
Tidur Candra terganggu ketika merasakan perutnya sangat mulas. Wanita itu terbangun dan merintih memegangi perutnya. Dengan tertatih- tatih, dia berjalan menuju kamar mandi. Namun ketika Candra mencoba untuk mengeden, tidak ada yang keluar. Tentu hal itu membuatnya bingung. Candra pun keluar dari kamar mandi dan kebetulan bertemu dengan Bu Maya yang baru bangun tidur. Hari masih gelap dan suasana di rumah ini masih remang- remang karena lampu sengaja dimatikan.
“Astaga! Kamu ngagetin Mama aja. Tumben kamu bangun pagi- pagi?” tanya Bu Maya mengelus dadanya.
“Perut Candra mules, Ma. Tapi nggak bisa BAB,” jawab Candra mengadu pada Bu Maya.
“Jangan- jangan udah waktunya,” gumam Bu Maya.
Candra mengernyit. “Waktu apa?”
“Kayaknya sebentar lagi kamu melahirkan.”
“Nggaklah, masih ada beberapa minggu lagi. Masih lama, Ma.”
“Melahirkan secara normal itu memang biasanya meleset dari tanggal yang udah ditentukan dokter,” jelas Bu Maya.
Candra hanya mengangguk- anggukkan kepalanya. Namun rasa mulas tadi mendadak hilang dan wanita itu pun kembali melanjutkan aktivitasnya.
Hari ini adalah hari Minggu. Pak Haris dan keluarganya menuju ke gereja untuk beribadah. Candra juga ikut serta. Setelah ibadah mereka selesai, Pak Haris berencana mengajak keluarganya untuk sarapan di luar. Namun baru saja Candra melangkah beberapa langkah dari pintu masuk gereja, rasa mulas itu kembali lagi.
“Aduh,” rintih Candra kembali memegangi perutnya.
“Kenapa, Can?” tanya Pak Haris.
“Perut Candra mules lagi, Pa,” jawab Candra maish meringis menahan rasa itu.
“Mau BAB?”
“Ke rumah sakit aja deh. Ayo, Pa, kita ke rumah sakit,” ucap Bu Maya.
Pak Haris mengernyitkan dahinya. “Candra mau BAB kok malah ke rumah sakit?”
Bu Maya menampol bahu Pak Haris karena gemas. “Candra kayaknya tanda- tanda mau melahirkan.”
Pak Haris pun mengangguk paham, lalu beliau segera menuju mobil. Sedangkan Bu Maya berjalan perlan bersama dengan Candra.
“Sejak kapan kamu ngerasa mules gini?” tanya Bu Maya setelah mereka masuk ke dalam mobil.
“Sejak kemarin,” jawab Candra.
__ADS_1
“Kenapa nggak ngomong sama Mama?”
“Candra taunya mules pengen BAB. Mana Candra tau kalo ternyata…”
“Ish, ya udah penting sekarang kita ke rumah sakit dulu.”
Kurang lebih selama satu jam perjalanan, akhirnya Candra sampai di rumah sakit. Wanita masuk UGD untuk diperiksa terlebih dahulu. Seorang bidan menghampiri Candra yang sudah berbaring di brankar rumah sakit. Bidan itu mengecek tekanan darah Candra, lalu mengecek kondisi janin dengan USG, dan mengecek detak jantung bayi di dalam kandungan.
“Kondisi bayinya sehat, Bu. Saat ini Bu Candra sudah memasuki pembukaan tiga,” jelas bidan itu.
Candra hanya mengangguk, tapi dalam hati dia merasa bersyukur mendengar jika bayi di dalam kandungannya baik- baik saja. Candra pun dipindahkan ke ruang bersalin, di sana dia akan menunggu hingga pembukaan lengkap, yakni sampai pembukaan sepuluh.
“Ada pasien partus normal, pembukaan tiga. Ini berkasnya,” ucap bidan itu, mengalihkan pada bidan yang berjaga di ruang bersalin ini.
Bu Maya masuk ke dalam ruang bersalin itu, beliau menemani putirnya. Memang yang diperbolehkan masuk ke dalam ruangan ini hanya satu orang. Berhubung karena sang suami tidak berada di tempat, Bu Maya yang menggantikan posisi Juno saat ini.
“Mama Felin udah Mama kabarin, paling sebentar lagi sampai. Juno mau dikabarin sekarang?” tanya Bu Maya.
