Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Nggak Boleh Menolak Rezeki


__ADS_3

Juno menatap kepergian Candra. Tidak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Pria itu segera masuk ke dalam mobil dan memerintahkan sopirnya untuk segera melajukan mobilnya. Tempat tujuan Juno malam ini adalah sebuah gedung bertingkat. Dia turun dari mobilnya dan memasuki gedung itu, naik ke sebuah lantai.


Ada sebuah ruangan yang cukup luas di sana. Di dalamnya sudah ramai dengan beberapa orang, tidak hanya para pria di sana ada juga beberapa wanita yang berkumpul. Di tengah- tengah ruangan itu terdapat ring tinju dan di atasnya terdapat dua orang yang sedang berlatih.


“Dari mana aja lo?” tanya salah seorang melihat kehadiran Juno di sana. Mendengar pertanyan itu, semua pasang mata menatap sang pemilik ruangan ini.


“Kencan sama mantan,” jawab Juno tersenyum miring.


“Ckck, masih belum move on juga lo? Si Nayla udah tau?”


Juno hanya mengangguk dan meneguk minumannya. Mengingat Nayla, membuat mood pria itu seketika rusak. Juno meletakkan gelas yang sudah kosong itu di meja. Lalu dia berjalan menuju ring tinju. Yayan yang tadi menyinggung soal Nayla mengunci mulutnya, merasa bersalah telah merusak mood Juno.


“Minggir!” Usir Juno pada seorang yang sedang bertanding di ring itu. “Lo lawan gue sekarang!” perintah Juno melepas kemejanya dan memakai sarung tinju.


Mereka yang menonton bersorak riuh menyemangati Juno. Sementara lawan di hadapan pria itu sudah menelan ludahnya. Juno menyeringai sebelum melayangkan pukulan tepat di wajah lawannya. Belum sempat melawan, Juno sudah memberikan sebuah tendangan keras pada lawannya itu hingga tersungkur. Yayan yang melihat Juno menghajar lawannya itu hanya meringis, ikut merasa ngilu. Setelah puas menghajar orang itu, Juno turun dari ring.


“Kirim dia ke rumah sakit. Nanti gue transfer,” ucap Juno pada Yayan, kemudian dia keluar dari ruangan itu.


Juno menghabiskan waktunya di atap, tiduran di pembatas gedung dengan menatap langit gelap di atas sana. Tiba- tiba Juno kembali teringat pertengkarannya dengan Nata tadi pagi, musuh bebuyutannya yang ternyata adalah sepupu Candra.


“Ckck, bakal susah deketin Rehan. Mana si Candra juga judes banget,” gumam Juno mengeluarkan rokok dari saku celananya.


Ponsel Juno berdering, menampilkan sebuah nama tertera di layar ponsel itu. Pria itu mendengus, tidak berniat menjawab panggilan itu. Namun dering ponselnya semakin lama semakin menganggu.


“Halo,” ucap Juno dengan malas.


“Denger, gue sama lo udah nggak ada hubungan lagi. Harusnya lo sadar dari awal cuma jadi barang taruhannya Rehan. Kali ini gue nggak bisa turutin kemauan lo lagi. Gue bakal batalin pertunangannya.”


Juno menggenggam ponselnya erat mendengar suara di seberang sana yang sedang mengancamnya. “Bang*sat! Jangan pernah lo sentuh Candra barang seinci pun kalo lo nggak mau berurusan sama gue!”


Juno mengakhiri sambungan teleponnya, rahangnya mengetat menahan emosi yang sudah membuncah. Dihembuskannya asap rokok itu dan dia mulai mengatur emosinya, mulai berpikir apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengakhiri semuanya.

__ADS_1


...👠👠👠...


Hari ini Candra berencana hendak berkunjung ke pet shop milik Galang. Wanita itu sudah bertanya pada Vina dan ternyata pet shop milik Galang masih buka. Hari ini Candra bisa agak santai karena gaun milik Nayla sudah hampir jadi, tinggal memberikan sentuhan terakhir saja. Sementara tadi Nisa diberi tugas untuk mulai mengerjakan gaun milik Vina. Lusa nanti baru Candra akan bertemu crazy rich Cirebon itu. Candra memasuki pet shop itu dan melihat- lihat koleksi di sana. Candra ingin kembali memelihara seekor kucing.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya salah seorang karyawan di sana.


