
Candra memperhatikan cincin yang tersemat indah di jarinya. Setelah makan malam bersama tadi untuk merayakan ulang tahunnya, Candra bersama Juno berjalan- jalan di sekitaran Sungai Seine. Senyum Candra terukir di bibirnya sejak tadi. Namun jika ingatan bagaimana ternyata teman- teman dan Juno bersekongkol untuk mengerjainya, senyum itu luntur.
“Sorry, gue cuma di suruh sama dia,” ucap Nisa menunjuk Juno dengan Éclair yang dibeli Candra tadi. “Lagian cowok lo baik, dia traktir kita Éclair. Jadi mana bisa nolak,” tambah Nisa memasukkan Éclair itu ke dalam mulutnya.
“Tapi yang punya ide lo,” ucap Ifi mengingatkan.
“Si Novi juga terlibat,” kata Nisa mencari kambing hitam.
Jika teringat hal itu, mendadak rasa kesal kembali menghinggapinya. Candra tersadar dari lamunannya ketika merasakan genggaman hangat tangan Juno. Juno menatap Candra dengan senyuman manis di bibir pria itu. Entah kenapa senyum manis Juno sekarang bisa membuat jantung Candra berdetak cepat, padahal sebelumnya dia biasa saja melihat senyum itu.
“Maaf, ya? Aku beberapa hari ini jarang hubungi kamu. Aku lakuin itu biar rencanaku berjalan sempurna,” ucap Juno dengan kekehan di akhir ucapannya, dia merasa puas telah berhasil mengerjai Candra.
Candra mendengus. “Kamu nggak tau gimana khawatirnya aku? Kata Mama, kamu masih sibuk. Ckck, aku sempat mikir kamu kumat lagi.”
“Kumat apa?” tanya Juno mengernyitkan dahi.
“Kumat jadi buaya,” jawab Candra sewot.
“Astaga! Aku bukan buaya,” protes Juno.
Dua sejoli itu duduk di sebuah resto yang pernah Candra kunjungi seorang diri waktu itu. Namun kini dia bisa datang dengan seseorang yang dicintainya. Lagi- lagi Candra menatap wajah Juno, dia masih belum bisa percaya jika pria di depannya ini adalah Juno.
“Kamu kenapa, Yang?” tanya Juno mengernyitkan dahinya.
“Ini beneran kamu, kan? Aku nggak lagi mimpi?”
“Harusnya tadi kamu tampar pipi kamu sendiri buat pastiin. Kenapa malah aku yang ditampar?” tanya Juno berdecak.
“Aku nggak mau. Rasanya sakit, juga nanti pipiku jadi merah,” jawab Candra tanpa dosa.
Juno menatap datar Candra, tapi selanjutnya mata pria membulat melihat apa yang dilakukan oleh sang pujaan hatinya. Wanita itu memeluknya dari samping dan menyenderkan kepalanya di bahu Juno.
“Kamu kapan sampai Paris?” tanya Candra memejamkan matanya merasakan elusan di kepalanya.
“Udah dari beberapa hari yang lalu. Tapi memang sengaja nggak kasih tau kamu,” jawab Juno tersenyum, tangannya masih mengelus kepala Candra.
“Juno, kamu tau? Apa yang kamu lakuin ke aku itu jahat.”
“Kamu bukan Cinta, Yang,” ucap Juno mengingatkan.
__ADS_1
“Eh iya. Bang Nata nggak ikut?”
“Tadinya maksa mau ikut. Tapi dia harus kerja.”
“Syukur deh, kita bisa bebas berduaan sekarang,” ujar Candra terkekeh, mengeratkan pelukannya pada Juno.
Sudah tengah malam, kini keduanya harus berpisah. Candra kembali ke apartemennya, sementara Juno kembali ke hotel tempatnya menginap. Selain untuk melamar Candra, kedatangan Juno ke Paris juga untuk menjemput wanita itu. Sebelumnya Juno sudah membicarakan rencananya ini pada kedua orang tuanya juga orang tua Candra.
Kedua keluarga itu setuju, bahkan sudah memberi lampu hijau untuk keduanya segera menikah. Tentu Juno tidak menyia- nyiakan hal itu. Pria itu sudah menyiapkan segalanya. Candra menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Hatinya masih berbunga- bunga. Wanita itu kembali memperhatikan cincin yang tersemat di jarinya.
