
Lia dan Anton baru saja menyelesaikan prosesi akad nikah. Setelah prosesi akad nikah, kedua pengantin baru itu menyelenggarakan pesta resepsi di sebuah gedung. Candra masih belum percaya jika Lia dan Anton benar- benar menikah. Dia ingat betul bagaimana dulu keduanya tidak pernah akur dan selalu bertengkar, walau hanya masalah sepele.
“Lia! Lempar bunganya ke gue!” pinta Candra memaksa, dia sudah berdiri bersiap menerima bunga yang akan di lempar oleh Anton dan Lia.
Saingan Candra cukup banyak, ternyata banyak jomblo lainnya di sini. Candra sudah bertekad untuk bisa menangkap bunga itu. Sayang sekali Juno tidak bisa menemaninya menghadiri pernikahan Lia. Pria itu harus keluar kota selama beberapa hari untuk perjalanan bisnis. Mata Candra berkilat melihat bunga itu sudah terlempar.
HAP!
“Yess! Gue dapet!” pekik seseorang yang telah berhasil menangkap bunga yang tadi dilempar oleh pasangan pengantin baru itu.
Candra membulatkan matanya, menoleh ke belakang mendapati Bara yang bersorak girang dapat menangkap bunga itu. Desahan kecewa kontras terdengar di ruangan ini. Sementara Candra hanya mencibir Bara, pria itu tadi naik ke atas kursi.
“Curang lo!” tuding Candra pada Bara.
“Gue curang? No, gue cuma cerdik,” jawab Bara membanggakan diri sendiri. Lalu pria itu menghampiri Nina dan memberikan bunga itu padanya.
Candra menghampiri Vina yang duduk anteng di depan meja yang berisi berbagai macam makanan. Suami Vina juga tidak dapat menemani snag istri menghadiri pesta pernikahan Lia dan Anton ini. Dafa juga harus ke luar kota untuk perjalanan bisnis.
“Berasa jomblo gue,” gumam Candra memakan kue yang ada di meja Vina.
“Si Juno kemana?” tanya Vina.
“Ke Bandung dia. Oh ya, kemarin katanya lo mau ngomong sesuatu?”
“Oh iya, hampir aja gue lupa.”
“Apa?”
“Gue udah isi, Can,” jawab Vina tersenyum.
“Cepet amat!” ceplos Candra dengan makanan yang muncrat kemana- mana.
“Kebiasaan lo, Can. Kena muka gue nih,” ucap Vina mendengus sebal.
“Selamat, Pina. Gue ikut seneng, sebentar lagi gue bakal jadi Tante.”
__ADS_1
“Makasih, Can. Lo cepet nyusul makanya. Jangan mau kalah sama si Lia, gue yakin sebentar lagi dia juga isi.”
Mendengar ucapan sahabatnya itu membuat bahu Candra merosot. “Gue lagi cari waktu yang tepat, Vin. Gue juga sekarang lagi persiapin buat studio gue.”
“Iya, tau gue, Can. Lagian si Juno juga nggak bakalan lari, yang ada malah lo yang bisa lari kapan aja.”
“Sembarangan, mau lari kemana gue?”
Vina hanya tertawa melihat wajah cemberut sahabatnya itu. Vina sendiri tidak menyangka jika persahabatannya bersama Candra akan sangat awet hingga detik ini.
Setelah acara pesta pernikahan Lia dan Anton selesai, Candra segera pulang ke rumah. Tubuhnya terasa sangat lelah. Beberapa hari ke belakang, dia ngebut mengerjakan sepasang pakaian untuk Lia dan Anton. Belum lagi lusa nanti dia juga akan kembali ke Paris untuk membahas studionya bersama teman- temannya.
Sebenarnya bisa saja membahas melalui sambungan telepon, tapi rasanya kurang nyaman jika tidak langsung bertatap muka. Juga masih ada satu pemotretan untuk baju rancangan Candra yang akan dilakukan lima hari lagi. Setelah membersihkan tubuhnya, Candra langsung menjatuhkan diri ke ranjang kamarnya. Namun beberapa saat kemudian ponsel Candra berdering, dengan malas wanita itu meraih ponselnya.
“Halo?” sapa Candra tanpa melihat siapa yang menelponnya.