“Nanti aja, Ma. Dia ada acara siang ini, Candra nggak mau ganggu Mas Juno.”
Bu Maya hanya mengangguk, beliau mengusap peluh di dahi Candra. Tidak bisa berbohong, sebenarnya Candra merasa deg- degan saat ini.
Sore hari tiba, kini Bu Felin yang bergantian menjaga Candra. Sementara Candra daritadi terus merasa perutnya sakit. Beberapa kali bidan juga memantau keadaan Candra dan bayinya. Suara mesin untuk mengecek detak jantung bayi dikandungannya terasa sedikit menganggu. Sepertinya Dokter Nara belum dihubungi oleh bidan.
“Biasanya dokter nongol belakangan,” jelas Bu Felin.
Tadi memang Candra menanyakan keberadaan Dokter Nara yang belum menampakkan batang hidungnya. Ternyata memang biasanya dokter kandungan akan dihubungi jika pembukaan sudah lengkap.
“Tapi Dokter Nara ada di poli sore ini,” tambah Bu Felin.
Mendengar hal itu, setidaknya membuat Candra sedikit tenang. Wanita itu memejamkan matanya, kembali merasakan kontraksi hebat. Sementara Bu Felin dengan sabar menemani mennatunya itu.
“Sabar, Sayang,” ucap Bu Felin. “Ckck, Juno masih belum bisa dihubungi,” tambahnya menggerutu.
“Nggak apa- apa, Ma. Mungkin Mas Juno masih sibuk,” kata Candra lirih.
Dari sore berganti malam. Candra masih bertahan di tempat ini. Dirinya bahkan tidak bisa memejamkan matanya. Candra takut jika ketika tidur nanti tiba- tiba bayinya keluar dan tidak ada seorang pun yang tahu.
“Udah tidur aja, Can. Nggak mungkin bayinya keluar sendiri, lagipula kamu baru pembukaan lima. Masih lama,” ucap Bu Maya.
__ADS_1
“Tapi, Ma…”
“Tidur aja, Mama yang tunggu di sini. Kalo kamu nggak tidur malah nanti kamu kecapekan.”
“Tapi Candra nggak bisa tidur.”
“Mau Mama telpon Juno?” tanya Bu Maya.
Candra mengangguk setuju. Lalu Bu Maya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Seharian ini Juno masih belum bisa dihubungi. Chat yang dikirim Bu Maya maupun Bu Felin belum dibaca oleh pria itu.
“Halo, Ma?” sapa suara di seberang sana.
“Kamu kemana aja sih, Jun?” tanya Bu Maya geram.
Sementara dari seberang sana Juno mengernyitkan dahi. Memang seharian ini pria itu sangat sibuk menemui banyak kolega dan ada beberapa acara. Hanya pagi tadi Juno sempat mengirim pesan pada Candra, tapi tidak ada balasan dari istrinya itu.
“Maaf, Ma. Seharian ini Juno banyak acara. Ada apa, Ma? Candra kemana? Dia nggak baca chat Juno pagi tadi.”
“Istri kamu di rumah sakit. Udah pembukaan lima, tapi kayaknya sih masih lama. Tadi kata bidannya juga si Candra partus lama,” jelas Bu Maya.
“Hah? Mama jangan nge- prank Juno dong. Tanggalnya masih lama lho,” ucap Juno masih belum percaya.
“Kalau nggak percaya ngomong sendiri sama istri kamu,” ucap Bu Maya.
Bu Maya memberikan ponselnya kepada Candra yang daritadi hanya mendengarkan obrolan sang Mama bersama dengan Juno. Candra mengernyitkan dahi melihat ekspresi kesal di wajah Bu Maya. Wanita itu pun menerima ponsel dari Bu Maya dan segera menempelkan benda pipih itu di telinga kirinya.
“Halo, Mas Juno?” sapa Candra.
“Sayang, kamu beneran di rumah sakit? Sejak kapan? Kenapa nggak kabarin aku?” tanya Juno bertubi- tubi.
“Pagi tadi pulang dari gere… Akh…”
Candra tidak melanjutkan ucapannya, dia kembali merasakan kontraksi lagi. Sementara dari seberang sana, sayup- sayup telinga Candra mendengar ucapan Juno.
“Aku pulang sekarang. Bayinya jangan boleh keluar dulu!”
...👠👠👠...
__ADS_1