengan teman- teman Juno, mereka berdua pun keluar dari gedung itu.


“Ngobrol apa tadi?” tanya Juno ketika mereka berada di dalam lift.


“Nggak ngobrol apa- apa. Aku nggak paham yang mereka obrolin, jadi aku dengerin aja.”


Juno hanya mengangguk, dia pun merangkul pinggang Candra. Mereka berjalan bersama menuju tempat parkir.


“Aku udah wangi, kan?” tanya Juno lebih merapatkan tubuhnya pada Candra.


...👠👠👠...


“Yah, si Seon Woo jadi tumbal. Sayang banget, padahal ganteng,” gumam Candra melihat sebuah adegan di drama itu.


Candra masih anteng menonton drama itu hingga beberapa jam lamanya. Kurang lebih tiga episode sudah Candra tuntaskan. Punggungnya terasa pegal, Candra pun memutuskan untuk mengakhiri sesi menontonnya.


“Mas Juno kemana sih?” tanya Candra pada dirinya sendiri.


Wanita itu membereskan bungkus cemilan yang berserakan di meja, dia membuangnya di tempat sampah. Lalu langkahnya menuju dapur untuk mencuci piring dan peralatan memasak yang tadi belum sempat dia cuci.


“Banyak juga ternyata,” gumam Candra melihat nanar panci dan wajan yang ada di rak pencuci piring.


Namun Candra tetap mengerjakan pekerjaan itu, dia tidak mau dapurnya berantakan dan tidak enak di pandang akibat cucian yang menumpuk. Beberapa menit lamanya Candra berkutat dengan sabun dan spon pencuci piring. Akhirnya pekerjaan itu selesai juga. Candra mengelap peluhnya.


Pintu yang menghubungkan halaman belakang terbuka membuat Candra penasaran. Wanita itu pun melangkahkan kakinya ke sana. Di halaman belakang Candra menemukan Juno yang sedang tiduran di rerumputan.

__ADS_1


“Dicariin daritadi, ternyata di sini,” ucap Candra berkacak pinggang. Dia berdiri di dekat kepala Juno.


Juno mendongak dan nyengir, tangannya yang jahil menyingkap bagian bawah daster yang di pakai Candra. Wanita itu memekik dan spontan menggeplak tangan usil Juno.


“Heh! Tangannya jahil banget!” kata Candra membulatkan matanya.


“Salah kamu, kenapa berdiri di sini? Mana nggak pake celana pendek lagi. Kamu sengaja, ya?” tanya Juno dengan pandangan menyelidik.


“Mana ada! Kamu ngapain di sini? Nggak pakai baju juga.”


Juno bangun dari tidurnya, lalu berdiri di depan Candra. Candra menatap Juno, memperhatikan tubuh pria itu yang bermandikan keringat.


“Aku habis olahraga malam, Yang,” jawab Juno tersenyum.


Candra mengernyit. “Ngapain olahraga malam segala?”


“Nih, biar perutnya nggak buncit lagi,” jawab Juno menepuk- nepuk perutnya yang mulai berbentuk lagi.


Sebenarnya, perut Juno tidak terlalu buncit beberapa waktu yang lalu. Namun memang pria itu kehilangan otot perutnya dan kini dia sedang berusaha membentuknya lagi.


Juno pun mengajak Candra untuk masuk ke dalam karena malam sudah sangat larut dan dia pun sudah sangat lelah. Candra mengunci pintu terlebih dulu dan berjalan menghampiri Juno yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.


“Kamu mau makan lagi?” tanya Candra begitu dia sampai di kamar.


“Jangan goda aku, Yang. Olahragaku selama ini bakal sia- sia kalo jam segini aku makan,” jawab Juno menatap Candra datar.


“Dih, aku cuma tanya. Kan, siapa tau kamu laper lagi abis olahraga,” ucap Candra mengerucutkan bibirnya.


CUP!


Juno mencium bibir Candra yang tadi masih manyun. Candra membulatkan matanya, tapi matanya memejam setelah merasakan pergerakan bibir Juno. Pria itu melepas pagutan bibirnya dan berusaha mengatur napasnya yang ngos- ngosan. Candra membuka matanya menatap wajah Juno yang masih berjarak beberapa senti dari wajahnya.


“Ini kalau udah keluar, aku bakal ajak kamu olahraga malam setiap hari,” kata Juno mengelus perut besar Candra, diselingi dengan cengiran tengil khas Juno yang sudah sangat lama tidak Candra lihat.


...🥊🥊🥊...

__ADS_1


Tumbal baru 🤧🤧🤧



__ADS_2