Mantan Bad Guy

Mantan Bad Guy
Marahnya Juno


__ADS_3

Mobil Juno terparkir di depan studio milik Candra. Sekarang sudah pukul sembilan pagi dan Candra baru sampai di studionya. Dengan buru- buru, Candra memasukkan ponselnya ke dalam tas.


“Makan siang nanti aku ke sini, ya?”


“Kamu nggak sibuk hari ini?” tanya Candra menatap Juno.


“Kalo sibuk aku tetep akan luangin waktu,” jawab Juno tersenyum.


Candra pun mengangguk paham, tangannya terulur untuk merapikan rambut Juno yang sedikit berantakan. Lalu sebuah ciuman dari Candra mendarat di bibir Juno. Hanya sebagai rutinitas sebelum memulai hari. Candra kembali menjauhkan wajahnya, tangannya menepuk pipi sang suami yang masih memejamkan matanya.


“Aku masuk dulu, ya? Kamu hati- hati di jalan.”


“Iya, kamu juga jangan terlalu capek.”


Candra mengangguk dan turun dari mobil Juno. Dia melambaikan tangan pada mobil itu sampai menghilang dari pandangannya.


Hari ini Candra akan disibukkan dengan pesanan gaun dari seseorang yang hendak melaksanakan pernikahan. Candra masih memikirkan untuk desainnya. Dia sudah mendapat konsepnya, hanya tinggal menuangkannya dalam bentuk desain. Wanita itu pun mulai berkutat di ruang kerjanya. Sementara di bawah sana ada tiga karyawan Candra yang sedang menyelesaikan beberapa pakaian.


Sementara di lain tempat, Juno baru saja sampai di perusahaannya. Pria itu segera menuju ruangannya untuk mulai bekerja. Namun ketika sampai di meja sekretaris, langkah Juno dihentikan oleh sekretarisnya.


“Maaf, Pak. Ada tamu yang sudah menunggu Pak Juno di ruangan Bapak,” ucap sekretaris itu.


“Siapa?” tanya Juno mengernyitkan dahinya.


“Nayla namanya.”


Tanpa menjawab Juno berjalan menuju ruangannya, sedangkan sang sekretaris hanya mengelus dadanya melihat tingkah sang atasan.


“Hmm, tapi itu cewek cantik juga,” gumam sang sekretaris.


Juno membuka pintu ruang kerjanya dan benar saja, di dalam sana ada seorang perempuan yang sedang berdiri membelakanginya menatap sebuah figura foto yang ada di dinding dengan ukuran cukup besar.


“Nayla?” panggil Juno mengagetkan perempuan itu.


Nayla menoleh dan tersenyum hangat pada Juno. Juno pun mempersilakan Nayla untuk duduk di sofa, lalu dia meminta sekretarisnya untuk membawakannya minum.


“Gue minta lo ke sini kemarin, kenapa baru sekarang lo ke sini?” tanya Juno menatap datar pada perempuan yang pernah ditolongnya itu.

__ADS_1


“Maaf, Kak. Nayla harus mengurus beberapa hal di sana, jadi Nayla baru sampai hari ini.”


Suara ketukan pintu menghentikan obrolan keduanya, tidak lama sekretaris Juno masuk dengan membawa nampan berisi dua cangkir. Dia meletakkan cangkir itu di atas meja, matanya melirik pada Nayla sekilas. Lalu sekretaris Juno itu pamit untuk kembali ke pekerjaannya.


“Udah siap bayar janji lo kemarin?” tanya Juno mengusap dagunya.


“Tentu aja, itu alasan Nayla kembali lagi ke sini,” jawab Nayla tersenyum.


Juno tersenyum dan mengangguk. Pria itu meminum minumannya, mood- nya terasa sangat baik hari ini.


“Ah ya, Nayla dengar Mbak Candra sedang mengandung?” tanya Nayla.


“Iya.”


“Selamat buat Kak Juno dan Mbak Candra. Hmm, Nayla boleh ketemu Mbak Candra kapan- kapan?”


“Sure.”


Nayla tersenyum senang. Nayla sudah kembali lagi ke Indonesia dan akan membayar hutang budi pada Juno yang telah membantunya beberapa tahun silam. Selama beberapa tahun ini Nayla benar- benar memanfaatkan waktunya untuk belajar. Bahkan, dia harus rela berpisah dengan sang kekasih. Sayang sekali keluarga kekasih Nayla tidak mengizinkan pria itu untuk pergi bersamanya.


