
Suasana sebuah studio foto hari ini sangat ramai dengan orang- orang yang hilir mudik. Candra sedang sibuk dengan tablet di tangannya. Sejak pagi tadi wanita itu sudah berada di studio foto ini. Sesekali mata Candra beralih pada para modelnya yang sudah bersiap untuk sesi pemotretan.
Kini tiba giliran Eric melakukan pemotretan. Pria itu terlihat tampan dengan pakaian kasual rancangan Candra. Eric mulai melakukan berbagai pose di depan kamera dengan sesekali menerima arahan dari sang fotografer.
“Candra!” panggil seseorang mengagetkan Candra.
“Astaga, kaget gue.”
“Sury, ayo makan siang dulu. Novi sama Ifi udah nungguin,” ucap Nisa menunjuk meja di ujung, dimana sudah ada Novi dan Ifi.
Candra pun mengangguk dan berjalan menghampiri mereka. Di meja sudah tersedia beberapa makanan. Mereka pun segera menyantap makanan itu. Tidak lupa tadi Novi juga membelikan makan siang untuk para kru juga model yang hadir hari ini.
“Gimana perkembangan studio di Jakarta, Can?” tanya Ifi.
“Nunggu izinnya keluar, selebihnya udah clear semua,” jelas Candra melahap sesendok penuh salad yang Novi beli tadi.
Acara makan mereka berlangsung damai sebelumnya, hingga Eric yang tiba- tiba ikut bergabung bersama mereka. Pria itu terus mencari perhatian pada Candra. Sementara Candra sudah jengah dengan tingkah laku Eric itu.
“Tonight you want to go on a date with me?” tanya Eric yang masih belum menyerah.
Candra tidak menjawab, dia menunjukkan cincin pertunangannya yang tersemat di jarinya. Sementara Eric mengernyitkan dahi melihat cincin itu.
“She's engaged, Eric,” ucap Ifi menjelaskan.
“Wuih, itu cincin yang harganya satu M?” tanya Nisa meraih tangan Candra untuk melihat cincin itu.
“Engaged?” tanya Eric. Candra mengangguk sebagai jawaban.
“Yes, she is engaged. You can date Anna tonight,” ucap Novi usil.
“Not. Nisa said, sebelum janur kuning melengkung masih bisa ditikung,” kata Eric dengan pelafalan bahasa Indonesia yang terdengar lucu.
“Nisa!” geram Candra setelah mendengar ucapan Eric tadi.
“Lo ajarin aliran sesat ke Eric,” tambah Ifi.
“Tenang- tenang, dia nggak bakal tau artinya,” ujar Nisa.
“I can still date you before you get married,” sela Eric dengan wajah tanpa dosa.
“Kagak gitu konsepnya,” pekik Candra memijit pelipisnya. Kepalanya mendadak berdenyut pening.
Pening di kepala Candra masih berlanjut. Eric masih saja terus merecokinya, padahal sudah berkali- kali Candra menjauh. Ifi yang melihat hal itu merasa prihatin pada Candra. Akhirnya Ifi menyuruh Candra untuk pulang terlebih dulu daripada terus diganggu oleh tingkah Eric.
“Where is Chandra?” tanya Eric.
“Already home,” jawab Ifi tanpa menoleh pada Eric, dia sedang sibuk dengan tabletnya. Sekarang Ifi harus menggantikan tugas Candra.
__ADS_1
“Why come home? Work not finished.”
“She has an important event,” jawab Ifi berbohong. Karena jika dia mengatakan yang sebenarnya, dapat dipastikan Eric akan langsung pergi menemui Candra dan berakhir mengacaukan pemotretan. “Get ready for the next shoot!” perintah Ifi.
Mau tidak mau Eric hanya bisa menurut dengan wajah yang ditekuk. Setelah melihat Eric pergi, Ifi kembali bergabung dengan Novi dan Nisa.
“Masih nyariin Candra dia?” tanya Nisa.
“Iya. Heran gue sama manusia satu itu. Nggak nyerah- nyerah juga.”
“Beneran tergila- gila sama si Candra dia. Bahaya kalo dibiarin terus, bisa- bisa jadi pebinor- perebut bini orang – nanti,” ujar Novi menggelengkan kepalanya.
...👠👠👠...
