
Candra dan Juno baru saja mengantar Aurel ke rumah orang tua Candra untuk dititipkan di sana. Hari ini Candra harus bertemu dengan kliennya di studio dan menyelesaikan beberapa pekerjaan di sana.
“Nanti mau makan siang bareng?” tanya Juno, matanya masih fokus pada jalanan yang mulai ramai dengan pengendara lain.
“Tapi aku belum tau selesai jam berapa nanti. Kliennya juga datang agak siang kayaknya,” jawab Candra.
“Ya udah nanti aku kirim makan siang aja, ya?”
“Oke.”
“Mau makan apa?”
“Nanti aku chat.”
Juno hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian, akhirnya Candra sampai di depan studionya. Wanita itu merapikan rambutnya lagi sebelum turun dari mobil Juno.
“Nanti kalau mau pulang chat aku, ya?” pesan Juno. Candra hanya mengangguk dengan mata masih fokus pada cermin.
“Udah, ya? Aku turun, kamu hati- hati di jalan. Jangan ngebut!”
CUP!
Sebuah kecupan Candra berikan untuk sang suami sebelum turun dari mobil. Namun, lengan Candra di tahan oleh pria itu, membuat wanita itu mengernyit.
“Aurel biar nginep di rumah Mama aja, ya?” Juno tersenyum dengan memainkan alisnya.
PLAK!
“Jangan ngadi- ngadi.”
Candra segera turun dari mobil dan melambaikan tangannya pada mobil Juno. Sementara tidak lama kemudian mobil itu berjalan menjauh dari studio Candra. Wanita itu pun segera masuk, di sana sudah ada para karyawannya yang sudah sibuk dengan aktivitas masing- masing.
“Nin, itu di meja saya apa?” tanya Candra menemukan sebuah amplop di atas meja.
__ADS_1
“Nggak tau, Bu. Pagi tadi yang mengantar kurir,” jawab Nindy.
Candra hanya mengangguk dan segera memeriksa amplop itu. Setelah membaca isinya, ternyata itu sebuah undangan peragaan busana untuknya.
“Jauh, boleh nggak ya dateng?” tanya Candra pada dirinya.
Semenjak Aurel lahir, Candra sudah jarang datang ke peragaan busana. Entah itu peragaan busana teman- temannya atau sebuah undangan dari fansnya.
“Ajak Aurel sekalian mungkin boleh,” gumam Candra.
Dia meletakkan kertas itu di dalam laci meja kerjanya dan kini beralih pada kertas- kertas dengan gambar desain yang belum selesai. Gambar- gambar itu milik para karyawannya dan biasanya Candra akan mengoreksi desain- desain itu. Wanita itu mulai sibuk dengan pekerjaannya sembari menunggu dua klien yang akan ditemuinya hari ini.
Klien pertama datang kurang lebih pukul sebelas dan Candra mengobrol dengan kliennya itu hingga pukul dua siang. Kliennya ini akan mengadakan pernikahan beberapa bulan lagi dan meminta Candra untuk mendesainkan gaunnya. Makanan yang Juno kirim untuknya sudah datang dan Candra baru bisa makan setengah tiga sore.
“Alamat lembur nih gue,” gumam Candra mengunyah makanannya dengan sesekali tangannya sibuk menggambar.
Sebuah panggilan dari ponsel Candra, membuat wanita itu melepas pensil di tangannya. Candra melihat siapa yang menelponnya. Sebuah senyum terbit setelah mengetahui siapa yang menelpon.
“Hai,” sapa Candra melambaikan tangannya di depan layar ponsel. Sebuah panggilan video masuk ke ponsel Candra.
“Iya, Ma. Baru selesai ketemu sama klien,” jawab Candra. “Aurel udah mandi?”
“Udah, barusan Mama mandiin. Dia suka sama air, ya? Nggak mau keluar dari air tadi.” Cerita Bu Maya.
“Iya, Ma. Aurel memang susah diajak keluar dari air. Nanti kayaknya aku pulang agak malam, Ma. Titip Aurel dulu, ya?”
“Kalo gitu biar Aurel nginep di rumah Mama aja,” ucap Bu Maya dengan mata berbinar.
