
Vina menatap gedung di depannya dengan mulut terbuka. Sementara di sebelahnya, Candra tersenyum puas. Vina mengalihkan pandangannya pada sahabatnya itu, menatap dari atas hingga bawah. Melihat bagaimana penampilan Candra saat ini.
“Gue nggak sangka, walau penampilan lo kayak gembel gini. Ternyata lo tajir juga, lo serius beli bangunan itu?” tanya Vina disela penghinaannya.
Candra menjitak kepala Vina. “Gembel pala lo. Iya, gue beli. Bagus, kan?”
“Bagus banget. Gaji gue setahun juga nggak bakal mampu beli,” ucap Vina menyeka sudut matanya yang sedikit berair.
“Ayo masuk!” ajak Candra.
Candra dan Vina masuk ke dalam sebuah bangunan dua lantai yang masih kosong itu. Namun mata Vina tak bisa berbohong jika dia sangat mengagumi tempat ini. Candra juga merasa puas dengan bangunan ini. Didalam kepalanya sudah tersusun berbagai ide untuk mendekorasi bangunan ini.
“Lo dibayar berapa sih? Segitu niatnya,” ucap Vina.
“Klien gue tajir, tau. Jadi gue harus totalitas. Oh ya, besok lo dateng ke sini deh. Gue mau adain pesta di sini.”
“Oke, mana bisa nolak gue.”
Candra sudah merencanakan semua untuk bangunan ini. Nantinya di lantai dua akan berfungsi sebagai studio pribadinya untuk mendesain pakaian. Sementara di lantai satu digunakan untuk tempat proses produksi. Wanita itu masih berada di gedung ini. Masih dengan rencana- rencana yang membutuhkan realisasi.
“Hmm, sebelah sana nanti mesin jahit. Terus…”
Candra masih asyik dengan ponselnya, membeli beberapa perabot di toko online. Sementara Vina sudah tidak bersamanya, sahabatnya itu harus kembali bekerja. Vina memang sedang sangat giat bekerja demi mengumpulkan pundi rupiah guna bekal menikah nanti.
“Beli kasur nggak, ya?” gumam Candra bimbang.
Fokus Candra buyar ketika ponselnya berdering. Dia melihat siapa yang menelponnya, tapi kernyitan di dahi terlihat. Nomor tidak dikenal yang memanggilnya. Ragu Candra menjawab panggilan itu.
“Halo?”
“Halo, Sayang."
Hampir saja ponselnya meluncur jatuh saat mendengar suara itu masuk indera pendengarannya. Candra sangat yakin suara siapa yang berada di seberang sana.
“Ada apa?”
“Kamu punya janji denganku, Sayang,” ucap Juno di seberang sana.
“Anjier,” umpat Candra memutus percakapan mereka.
Tidak lama sebuah notifikasi chat masuk ke ponsel Candra, dari nomor yang sama. Juno mengirimkan sebuah alamat pada Candra.
Lalu di sinilah Candra berada sekarang. Dia benar- benar datang ke alamat yang tadi dikirim oleh Juno. Sebuah gedung pencakar langit membuat Candra berdecak kagum. Ya, Juno memberi Candra alamat kantornya. Candra memutuskan untuk tidak langsung masuk ke ruangan Juno seperti permintaan pria itu. Tentu Candra tidak bodoh untuk menuruti permintaan Juno begitu saja.
“Halo? Gue udah sampai,” ucap Candra pada Juno di seberang sana.
__ADS_1
“Nggak, ruangan lo jauh. Hmm, di…”
Candra berpikir keras, dimana baiknya dia bertemu dengan Juno. Tentu harus di tempat yang ramai dengan orang. Mengapa? Candra hanya ingin mengantisipasi apa motif Juno mengajaknya bertemu selain membahas desain pakaian.
“Ketemu di kantin kantor lo,” ucap Candra yang akhirnya menemukan ide bagus.
“Oke,” jawab Candra dan memutus percakapan mereka.
Candra pun segera menuju kantin kantor ini yang berada tidak jauh dari lobby. Dia beruntung mau menuruti permintaannya. Sedikit heran juga sebenarnya, karena tidak biasanya Juno langsung menurut.
“Manusia bisa berubah, Can,” gumam Candra mencoba berpikir positif.
...👠👠👠...
Lagi- lagi Candra di buat takjub dengan gedung ini. Wanita itu sudah sampai di kantin kantor milik Juno. Candra baru tahu jika mantan laknatnya itu mengembangkan perusahaan yang menjual berbagai peralatan olahraga.