“Sayang? Kok suara kamu begitu? Kamu sakit?” tanya sebuah suara di seberang sana yang tentu saja adalah Juno.
“Hmm? Nggak sakit kok, capek aja baru pulang ini,” jawab Candra. “Kamu udah makan?”
“Udah, besok aku pulang. Kamu ke Paris lusa, kan?”
“Mungkin siang. Gimana tadi? Kamu dapet bunganya?”
Candra mendengus dan langsung bangun dari tidurnya. “Nggak dapet, si Bara yang dapet. Curang dia, naik kursi tadi.”
Tawa renyah Juno terdengar dari seberang sana, sementara Candra makin misuh- misuh mendengar suara tawa itu.
“Ya udah minggu depan kita susul mereka,” ucap Juno.
“Mana bisa? Aku masih di Paris.”
“Ah iya, cepet selesaiin kerjaan kamu di sana. Setelah selesai kita langsung urus pernikahan kita.”
“Iya. Lagipula studioku tinggal tunggu izinnya keluar. Makasih, Jun, udah bantu aku.”
__ADS_1
“Sama- sama, Yang. Aku bakal selalu bantu kamu.”
Cukup lama Candra dan Juno mengobrol di telepon. Bahkan lelah yang tadi Candra rasakan hilang entah kemana. Percakapan mereka berakhir setelah lewat dari tengah malam, Juno menyuruh Candra untuk beristirahat. Candra hanya menurut, lagipula matanya juga sudah terasa sangat berat. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Candra untuk menjelajahi alam mimpinya.
...👠👠👠...
Pagi ini, Candra memiliki waktu untuk bersantai sebelum besok melakukan penerbangan panjang ke Paris. Seharian ini Candra menghabiskan waktunya di rumah bersama dengan Bu Maya dan Pak Haris. Ah ya, Pak Haris memutuskan untuk pensiun setelah kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Kini kondisi sang Papa sudah kembali seperti sedia kala. Setelah pensiun Pak Haris memiliki hobi baru yaitu memelihara burung.
Sebenarnya ada tetangga mereka yang juga senang mengoleksi burung dan kebetulan Pak Haris tertarik. Jadi beliau sering ke rumah tetangga untuk mengobrol bersama mengenai spesies burung yang sedang hits saat ini. Namun hal itu terkadang membuat Bu Maya jengkel. Bagaimana tidak? Pak Haris kini lebih sering nongkrong di rumah tetangga daripada berada di rumah.
“Kenapa sih, Ma? Ngomel terus daritadi,” tanya Candra yang baru turun dari kamarnya.
“Tuh, Papa kamu. Pagi- pagi bukannya sarapan atau mandi dulu, malah si burung yang diurusin,” jawab Bu Maya.
“Mana? Di depan nggak ada kok.”
“Di rumah sebelah.”
“Di rumah Pakdhe Prapto?” tanya Candra memastikan.
“Iya, suruh pulang sana. Mama nggak enak sama istrinya Pakdhe Prapto.”
“Astaga, Ma. Biarin ajalah. Bukannya nggak ada Papa, Mama malah bisa bebas nonton sinetron?”
Bu Maya membulatkan matanya, tapi setelahnya beliau berlalu pergi. Sementara Candra tertawa melihat tingkah Mamanya.
Setelah mandi tadi, Candra bersantai di kamarnya. Menonton drama Korea dengan beberapa cemilan di sampingnya. Mata wanita itu fokus pada layar laptopnya, menampilkan adegan demi adegan dari drama itu.
“Mas Vincen uwu banget sih,” gumam Candra dengan mulut masih sibuk mengunyah keripik kentang.
“Lebih uwu mana, aku atau dia?” tanya seseorang mengagetkan Candra. Spontan Candra menoleh dan membulatkan matanya melihat sosok itu.
Juno berdiri di ambang pintu kamar Candra dengan tangan bersedekap, memperhatikan Candra yang masih bengong. Juno pun berjalan menghampiri sang kekasih. Candra mengerjapkan matanya menatap wajah Juno.
“Kok kamu di sini?” tanya Candra masih dengan tampang bingungnya. Pasalnya seharusnya Juno masih berada di Bandung.
__ADS_1
...🥊🥊🥊...
No Caption ☺☺☺