“Sebentar lagi gue bakal jadi Nyonya Levin,” gumam Candra mesem- mesem.
“Astaga, gue masih belum percaya. Akhir kisah gue ternyata kembali jatuh ke pelukan mantan.”
Walau seharian tadi sangat melelahkan dan sangat menguras emosi bagi Candra, tapi di penghujung harinya berakhir sangat indah.
...👠👠👠...
Candra sudah kembali ke Jakarta dan hari ini dia bersama dengan Juno sedang mempersiapkan guna pernikahan mereka. Pernikahan mereka akan dilaksanakan minggu depan. Sebenarnya persiapan hanya tinggal sedikit lagi. Gereja sampai gedung untuk pesta pun sudah Juno rencanakan dari jauh- jauh hari. Mereka memutuskan untuk mengikrarkan janji suci di sebuah gereja yang tidak jauh dari rumah Candra dan juga sering dikunjungi oleh keluarga Candra ketika beribadah.
“Aku laper, Jun. Ayo, makan dulu,” ajak Candra.
“Ayo. Kamu mau makan dimana?”
“Boleh, ayo kita ke sana.”
Candra tersenyum dan mengangguk. Mereka pun masuk ke mobil dan segera menuju tempat makan yang dimaksud Candra tadi.
Perjalanan hanya memerlukan beberapa menit saja. Keduanya sudah sampai di tempat makan itu. Candra memilih tempat di atap dengan berbagai tanaman hias yang menyejukkan mata. Sembari menunggu pesanan, keduanya menikmati pemandangan yang terhampar di depan mereka. Semburat oranye menghiasi langit pada hari ini.
“Kamu capek hari ini?” tanya Juno.
“Nggak capek sama sekali. Aku malah seneng, sekali- kali refresh pikiran. Oh ya, besok kita jadi ke butik?”
“Iya. Nanti kalau ada yang kurang kamu komplain aja sama desainernya.”
“Ckck, harusnya biar temen- temen aku aja yang buat gaunnya.”
“Mereka jauh, Yang. Lagipula mereka juga lagi sibuk, kan?”
__ADS_1
“Iya sih.”
“Besok aku jemput kamu, ya?”
“Iya.”
Pesanan datang, dua sejoli itu menikmati makanan dengan sesekali mengobrol. Sebenarnya lebih banyak Candra yang bercerita. Juno hanya sesekali saja menanggapi dengan terkadang tangannya membersihkan mulut Candra yang terkena noda makanan.
“Candra?” panggil seseorang menginterupsi Candra yang sedang menceritakan tentang Mbul.
“Tayo? Ngapain lo di sini?” tanya Candra.
“Mau makan,” jawab Teo, matanya melirik pada Juno.
“Lo sendiri?” tanya Candra lagi.
“Iyalah, sama siapa lagi. Gue boleh gabung? Nggak enak makan sendiri, kebetulan gue ketemu lo.”
“Hmm…” Candra melirik pada Juno untuk meminta persetujuan pria itu. Juno mengangguk sekilas.
“Oke, makasih,” ucap Teo langsung duduk sebelum Candra memberi izin.
Candra pun berpindah duduk menjadi di samping Juno. Awalnya Teo masih cuek dengan kedua pasangan di depannya itu.
“Di makan lagi, Yang,” ucap Juno.
Candra mengangguk dan kembali melanjutkan makannya, sebenarnya dia merasa tidak nyaman sekarang ini. Beberapa kali dia mendapati Teo yang menatapnya.
“Lo udah selesai magang?” tanya Candra memecah kesunyian dan suasana yang mendadak canggung.
“Minggu depan gue selesai.”
“Oh gitu, terus…”
Ucapan Candra terhenti ketika tangan Juno terulur untuk membersihkan noda saos di sudut mulut wanita itu. Teo mendengus pelan melihat pemandangan itu. Mendadak dia menyesal telah bergabung dengan mereka.
“Minum dulu,” kata Juno memberikan segelas air pada Candra. Candra menurut dan menyedot minuman itu.
‘Kapok gue satu meja sama mereka,’ batin Teo menatap datar Juno yang masih memberikan perhatian pada Candra. Sementara Juno melirik pada Teo, dia memberikan senyum miringnya pada pria itu.
__ADS_1
...🥊🥊🥊...
No Caption Again 😪