Candra masih berkutat dengan berbagai kertas di meja kerjanya. Dia tidak pulang ke apartemen seperti perintah Ifi tadi. Namun Candra memutuskan untuk ke kantor, menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai.
“Can, nggak mau balik lo?” tanya Novi.
“Bentar lagi, Nov. Tanggung, kalian balik dulu nggak apa- apa.”
“Si Nisa juga lagi lembur. Gue balik dulu, Can.”
“Oke, hati- hati di jalan.”
Novi mengangguk dan segera berlalu dari sana. Candra bangkit dari kursinya berjalan menuju pantry untuk membuat kopi.
“Nggak, Nis. Lo makan aja.”
Nisa mengernyitkan dahi. “Tumben lo nolak makanan?”
“Gue lagi nggak selera.”
“Lo sakit, Can?” tanya Nisa dengan wajah khawatir.
“Nggaklah. Cuma pusing dikit. Gue bawa obat kok.”
“Pulang aja lo. Istirahat dulu. Masih ada besok buat lo selesaiin.”
“Iya, bentar lagi gue balik. Lo juga jangan lembur sampe malem, Nis.”
Nisa hanya mengangguk. Candra pun pamit untuk kembali ke ruang kerjanya. Wanita itu memang merasakan kepalanya pusing. Mungkin ini efek kecapaian, beberapa bulan belakangan Candra memang harus bolak- balik dari Paris ke Jakarta.
Kurang lebih pukul sebelas malam, Candra baru sampai di apartemennya. Setelah membersihkan diri, wanita itu menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Sepertinya obat yang tadi Candra makan belum menunjukkan khasiatnya. Dering ponsel milik Candra memaksanya untuk kembali membuka mata. Juno yang menelponnya.
“Halo?” sapa Candra dengan mata terpejam.
“Kamu sakit, Yang?” tanya Juno yang merasa jika suara Candra aneh hari ini.
__ADS_1
“Cuma pusing, tadi udah minum obat.”
“Pasti kamu kecapekan, ya?”
“Iya, mungkin. Kamu masih di kantor?” tanya Candra.
“Hmm, sebentar lagi pulang. Oh ya, hari ini aku mau ikut latihan.”
“Ada kejuaraan lagi?”
“Ada, tapi aku nggak ikut.”
“Kenapa?”
“Hadiahnya se…”
“Ah, oke. Nggak usah ikut, nonton aja,” potong Candra sebelum Juno menyelesaikan ucapannya.
“Ya udah kamu istirahat. Kalo makin parah langsung ke dokter. Eh? Di Paris nggak ada BPJS, ya?”
“Ngelawak, ya?” tanya Candra dengan nada datar. “Ya udah aku mau tidur dulu. Bye.”
Candra memejamkan matanya setelah percakapan bersama Juno di telepon berakhir. Kepala Candra benar- benar terasa pusing. Jika memang dirinya sakit, Candra tidak akan datang ke kantor besok.
TING!
Candra menggeram mendengar notifikasi chat dari seseorang. Tangannya meraih ponsel yang berada di meja samping tempat tidurnya untuk melihat siapa yang mengirimkan chat pada dini hari.
“Sebelum janur kuning melengkung, masih bisa menikung.”
Candra mendengus membaca chat dari Eric yang masih membahas janur kuning dan tikung- menikung.
“Ckck, kayak tau artinya aja tuh cowok,” gumam Candra, dia tidak mempedulikan chat itu. Candra hanya membacanya saja tanpa niat untuk membalas.
Namun notifikasi chat berikutnya benar- benar membuat Candra menggeram kesal. Dibukanya chat itu, masih sama. Si Eric yang mengirim chat itu.
“What is janur kuning?”
Candra menyemburkan tawanya membaca chat dari Eric. Pertanyaan Eric membuat Candra mau membalas chat dari pria itu.
“Janur kuning is a young coconut leaf” jawab Candra mengirimkannya pada Eric.
“Dasar kurang kerjaan,” gumam Candra mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggunya lagi. Lalu beberapa menit kemudian, Candra sudah berada pada alam bawah sadarnya. Tertidur pulas dengan mimpi indah.
...🥊🥊🥊...
Tertanda: Otornya tidur 😴😴😴
__ADS_1