“Saya mau adopsi kucing, Mbak. Bentar mau cari yang cocok dulu.”


Karyawan itu pun mempersilakan Candra untuk melihat- lihat kucing di sini. Candra tidak ingin memelihara kucing oren lagi, dia kapok memelihara kucing dengan bulu berwarna oren. Ndut adalah kucing oren terbar- bar yang pernah Candra pelihara. Tingkah Ndut benar- benar membuatnya pening dulu.


“Ada pelanggan, ya?” tanya seseorang yang baru masuk pet shop.


Candra menoleh untuk melihat siapa yang bertanya itu. Matanya berbinar begitu mengenali orang itu. Candra melambaikan tangannya, berharap orang itu mengenalinya.


“Siapa, ya?”


Candra mendengus mendengar pertanyaan orang itu. Malu juga sebenarnya karena dirinya tidak dikenali. Namun orang itu berjalan menghampiri Candra dan menanyakan apakah Candra mengenal orang itu.


“Can… Candra? Candra yang itu?” tanya orang itu akhirnya mengingat siapa Candra.


“Lo belum terlalu tua kenapa udah pikun, Kak?”


“Lo masih inget sama gue? Astaga, gue bener- bener nggak ngenalin lo tadi. Kemana aja lo selama ini? Gue nggak pernah denger kabar lo lagi setelah kalian lulus SMA.”


“Panjang ceritanya. Kalo mau denger ceritanya traktir gue di warung depan itu,” tunjuk Candra pada sebuah warung makan di seberang jalan.


“Ayo. Bentar gue mau simpen snelli gue dulu.”


Candra pun menunggu Galang menghampiri karyawannya. Entah apa yang diobrolkan mereka, tapi tidak lama kemudian Galang kembali dan mengajak Candra pergi dari sana.


Galang dan Candra sudah memesan makanan masing- masing. Sebenarnya tadi Candra hanya basa- basi saja, tidak berniat benar- benar meminta pria di depannya ini untuk mentraktirnya. Namun ternyata Galang menanggapinya dengan serius, tentu itu rezeki untuk Candra.

__ADS_1


‘Kata Bunda rezeki itu nggak boleh ditolak,’ batin Candra.


“Jadi lo kuliah di Paris? Pantes gue nggak pernah denger kabar lo. Kalo si Vina dia kuliah di luar kota, ya?”


“Iya, Kak. Lo masih sering chat- an sama si Vina?”


“Udah nggak pernah. Kabar dia gimana sekarang?”


“Uhm, baik dia. Lagi sibuk persiapan nikah,” jawab Candra meringis.


Sementara Galang hanya mengangguk- angguk. Padahal ada rasa tertusuk di dalam hatinya. Setelah membahas Vina, suasana mendadak menjadi kaku.


“Oh ya, rencana tadi gue mau beli kucing,” ucap Candra mengalihkan topik.


“Lho? Si Ndut kemana?”


“Mati, Kak. Si Kimo apa kabar?”


“Si Kimo juga udah sakit- sakitan, maklum udah tua dia.”


“Nanti pilihin kucing yang cocok, ya? Jangan yang kayak Ndut tapi.”


Galang tersnyum dan mengangguk, pesanan mereka sudah tiba. Keduanya pun makan sambil berbincang seperti teman yang sudah lama tidak bertemu.


Candra menepuk- nepuk perutnya yang terasa kenyang. Dia menunggu Galang yang masih membayar pesanan mereka tadi. Candra duduk di depan warung itu sembari menikmati semilir angin yang sepoi- sepoi. Rasa kenyang membuatnya seketika mengantuk. Namun spontan matanya terbuka sempurna dan rasa kantuk itu hilang ketika matanya tidak sengaja menangkap dua orang yang sedang berjalan dan tadi melewatinya. Candra mengucek matanya untuk memastikan dia tidak salah lihat.


“Lho? Tadi, kan…” Candra masih memperhatikan punggung dua orang itu. “Nayla. Gue nggak salah lihat.”


...🥊🥊🥊...


Tertanda: Otor keceh ☺☺☺

__ADS_1



__ADS_2