“Gila! Ini kantin apa café?” gumam Candra masih melongo takjub.
Kantin di sini tidak seperti kantin pada umumnya, memang lebih terlihat seperti café. Terdapat banyak meja dan kursi yang di tata sedemikian rupa dengan rapi, walau begitu malah terlihat estetik.
“Menu makanannya juga enak- enak.”
Menu yang disajikan pun kebanyakan menu- menu sehat. Mulai dari pecel hingga salad tersedia di tempat ini. Begitupun dengan menu minumannya. Berbagai jus dari buah maupun sayuran tersedia.
“Beneran enak,” puji Candra ketika mencoba salad yang dipesannya.
“Enak saladnya?”
“Uhuk.”
Candra menepuk dadanya yang terasa sakit, air mata menggenang di pelupuk mata. Segera dia meminum air mineral yang disodorkan untuknya. Air di mulut Candra hampir saja menyembur ketika tiba- tiba Juno mengelap sudut bibirnya dengan tangan pria itu.
“Gue bisa sendiri,” ucap Candra setelah berhasil menelan air yang diminumnya.
“Aku cuma mau bantuin kamu,” jawab Juno dengan senyum manis.
...🥊🥊🥊...
Keberadaan Juno di tempat ini mengundang para karyawan yang kebetulan sedang bertandang di kantin ini. Tentu mereka heran melihat bos besar yang benar- benar tidak pernah bahkan tidak mau menginjakkan kakinya di kantin, kini malah terlihat duduk tenang bersama dengan seorang wanita cantik didepannya.
“Lo dengerin gue nggak?” tanya Candra masih berusaha sabar.
“Selama ini ternyata kamu di Paris, ya?”
Candra mendengus mendengar pertanyaan Juno. Dia sudah yakin jika daritadi pria itu tidak mendengarkannya berbicara. Candra sudah sangat lelah berhadapan dengan Juno. Padahal mereka baru bertemu 30 menit.
__ADS_1
“Stop, bahas yang nggak penting,” ucap Candra.
“Tapi menurutku itu penting,” jawab Juno santai. Ekspresi tengilnya masih sama seperti dulu.
“Argh, back to topic. Lo jadinya mau yang ini apa ini? Please, kali ini serius!”
“Menurut kamu bagus yang mana? Aku bakal pakai apapun yang kamu pilih.”
‘Astaga! Nih makhluk satu bener- bener, ya?’ batin Candra benar- benar emosi.
Candra memijit kepalanya yang terasa pening. Juno sudah memutuskan desain mana yang nanti akan di pakai. Pria itu benar- benar puas setelah menjahili Candra tadi, melihat wajah frustasi Candra berhasil mengurangi sedikit rasa rindunya pada gadis itu.
“Oke, kalau gitu gue balik dulu. Nanti gue kabarin lagi deh. Tapi kalo bisa ketemu sama Nayla juga,” ucap Candra sebelum berpamitan.
“Kita punya kesibukan masing- masing, jadi susah buat ketemu barengan,” jawab Juno.
“Terserah kalian. Atur sendiri enaknya gimana.”
“Aku antar kamu pulang." Seperti biasa, bukan pertanyaan tapi pernyataan dengan paksaan.
“Nggak…,” ucapan Candra terhenti, karena ponsel Juno berdering.
Di layar ponsel terpampang nama Nayla. Namun Juno masih bergeming, tidak menjawab panggilan itu. Tentu hal itu membuat Candra mengernyitkan dahinya bingung.
“Calon tunangan lo itu. Kenapa nggak dijawab?”
Juno menggeleng. “Sampai mana tadi kita? Oh ya, mau pulang, kan? Ayo!”
“No! Gue bisa pulang sendiri. Bye,” pamit Candra dan segera pergi dari sana.
Namun langkah Candra terhenti ketika Juno berdiri di hadapannya. Wanita itu mendongak, mengernyit menatap Juno yang juga menatap manik hitamnya.
“Kenapa?” tanya Candra.
“Perasaanku ke kamu masih sama, Can. Nggak berubah sama sekali,” ungkap Juno.
“Gila! Lo sadar barusan ngomong apa?”
“Aku sadar, Can. Kamu harus tahu ini, aku cuma cinta dan sayang sama kamu.”
“Nayla?” ucap Candra dengan mata membulat.
...👠👠👠...
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉😉😉
__ADS_1