Tanpa keduanya sadari, di luar ruangan Juno. Sekretaris Juno masih berdiri mematung di sana dan memasang telinga untuk mendengar obrolan dua orang itu. Tadi dia sudah melaporkan tamu itu pada Candra. Candra memang mempercayakan sekretaris Juno untuk menjadi mata- mata.


“Kenapa dia balik lagi? Terus kenapa harus ketemu sama Juno?”


Berbagai pertanyaan muncul dalam kepala Candra dan dari pertanyaan- pertanyaan itu, Candra belum menemukan jawabannya. Notifikasi chat masuk ke ponsel Candra. Wanita itu pun membuka chat yang ternyata dari Juno.


“Sayang, maaf. Hari ini aku nggak bisa makan siang bareng kamu, nanti aku kirim makan siangnya ke studio kamu. Love you.”


Candra membaca deretan tulisan itu dengan wajah datar. Tangannya menggenggam ponselnya dengan erat. Beberapa saat kemudian wajah Candra sudah menunjukkan ekspresi kesal. Lalu jarinya mengetikkan balasan untuk Juno.


“Kamu sibuk? Tadi aku udah bilang kalo sibuk jangan maksa makan siang bareng,” balas Candra.


‘Sabar dulu, Can. Lihat gimana balesan dari dia,’ batin Candra menghembuskan napasnya perlahan.


“Iya, mendadak ada urusan penting.”


“Oke. Kamu juga jangan lupa makan siang, ya?”

__ADS_1


“Di read doang?” tanya Candra membulatkan matanya melihat dua centang biru di roomchat Juno.


Kekesalan Candra masih berlanjut hingga dia pulang dari studionya. Lagi- lagi Juno mengabarinya jika tidak bisa menjemput dan menyuruh Candra untuk memesan B-car untuk pulang. Namun Candra tidak sengaja bertemu dengan Teo yang baru saja dari klinik milik Om- nya dan kebetulan pria itu menawarinya tumpangan. Dengan senang hati Candra menerima tawaran itu.


“Suami lo kemana?” tanya Teo.


Kini keduanya terjebak macet, karena Candra keluar dari studio tadi sudah sedikit larut. Niat Candra tadi ingin menunggu Juno yang menjemputnya, ternyata malah pria itu memberi kabar jika tidak bisa menjemputnya.


“Pak Juno tadi keluar bareng si Nayla, Bu,” lapor sekretaris Juno sore tadi.


“Can?” panggil Teo menyadarkan Candra dari lamunannya.


“Hah? Oh, laki gue cari duit. Sibuk dia seharian ini, jadi nggak bisa jemput,” jawab Candra.


“Oh. Untung aja gue pas mampir klinik.”


“Iya, untung aja,” jawab Candra tertawa seadanya.


Beberapa jam setelah terjebak macet. Akhirnya Candra sampai rumah, dia segera turun setelah mengucapkan terima kasih pada Teo karena telah mengantarnya pulang. Candra berbalik dan mendapati Juno sedang berdiri di teras rumah. Wajah pria itu terlihat sudah siap untuk ngamuk.


“Kalo gitu gue pamit balik, Can. Salam buat suami lo,” pamit Teo menurunkan kaca mobilnya, hingga terpampang wajah Teo.


“Ahahaha, iya. Udah sana lo cepet pulang,” usir Candra dengan wajah panik.


Sementara Teo mengernyit mendengar ucapan Candra yang terkesan sedang mengusirnya. Teo hendak melontarkan protesnya, tapi Candra sudah lebih dulu berbicara.


“Kenapa lo masih di sini? Cepet sana jalan!” Candra mengibaskan tangannya dengan gerakan mengusir.


Teo yang masih bingung hanya bisa menurut, mobil pria itu melaju menjauh dari kediaman Candra. Hampir saja Candra terkena serangan jantung ketika tiba- tiba mendapati Juno berdiri di belakangnya.


“Teo jadi driver B-car sekarang?” tanya Juno dengan tatapan tajam. “Di pecat, terus banting stir jadi driver B-car?”


“Uhm, nanti aku ceritain. Sekarang masuk dulu. Nggak enak kalo diliat tetangga,” jawab Candra dan mengamit lengan Juno untuk mengajak suaminya itu masuk.


...👠👠👠...


Tertanda: Otor Cjakep ☺☺☺

__ADS_1



__ADS_2