Candra menggelengkan kepalanya. “Jangan deh, nanti Mama sama Papa malah nggak bisa istirahat.”
“Ya udah nanti kabarin lagi kapan kamu pulang. Sana lanjutin kerjaan kamu. Aurel, dadah sama Bunda,” kata Bu Maya membantu Aurel melambaikan tangan.
“Dadah.” Candra juga melakukan hal yang sama dan obrolan mereka berakhir.
__ADS_1
...👠👠👠...
Candra meregangkan tangannya yang terasa sangat pegal. Pekerjaannya belum juga selesai. Hari sudah larut malam dan klien keduanya baru saja pulang dari studio. Candra sudah menyuruh para karyawannya untuk pulang terlebih dulu, sementara ia masih menyelesaikan pekerjaan yang tersisa. Mengetahui Candra masih belum menyelesaikan pekerjaanya, Juno juga ikut lembur di kantornya.
“Hah, capek juga,” gumam Candra.
“Bawa pulang aja, deh. Kasihan Mas Juno sama Aurel.”
Candra pun mengirim chat pada suaminya, memberitahu jika pekerjaannya sudah selesai dan pria itu untuk menjemputnya. Sembari menunggu, Candra membereskan mejanya dan mematikan semua lampu di studio. Wanita itu memutuskan untuk menunggu kedatangan Juno di luar studionya. Candra yang sedang mengunci pintu studionya terlonjak kaget saat bahunya tiba- tiba ditepuk seseorang. Dia segera berbalik dan spontan membulatkan matanya.
“Siapa?” tanya Candra, orang didepannya ini memakai masker. Sehingga Candra tidak dapat mengenali orang itu.
Orang itu tidak menjawab, malah hendak merebut tas yang Candra bawa. Tentu Candra tidak serta merta memberikan tasnya begitu saja, dia masih mempertahankan tasnya.
“Heh, maling!” Candra berteriak mencoba meminta bantuan seseorang.
Namun, hari sudah sangat larut dan di sekitaran tempat ini sudah sangat sepi juga gelap. Tidak ada seorang pun yang lewat. Candra masih adu tarik dengan orang itu, tapi tidak beberapa lama seorang teman pria itu datang menodongkan pisau lipat pada Candra.
“Ambil deh tas gue, tapi HP- nya jangan,” ucap Candra menyerah, tangannya hendak mengambil ponsel, tapi terlebih dulu dicekal oleh pria itu.
Candra memberontak berusaha melepas cekalan tangan pria itu. Namun, tenaga Candra tidak sebanding dengan dua pria di depannya.
BRAKK!
Tubuh Candra membentur pintu besi dibelakangnya, wanita itu meringis merasakan sakit di punggungnya. Namun sepertinya Candra masih beruntung, sorot lampu yang menyilaukan mata tiba- tiba saja datang.
“Siapa kalian?” tanya Juno pada dua orang yang masih menyerang Candra.
Dua orang itu saling pandang dan hendak menyerang Juno bersamaan. Mereka melepas Candra begitu saja, membuatnya jatuh terduduk. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Juno melumpuhkan orang- orang itu. Walau sudah berumur, ternyata Juno masih punya tenaga untuk merobohkan dua orang itu. Candra melihat ngeri pada dua orang yang sudah terkapar di tanah dengan darah mengalir dari hidung dan mulut. Tiba- tiba saja ingatan beberapa tahun silam kembali mampir di kepala Candra. Wanita itu terkejut saat Juno menyentuh bahunya dan bertanya apakah dia baik- baik saja.
Juno menghentikan mobilnya di depan sebuah apotek untuk membeli obat. Candra menunggu di dalam mobil dengan pandangan masih kosong. Tragedi yang baru saja dialaminya membuatnya sangat terkejut. Candra masih ingat dengan jelas bagaimana tadi Juno sangat brutal menghajar dua orang itu. Sejak dulu Candra tidak tahu kemana orang- orang yang suaminya itu hajar pergi. Juno hanya akan mengatakan jika orang- orang itu sudah diurus oleh orang suruhannya.
“Mana yang sakit?” tanya Juno membuyarkan Candra dari lamunannya.
__ADS_1
...🥊🥊🥊...